Canda Kita

Canda Kita
Karena Gaun


__ADS_3

Tinggal tersisa 2 gaun yang belum dicoba oleh Adel. Setelah mencoba beberapa gaun, belum ada yang membuat Nao dan Asri merasa sesuai untuk Adel.


Tirai kembali terbuka. Menampilkan Adel dengan balutan gaun warna biru pastel dengan panjang selutut. Adel terlihat tampak luwes dan cocok dengan gaun yang dipakainya kali ini.


Asri begitu kagum melihat betapa cantiknya calon menantunya. Kali ini ia tersenyum puas karena gaun itu sungguh sesuai untuk Adel.


Nao sendiri bergeming. Ia hanya menatap Adel. Ia tatap dari ujung kaki hingga ujung kepala. Keduanya saling menatap. Desiran aneh itu kembali muncul di hatinya.


Asri menepuk lengan Nao "Yang ini paling cocok sama Adel" ia kemudian menunjuk gaun yang dikenakan Adel.


Nao menoleh sekilas. Pandangannya kembali pada Adel "Itu aja" ia lalu berdiri hendak beranjak keluar dari ruangan.


"Mau ke mana?" Asri menahan lengan Nao.


"Kan udah selesai. Udah dapat gaun yang cocok kan ma?" sahut Nao.


Asri menggelengkan kepalanya "Mama belum. Giliran kamu sama Adel yang bantuin mama"


Nao menaikkan sebelah alisnya "Tapi ma.."


Asri mengangkat jari telunjuknya "Eits, tidak ada tapi-tapian"


Nao hanya bisa menghela nafas. Ia kembali duduk di sofa. Ia lalu melipat tangannya.


"Adel sayang, kamu ganti baju dulu, kita ambil yang itu. Kamu nanti bantuin mama pilih gaun ya" ucap Asri kemudian pada Adel. Adel hanya bisa membalasnya dengan tersenyum kaku.


Tirai kembali tertutup. Kali ini giliran Asri yang berjalan menuju ruang ganti. Sampainya di dalam sana, terlihat Adel sudah mengenakan kembali seragam sekolahnya.


Asri tersenyum lembut. Ia lalu merangkul Adel "Kamu duduk di sofa sama Nao ya. Maaf mama harus merepotkanmu"


Adel kembali tersenyum kaku "Iya ma"


Adel berjalan menuju Nao berada. Ia lalu duduk sedikit berjauhan dengan Nao. Nao sendiri acuh akan kehadiran Adel. Ia memilih membuka instagram dari pada mengobrol dengan Adel.


Adel sendiri asik menatap sekitar sembari mengetuk-ngetukkan jari-jemarinya pada kakinya.


"Nanti kalau mama udah nyobain gaunnya, langsung bilang aja bagus" ucap Nao dengan pandangannya tetap pada ponsel.


Adel menoleh. Ia kemudian menatap layar ponsel Nao. Terlihat Nao tengah memberi like pada postingan akun sepak bola kesukaannya.


Nao melirik sekilas "Nggak usah ngintip" ia lalu memiringkan layar ponselnya agar tidak terlihat oleh Adel.

__ADS_1


"Siapa juga yang ngintip" gumamnya lirih.


"Lo lah" rupanya Nao menyahuti.


Adel membuang muka "Huh"


Perdebatan mereka usai saat Asri muncul dari balik tirai.


"Gimana?" tanya Asri seraya bergaya bak model.


Nao mengacungkan kedua jempolnya "Bagus ma, cocok sama mama" ia lalu memperlihatkan deretan giginya.


"Menurutmu bagaimana Adel?" tanya Asri lagi kali ini dilontarkan pada Adel yang masih diam.


"Cepetan bilang bagus" ucap Nao dengan suara lirih.


Adel tersenyum miring "Em...menurutku gaun itu membuat mama terlihat lebih tua"


Nao menoleh menatap tajam pada Adel "Lo"


Adel menjulurkan lidahnya seraya mengangkat alisnya. Ia kembali menatap sang calon mertua.


"Oh ya? Pelayan cepat tutup tirainya, saya ingin mencoba yang lainnya" ucap Asri kemudian. Dengan cepat tirai kembali tertutup.


Nao mendengus kesal pada Adel saat mamanya tengah mencoba gaun dibalik tirai sana. Ia memilih berdiri dan beranjak saja dari sana. Ia keluar dari sana dengan menutup pintu sedikit kasar karena rasa kesalnya.


"Lo masuk sana, temani teman lo yang aneh itu" ucap Nao pada Dita. Sampainya di luar butik, ia berjalan cepat menuju mobilnya.


Dita menatap heran pada Nao "Kenapa dia? Kenapa mukanya kesal sekali?" Ia kemudian berjalan menuju ruang ganti tempat Adel berada.


"Lo udah?" tanya Dita seraya berjalan menuju sofa kemudian duduk di sana.


Adel menoleh "Udah, lagi nunggu mamanya Nao"


"Kenapa dia?" tanya Dita kemudian.


Adel menjawab pertanyaan Dita dengan tawanya.


Dita menatap heran "Kok lo malah ketawa?"


"Sorry, sorry, habisnya lucu juga lihat dia kesal" jawab Adel dengan tawanya.

__ADS_1


"Ehem, ehem. Cie...Adel, uhuy...Nao dibilang lucu" Dita menyenggol lengan Adel.


Adel menghentikan tawanya. Ia menatap datar pada Dita "Apaan sih lo"


Suara tirai terbuka. Asri terlihat bingung melihat sofa yang tadinya diduduki oleh Nao berubah menjadi Dita.


"Loh? Nao ke mana?" tanyanya kemudian.


Adel dan Dita saling tersenyum kaku usai mendengar pertanyaan dari Asri.


"Dia angkat telepon dari Andi ma" jawab Adel asal. Asri hanya menganggukkan kepalanya.


"Yang ini lebih bagus dan lebih sesuai sama mama kan?" Asri masih saja bertanya soal gaunnya.


"Wah, yang itu cocok sekali buat tante" Dita ikut saja menimbrung.


"Iya ma, yang itu cocok sekali untuk mama" akhirnya pemilihan gaun Asri selesai juga usai Adel berhasil membuat Nao kesal.


Dengan senyum bahagia, Asri segera membayar 2 gaun yang salah satunya milik Adel.


Tiga orang itu keluar dari butik dengan bercanda tawa bersama dari obrolan ringan mereka. Terlihat Nao tengah bersandar pada body mobilnya seraya kembali memainkan ponselnya.


"Pulang sama kita aja" ajak Asri kemudian.


"Nggak usah ma, aku udah pesan taksi tadi" jawab Adel.


Dita mendorong tubuh Adel "Adel saja tante, nanti taksinya biar aku saja yang naik, kebetulan kita lawan arah"


Adel menatap tajam pada Dita namun Dita justru mengacuhkannya.


"Tidak apa, kamu ikut saja" Asri menyahuti ucapan Dita.


"Nggak usah tante, nggak papa kok" tolak Dita.


"Ya sudah. Kamu hati-hati ya, makasih sudah menemani Adel dan membantu tante" Asri tersenyum manis pada Dita.


"Iya tante, sama-sama"


Nao hanya memperhatikan dan mendengarkan percakpan mereka. Usai Asri berpamitan pada Dita, ia memilih untuk masuk ke dalam mobil.


Asri lalu masuk ke dalam mobil diikuti Adel. Mau tidak mau Adel terpaksa mengikuti kemauan Asri.

__ADS_1


***


__ADS_2