
"Nanti kamu mampir ya, mama mau masak sesuatu buat kamu" Asri memulai pembicaraan.
"Maaf ma, sepertinya aku tidak bisa karena papa sudah menungguku di rumah" papanya Adel sudah menghubunginya sejak ia sibuk fitting baju.
"Atau mama mau mampir?" ucap Adel kemudian.
Asri tersenyum lebar mendengar ajakan Adel. Ia lalu mengangguk "Baiklah, mama sama Nao nanti mampir" Ia lalu mengelus lembut samping kepala Adel.
Senyum lembut terpancar dari wajah Adel. Mungkin karena sudah lama sekali ia tidak merasakan kasih sayang seorang ibu. Ditambah lagi, Asri begitu baik padanya.
"Nao, kamu dengar kan? Nanti kita mampir ke rumah Adel dulu" ucap Asri pada Nao.
"Dengar ma" Nao menyahuti seraya fokus mengemudi.
Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai di rumah Adel. Terlihat Hendra sudah menunggu kedatangan mereka di teras karena sebelumnya Adel telah mengirim pesan padanya kalau Nao dan Asri akan mampir.
Adel berlari kecil memeluk papanya usai turun dari mobil. Kemudian diikuti Asri yang bersalaman dengan Hendra.
"Hendra, apa kabar?" ucap Asri.
"Aku baik. Bagaimana denganmu dan Bram?" Hendra berbalik tanya.
"Baik, ia sedang ke luar kota" jawab Asri. Hendra hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia lalu menatap calon menantunya.
Nao tersenyum kaku mendapati dirinya ditatap papanya Adel. Ia lalu menyodorkan tangannya hendak bersalaman dengan Hendra "Om"
Hendra tersenyum bahagia seraya bersalaman dengan Nao "Makin tampan saja kamu nak"
Ucapan Hendra membuat Nao sedikit sungkan. Sedangkan Adel langsung memutar bola matanya malas mendengar papanya memuji Nao.
"Masuklah" ajak Hendra. Adel, Nao, dan juga Asri berjalan mengekori Hendra masuk ke dalam rumah.
Mereka duduk di ruang tamu. Adel langsung ke dapur untuk menyiapkan camilan dan juga minuman.
"Kalian, bagaimana bisa bersama-sama?" tanya Hendra.
"Oh, itu, tadi tidak sengaja bertemu di butik" Asri mengambil bantal sofa yang ada di sampingnya.
"Butik? Apa fitting baju untuk pertunangan Nao dan Adel?" ucapan Hendra membuat Nao berdeham.
Asri sedikit tertawa "Apakah bisa kita percepat saja?" Hendra ikut tertawa mendengar candaan Asri.
"Aku mau ke acara pernikahan temannya Bram. Kalau Adel, katanya ia juga menghadiri acara pernikahan. Apakah ia belum bercerita padamu?" Asri menyilangkan kakinya.
Hendra menggelengkan kepalanya. Terlihat Adel membawa nampan berisi sepiring camilan dan juga 4 gelas jus mangga.
Dengan hati-hati Adel menaruh nampan itu. Asri memperhatikan dengan senang melihat calon menantunya itu bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
"Silakan diminum pa, ma, Nao" ucap Adel.
"Terima kasih Adel, kamu jadi repot-repot" sahut Asri.
__ADS_1
"Nggak papa kok ma" Adel mengangguk sopan.
"Beruntung sekali kamu nak, punya calon istri seperti Adel" Asri berkata lirih pada Nao.
Nao menatap mamanya datar "Apaan sih ma"
Asri menghela nafas "Setidaknya ucapkan terima kasih padanya"
Nao berdeham "Makasih"
Adel menoleh mendengar ucapan Nao. Ia tersenyum tipis lalu mengangguk sekilas.
"Sini nak" Hendra menepuk sofa di sampingnya. Adel berjalan menuju Hendra dan duduk di sana.
"Ada apa pa?" tanya Adel kemudian.
"Kamu mau ke acara pernikahan siapa?"
"Kakaknya temanku pa" jawab Adel.
"Dita?" Hendra sudah tahu kalau Dita punya seorang kakak.
"Bukan, teman lesku. Papa tidak tahu" Adel menatap lantai. Hendra hanya manggut-manggut. Sementara Asri dan Nao hanya mendengarkan saja.
Asri menyeruput jus mangga. Ia lalu meletakkan gelas itu kembali "Sebenarnya aku ingin mengajak Adel besok, tapi karena ia sudah ada acara sendiri ya sudahlah"
"Em, om.." panggil Nao.
"Toilet di mana ya om?"
