
Matahari sudah tak terlihat lagi. Hembusan angin juga semakin malam terasa semakin kencang. Adel dan Nao memutuskan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.
Sepanjang perjalanan tak ada percakapan yang terjadi di antara keduanya. Adel diam termenung menatap keluar kaca jendela. Sedangkan Nao hanya fokus mengemudi.
Sampainya di pelataran rumah Adel, ia turun dengan menundukkan kepalanya. Hatinya pasti masih sakit dan belum terima dengan kejadian yang baru saja menimpanya.
Nao hanya bisa melihat gadis itu dalam diam hingga gadis itu memasuki pintu utama. Usai memastikan bahwa Adel sudah berada di rumahnya, Nao menekan klakson mobilnya sekilas lalu melajukan mobilnya menuju rumah.
Helaan nafas berat Nao hembuskan di sepanjang perjalanan. Mungkinkah ia terpikirkan akan Adel? Mungkin saja bukan.
Suara pintu membuat kedua orang tuanya yang tengah asyik menonton sinetron menoleh menatap ke arah pintu.
"Baru pulang nak?" tanya Bram. Ia sedikit tersenyum senang.
"Iya pa" Nao menjawab singkat seraya duduk di samping sang mama.
"Gimana tadi jalan-jalannya sama Adel?" tanya Asri kemudian. Rupanya Bram sudah bercerita dengan Asri tentang kejadian di bandara tadi siang.
"Aman" Nao menjawab begitu singkat membuat Bram dan Asri saling bertukar pandang karena heran kenapa raut muka anaknya terlihat tidak senang.
"Aku ke kamar dulu pa, ma" pamit Nao kemudian. Ia berjalan menuju kamarnya.
"Papa serius dengan yang sudah papa ceritakan? Tapi kenapa Nao terlihat tidak senang?" Asri heran.
Bram hanya menaikkan bahunya sebagai jawaban bahwa dirinya juga sama bingungnya dengan Asri.
"Ada apa ya pa?" tanya Asri lagi.
"Sudahlah ma, biasa anak muda" sahut Bram lalu menekan tombol pada remot untuk mengganti saluran TV.
***
Hari berikutnya. Hari sekolah seperti biasa. Masih ingat kan kalau Nao dan Adel sudah tidak berangkat ke sekolah bersama lagi dan di sekolah pun mereka berdua memilih acuh dan tidak peduli satu sama lain.
Hari ini kelas Adel ada praktikum fisika di mana para murid harus mengenakan jas lab mereka.
Adel terlihat membuka tasnya untuk mengambil jas lab miliknya. Ia mencari-cari di setiap bagian tasnya namun ternyata ia lupa tidak membawanya. Mungkin karena ia sedang terpikirkan oleh masalah yang baru saja menimpanya.
"Mampus gue nggak bawa" ucap Adel kemudian.
"Serius lo nggak bawa?" sahut Dita. Adel hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
"Bisa abis lo dimarahi bu Reni, Del" beritahu Dita. Rupanya guru fisika mereka terkenal killer.
"Terus gue harus gimana?" Adel mulai terlihat panik.
__ADS_1
"Pinjem kelas lain" Dita memberikan usulnya.
Andi yang melewati meja mereka hendak ke laboratorium bersama teman sebangkunya, samar-samar mendengar ucapan Dita "Pinjem apaan?"
Adel dan Dita menoleh bersamaan "Jas lab" jawab Dita singkat.
"Oh" Andi menimpali dengan santai. Ia kemudian menyuruh teman sebangkunya untuk pergi ke laboratorium terlebih dahulu.
"Oh doang lagi, kasih solusi kek" Dita memutar bola matanya malas.
"Ya ini gue mau kasih solusi. Lo, Adel, pinjem aja ke Nao. Kelas dia hari ini ada fisika juga" beri saran Andi.
"Lo gila apa, nggak mungkin lah gue pinjem dia" tolak Adel.
"Ye...lebih gila mana lo kena marah bu Reni? Kalau gue mah ogah, mending gue pinjem Nao dari pada kena marah bu Reni" sahut Andi. Ia bergidik ngeri.
"Dahh, gue duluan. Btw kelas Nao lagi olahraga, sana samperin" sambung Andi. Ia hendak berjalan meninggalkan Adel dan Dita namun bajunya ditarik oleh Adel.
Langkah Andi terhenti, ia menoleh "Apa lagi ibu Adel yang paling cantik se SMA Helius?"
Adel cengengesan "Bantuin gue ya? Please...." ia memohon bagai anak kucing yang imut.
Andi menghela nafas "Yaudah ayo"
Adel tersenyum senang "Beneran? Entar gue traktir deh, makasih Andi"
Ketiganya lalu pergi ke lapangan karena kelas Nao sedang ada pelajaran olahraga.
