Canda Kita

Canda Kita
Mampir lagi


__ADS_3

Entah kenapa Nao rela membuang waktunya untuk Adel. Ia benar-benar mengikuti les Adel kali ini sampai selesai.


Nao merapikan alat tulisnya ke dalam tas "Guru les lo enak juga ngajarnya"


Putaran bola mata malas kembali Adel lakukan "Terus lo mau pindah tempat les ke sini?"


Nao tersenyum miring "Sepertinya seru juga gangguin mantan lo ditambah lagi gue nggak ada tempat les"


Adel menatap heran "Cowok aneh" ia lalu berdiri dan meninggalkan tempat duduknya.


Usai merapikan alat tulisnya, Nao mempercepat langkahnya untuk mengejar Adel yang sudah berjalan lebih dulu.


Mereka berdua berjalan berdampingan "Gue daftar les bentar, lo tunggu di mobil" Nao menyodorkan kunci mobilnya pada Adel.


Adel menatap kunci mobil itu "Lo serius beneran mau les di sini cuma buat gangguin Daniel?"


Nao menaik turunkan alisnya "Iya, kenapa? Ada masalah?"


Adel berdecak kesal "Lo nggak lihat fans lo natap gue ngeri banget kayak gitu? Kalau lo malah les di sini sama gue yang ada hidup gue dalam bahaya"


Nao menjitak dahi Adel. Ia lalu menghela nafas "Justru itu, gue juga lindungin lo dari mereka"


Adel sibuk mengelus dahinya. Saat dirinya mendengar ucapan Nao yang ingin melindunginya, ada desiran aneh mampir sebentar ke dalam hatinya dan berhasil membuat pipinya cukup panas.


Adel mengibaskan tangannya sebentar di depan wajahnya. Ia berdeham untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ia kemudian menyambar kunci mobil dari tangan Nao "Duluan" Adel lalu berjalan cepat dan meninggalkan Nao di sana.


Nao tertawa kecil melihat tingkah Adel. Mungkinkah tingakah Adel terlihat lucu baginya?


Nao benar-benar mendaftarkan dirinya untuk mengikuti les di tempat yang sama dengan Adel.


Sementara itu, Adel yang baru saja duduk di kursi penumpang, rupanya kembali mengibaskan tangannya di depan wajah. Sungguh aneh ucapan yang beberapa saat diucapkan Nao terngiang-ngiang di kepalanya.


"Aduh...sadar del, sadar. Ini kenapa panas elah, acnya udah nyala kan?" gumam Adel. Ia melihat tanda AC di dalam mobil itu yang pada kenyataannya berfungsi dengan baik.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, pintu kemudi terbuka. Rupanya Nao sudah selesai dengan urusannya. Ia melirik Adel sekilas yang menyibukkan diri dengan membaca novel.


Adel terlihat begitu fokus dan tenang saat membaca. Atau ini hanyalah sikap pura-puranya untuk menutupi rasa gugup yang masih menyelimutinya.


Nao lalu memakai seatbeltnya dan langsung saja menancapkan gas. Tak lupa ia menyalakan musik untuk mengusir keheningan.


Mobil Nao berhenti saat berada di lampu merah. Nao lalu menoleh menatap Adel yang masih saja sibuk membaca.


"Laper nggak?" tanya Nao kemudian.


Adel tak segera menanggapi ucapan Nao. Entahlah pikirannya sedang ada di mana sehingga ia tidak fokus.


"Del, lo laper enggak?" tegas Nao sekali lagi yang berhasil membuat Adel tersadar.


Adel menoleh "Apa? Gimana?"


Nao menghela nafas heran "Nggak ada" lampu berwarna hijau. Nao kembali melajukan mobilnya.


"Aish, nggak jelas lo" sahut Adel.


Tanpa persetujuan dari Adel, Nao menepikan mobilnya di sebuah rumah makan dengan gaya bangunan rumah jawa yang sudah tua.


Adel mengedarkan pandangannya pada sekitar. Ia kemudian menatap Nao dengan tatapan tanya dan heran "Ngapain? Rumah siapa ini?"


Nao melepas seatbeltnya "Makan"


"Ha? Ini emang tempat makan?" Adel rupanya heran karena rumah makan itu tidak terlihat seperti rumah makan pada umumnya. Ditambah lagi hanya ada beberapa kendaraan yang terparkir rapi di sekitar sana.


Nao memegang gagang pintu mobil "Ikut enggak?"


"Gue?" Adel menunjuk dirinya.


Nao kembali menghela nafas "Ya iya lah. Emang selain lo, ada siapa lagi di sini?"

__ADS_1


"Ini beneran tempat makan?" tanya Adel. Ia masih ragu.


"Kalau lo penasaran, lo ikut aja" Nao kemudian membuka pintu mobil dan keluar dari sana.


Adel buru-buru melepas seatbeltnya dan mengikuti Nao. Mereka kembali berjalan berdampingan.


Mata Adel menebar kemana-mana menatap setiap sudut tempat itu. Ini pertama kali baginya datang ke tempat unik seperti ini. Tak lupa ia mengeluarkan ponselnya guna mengambil beberapa gambar.


Nao yang melihat hal itu menggelengkan kepalanya "Dasar, cewek aneh" ucapnya lirih.


Tak disangka sampainya di pintu masuk, Adel kembali dibuat terkesan. Rupanya usai berjalan di lorong, barulah tempat makan itu berada.


Terlihat tempat duduk khas jawa pada jaman dulu tersedia. Ditambah dengan dekorasi yang unik membuat Adel kembali terkesan. Ponselnya masih sibuk mengambil gambar.


Di sana juga ada pelanggan lain. Nao dan Adel berjalan menuju meja yang masih kosong.


Nao lalu duduk di sana "Udah kagumnya?"


Adel menyengir. Ia lalu menganggukkan kepalanya.


"Tahu dari mana lo ada tempat begini? Perasaan di instagram gue nggak pernah lihat" ucap Adel.


Nao tersenyum tipis "Dari mama. Dulu waktu kecil nggak sengaja mampir ke sini"


Adel hanya manggut-manggut sembari dirinya sibuk menatap sekitar. Tak lama kemudian seorang pelayan menghampiri meja mereka.


Pelayan itu menyerahkan buku menu dan dibaca oleh Adel. Adel membolak-balikkan buku menu itu namun dirinya justru bingung ingin memesan makanan apa.


Nao menatap Adel "Lo mau makan apa?"


Adel masih fokus dengan buku menu "Em........nggak tahu" Adel menyengir.


Nao tersenyum tipis mendengar ucapan Adel. Ia beralih mengambil buku menu yang ada dihadapan Adel. Ia lalu memberitahu pelayan makanan apa saja yang dipesannya.

__ADS_1


Hal itu wajar bagi Nao yang sudah hafal dengan menu yang ada di sana karena ia sudah cukup sering ke tempat makan itu. Bahkan pemiliknya mengenal Nao dan juga orang tuanya.


***


__ADS_2