Hendra terkekeh kecil "Adel, kamu antar Nao"
Adel berdiri. Ia menatap datar pada Nao. Ia lalu berjalan menuju toilet berada. Nao mengikuti ke mana perginya Adel.
Dalam perjalan ke sana, keduanya hanya terdiam.
Adel menunjuk toilet dengan dagunya "Sebelah sana. Ingat kan baliknya?"
"Iya ingat. Makasih"
"Hm" Adel kembali ke ruang tamu.
Cukup lama mereka menunggu Nao di ruang tamu. Adel celingukan mencari keberadaan Nao.
"Pa, ma, aku permisi sebentar ya" Asri dan Hendra mengangguk bersamaan. Mereka lanjut berbincang ringan.
Adel kembali ke toilet di mana tadi ia mengantar Nao. Ia mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam toilet.
Ia mengetuk lagi pintu itu seraya menyebut nama Nao tapi tetap saja tak ada jawaban darinya.
Adel berdecak. Ia lalu membuka pintu itu dan ternyata di dalam sana tidak ada siapapun.
__ADS_1
"Kemana sih dia?" gumamnya. Ia mengambil ponsel di sakunya hendak menelepon Nao. Dalam dering kedua, Nao mengangkat teleponnya.
"Gue di belakang lo" ucap Nao dari belakang punggung Adel membuat Adel terkejut dan hampir terpeleset.
Nao dengan sigap segera memegangi tubuh Adel agar tidak terjatuh. Jarak di antara keduanya menjadi dekat. Adel menatap wajah tampan Nao. Tiba-tiba saja desiran aneh melewati hatinya.
"Hati-hati ogeb" ucap Nao kemudian. Desiran aneh itu seketika hilang usai Nao mengucapkan kalimat itu.
Adel menoleh ke samping. Ia berdecih seraya mematikan sambungan telepon "Lepasin, modus lo jadi cowok"
Nao refleks melepas tangannya usai dikatai modus oleh Adel "Bukannya makasih malah ngatain gue modus"
Adel berdeham "Makasih" ia lalu berjalan mendahului Nao.
Nao mengejar Adel "Lo ngapain nyamperin gue? Perasaan gue udah bilang kalau gue ingat jalannya. Lo kangen sama gue?"
Adel memutar bola matanya jengah. Ia menatap risih pada Nao "Apaan sih, geer banget jadi orang. Jangan kepedean. Orang mama lo udah nyariin" sebenarnya Asri tidak mencarinya, namun entahlah, mungkin Adel khawatir karena Nao cukup lama berada di toilet.
"Oh. Udah mau balik kayaknya"
Adel hanya manggut-manggut. Sampainya di ruang tamu, Asri masih terlihat asyik berbincang dengan Hendra. Adel dan Nao duduk kembali di tempat semula.
Hingga akhirnya Asri berpamitan pada Hendra karena hari sudah malam.
"Terima kasih ya. Sudah tidak sabar berbesan denganmu" ucap Asri di ambang pintu pada Hendra.
"Sama-sama. Aku juga sudah tidak sabar. Bagaimana kalau kita percepat saja?" Hendra tertawa kecil.
"Pa" protes Adel.
"Papa bercanda sayang. Kalian cepatlah lulus sekolah biar segera tunangan" Hendra menatap Adel dan Nao bergantian. Nao hanya merespon dengan senyum kakunya.
"Pamit dulu om, makasih" Nao kembali bersalaman dengan calon mertuanya.
Hendra mengangguk pelan sambil tersenyum "Sama-sama, kapan-kapan mampir lagi ya"
"Baik om" Nao tersenyum tipis.
"Loh, kamu nggak pamitan sama Adel?" perintah Asri.
Nao menatap malas pada mamanya. Namun Asri justru memberi tanda agar Nao berpamitan juga dengan Adel.
Nao berdeham. Ia paksa tersenyum lebar "Thanks Adel, gue sama mama pamit dulu" ia menyodorkan tangannya hendak mengajak Adel bersalaman.
Adel menatap tangan Nao. Ia lalu menatap Asri dan juga papanya yang tersenyum senang melihat adegan itu.
Dengan senyum yang juga terpaksa, Adel menjabat tangan Nao "Sama-sama, hati-hati pulangnya" Adel buru-buru melepas tangannya. Asri dan Hendra terkekeh melihat tingkah anak-anak mereka.
"Ya sudah kita pulang dulu" pamit Asri lagi. Ia lalu berjalan menuju mobilnya.
"Mari om" Nao mengikuti mamanya. Keduanya lalu memasuki mobil. Adel dan Hendra melambaikan tangannya dan dibalas bunyi klakson oleh Nao.
__ADS_1
***