Mereka mengedarkan pandangan mereka guna mencari keberadaan Nao.
Andi menunjuk ke area lapangan basket "Itu Nao" pandangan mata Adel dan Dita mengikuti ke mana jari telunjuk Andi mengarahkan.
Kemudian ketiganya berjalan mendekati Nao. Namun belum sampai di dekat Nao, langkah Adel terhenti. Ia mendorong tubuh Andi pelan "Lo aja deh yang pinjemin, malu gue, takut ketahuan"
"Nggak, nggak, nggak, nggak bisa. Gue udah ngalah anterin lo ke sini. Lo harus pinjem sendiri ke Nao" tolak Andi.
"Please Andi, please....hum? Bantuin gue yah" Adel kembali memohon.
Di sisi lain ketika ketiganya sedang sibuk berdebat. Malvin yang sedang menunggu giliran untuk dinilai oleh guru olahraga, menyadari akan kehadiran mereka bertiga.
Malvin memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan. Hingga Nao yang sudah selesai dinilai, duduk di samping Malvin.
"Adel tuh sama Andi. Nggak tahu tuh mereka debat apaan dari tadi" Malvin menunjuk ketiga orang itu dengan dagunya.
Mata Nao mengikuti arahan Malvin dan memang benar bahwa sahabat dan calon istrinya tengah berdebat kecil. Apalagi sikap Adel yang terlihat lucu dengan tangannya yang memohon pada Andi. Hal itu membuat ujung bibir Nao sedikit naik.
__ADS_1
"Kenapa mereka?" ucap Nao kemudian
"Samperin gih, lo kan udah dinilai" beri saran Malvin.
"Gila lo, bisa tahu nanti satu sekolah" Nao lalu menyambar air mineral yang ada di sampingnya.
"Telepon aja"
"Ponsel gue di kelas" Nao menutup botol air mineral itu.
"Yhaa..." Malvin berdiri karena gilirannya untuk dinilai telah tiba.
Nao menghela nafas sebelum dirinya beranjak. Ia meminta ijin pada guru olahraga kalau dirinya hendak ke toilet.
Padahal tadi ia sendiri yang menolak usulan Malvin, namun entah mengapa ia justru mengikuti saran Malvin untuk mendekati mereka bertiga.
Saat Andi dan Adel tengah berdebat, Dita melongo menatap kehadiran seseorang "Nao guys" ia menepuk kecil bahu Adel.
"Apaan sih Dita" Adel kembali berdebat dengan Andi. Rupanya keduanya tidak menyadari akan kehadiran Nao.
"Ada Nao" ucap Dita lagi. Ia menaikkan volume suaranya membuat kedua orang yang tengah asyik berdebat, terdiam dan menloeh bersamaan menatap Nao.
"Eh, Nao, halo bro" Andi mengajak Nao untuk tos dan dibalas Nao.
Sementara Adel di sana terlihat begitu kikuk. Ia berdeham untuk menutupi rasa malunya karena perdebatan kecilnya dengan Andi.
Nao menatap Adel. Ia fokus menatap pada matanya yang terlihat masih memikirkan masalah kemarin. Ia beralih menatap Andi "Ada apa?"
"Mau pinjam jas lab lo" jawab Andi.
"Lo? Lo kan udah bawa" Nao melihat tangan kiri Andi yang sudah membawa jas lab.
"Bukan gue ogeb, tuh" Andi menunjuk Adel dengan dagu dan lirikan matanya.
Sementara Adel memilih mengedarkan pandangannya pada hal sekitar. Mungkin Adel merasa malu untuk mengatakannya pada Nao.
Nao kembali menatap Adel. Di sana respon Adel hanyalah cengengesan lalu kembali mengedarkan pandangannya pada sekitar.
"Yaudah ayo" ajak Nao. Ia lalu melangkah menuju kelasnya.
Mata Adel membulat. Ia terkejut dengan jawaban Nao. Ia pikir Nao tidak akan meminjamkan jas lab miliknya.
"Asik. Sana Del ikuti den Nao ke kelasnya" sahut Andi sedikit menggoda Adel.
"Temenin gue yah Dit, Andi" untuk kesekian kali Adel kembali memohon pada Andi dan kali ini ia menarik-narik lengan Dita.
__ADS_1
"Nggak, nggak, nggak. Dit ayo ke lab, keburu bu Reni datang" ajak Andi pada Dita. Ia memberikan kode pada Dita dengan kedua matanya.
Dita berdeham. Ia melepas cekalan Adel "Oke Andi" Dita menurut saja dengan ajakan Andi dan pergi meninggalkan Adel.