Canda Kita

Canda Kita
Apa Itu Sleep Call?


__ADS_3

Adel tengah menggosok rambutnya usai selesai mandi dan keramas. Ia ambil ponselnya di atas nakas. Ia memeriksa jadwal pelajaran untuk hari esok.


Tidak ada tugas ataupun pekerjaan rumah. Ia bisa bersantai sembari memainkan ponsel, batinnya. Ia kemudian duduk di kursi rias, mengambil hair dryer guna mengeringkan rambutnya.


Ponselnya bergetar. Ia lihat sekilas ponselnya. Ternyata ada pesan dari Nao. Di sana tertulis kalau Nao ingin melakukan panggilan video dengan Adel.


"Ada apa dengannya? Benar-benar semakin aneh" gumam Adel. Ia abaikan saja pesan dari Nao.


Ponselnya kembali bergetar. Kali ini getarannya cukup lama karena ternyata Nao meneleponnya dengan panggilan video.


Adel berdecak kesal. Kegiatannya dalam mengeringkan rambut harus terganggu karena Nao. Ia matikan hair dryer dan menyambar ponselnya. Terlihat di seberang sana wajah tampan Nao memenuhi layar ponsel Adel.


"Ada apa?" ucap Adel kemudian.


"Wih diangkat juga, aku kira kamu nggak mau angkat teleponnya. Lagi apa?" ujar Nao di seberang sana.


Adel hanya berekspresi datar "Gue lagi vc sama lo, ogeb"


Nao berdecih "Lho kan panggilannya sudah ganti, bisa dong kabulin permintaanku. Apa susahnya? Coba deh sekarang kamu tanya aku"


Adel menghela nafas kesal. Ia memutar bola matanya "Oke fine, I'll try it. Tapi besok pas di sekolah gue nggak mau"


Nao terkekeh kecil "Nggak bisa dong, mulai sekarang kamu harus biasain"


"Bawel juga ya lo. Oke, oke, gue coba" Adel berdeham "Hai kamu, kamu yang di sana, kamu lagi apa?" Adel pura-pura muntah ke samping.


Nao justru tertawa mendengar tuturan Adel yang lucu "Nggak gitu Adel"


"Lha kan katanya suruh panggil lo pakai kata ' kamu', tuh sudah malah protes" Adel berjalan menuju kasurnya.


"Iya, iya, biasain ya. Aku temani kamu tidur ya Del" ucap Nao.


Adel mengkerutkan keningnya "Temenin gue tidur? Kan lo lagi di rumah lo, lo mau ke sini lagi?"


Nao terkekeh "Boleh emang? Nggak gitu maksudnya Del, ini namanya sleep call, aku temani kamu dari sini. Kamu tidur saja nanti aku temani kamu sampai kamu tertidur"

__ADS_1


Ekspresi Adel berubah heran. Ada-ada saja kegiatan seperti itu, pikirnya.


"Sorry ya, ponsel gue lowbat. Bye" Adel mematikan sambungan panggilan video itu.


Adel kemudian menaruh ponselnya di samping "Dasar aneh. Apaan sleep call, buang-buang waktu"


Gadis itu memilih tidur saja. Hari ini sikap Nao benar-benar aneh. Adel merasa Nao bersikap berlebihan dan tidak seperti biasanya.


***


Hari sekolah seperti biasanya. Hari sekolah Adel berjalan lancar seperti biasanya. Ia tidak mendapatkan gangguan apapun dari fansnya Nao. Ternyata mayoritas mengakui Adel kalau dirinya cocok dengan Nao.


Kehidupan sekolah Adel juga tidak banyak yang berubah. Hanya saja banyak yang mengetahuinya dan ingin berteman baik dengannya. Ternyata ucapan Nao waktu itu terbukti benar.


Jam istirahat tiba. Tadi pagi Nao dan Adel tidak bertemu karena Nao harus mengantar mamanya sehingga Adel berangkat ke sekolah dengan naik bus.


Adel menutup bukunya "Akhirnya istirahat juga. Laper banget gue"


Dita berdiri "Yaudah ayo ke kantin"


Adel mengedarkan pandangannya "Yah penuh semua Dit, gara-gara bu Mei tadi kelamaan ceramah kita jadi nggak dapat tempat duduk"


Dita ikut mengedarkan pandangannya. Ia tersenyum tipis saat mendapati ada kursi yang bisa mereka tempati "Masih ada Del, tuh di sana"


Dita menunjuk tempat duduk itu dengan dagunya. Adel ikuti arahan dari Dita dan ternyata tempat yang dimaksud Dita adalah tempat duduknya para pangeran SMA Helius, yaitu Nao dan sahabatnya.


"Kita beli jajan saja terus duduk di taman yah Dit" pinta Adel.


"Hei, lo kan tunangannya ngapain malu gabung sama dia, lagian satu sekolah sudah pada tahu dan nggak ada yang berani apa-apain lo kan" tolak Dita dengan penjelasan panjang lebar.


"Iya tapi, tapi gue masih belum terbiasa Dit" sahut Adel.


Sementara itu, Andi yang baru saja selesai memesan makanan dan hendak berjalan menuju Nao berada mendapati Adel dan Dita yang tengah berbincang. Menurutnya hal itu menghalangi murid lain yang akan lewat.


"Kalian ngapain ngobrol di tengah jalan? Kalau mau duduk yaudah ikut gue, gabung sama yang lain" ucap Andi kemudian.

__ADS_1


"Tadi sudah gue ajakin tapi ni anak masih malu-malu Ndi" Dita tertawa kecil seraya menatap Adel.


"Kalau gue ketemu dia, nanti yang ada panggilan 'aku-kamu' kedengeran sama yang lain" ucap Adel dalam hati. Rupanya ia masih belum siap dengan hal itu.


"Yaelah Del, ngapain malu, Nao lho tunangan lo, Ayo ikut gue saja, nggak usah ribet. Ini kalau cewek lain yang gue tawarin, beuh, senang banget tuh orang pasti" ajak Andi.


"Betul tuh Del, kapan lagi bisa semeja sama pangeran SMA Helius" Dita setuju dengan ucapan Andi yang membuat Adel tidak punya pilihan lain selain mengikuti saran Andi dan Dita. Dengan langkah ragu, Adel berjalan di belakang Andi.


"Sorry baru gabung, bu Mei kelewatan ceramahnya" Andi duduk di samping Kevin.


Sementara yang lain menatap kehadiran Adel dan Dita. Adel hanya bisa tersenyum kaku menatap tiga pria itu.


"Oh iya, teman kelas gue, sekaligus tunangan sahabat gue, ikut gabung ya. Kasihan sudah nggak ada tempat" beritahu Andi.


"Wah asyik nih, jarang-jarang kita semeja sama cewek" sahut Kevin menyambut baik kehadiran Adel dan Dita.


Dita tersenyum tipis. Ia kemudian duduk di samping Andi. Sementara Adel masih berdiri di sana dengan senyum kakunya.


Sudut bibir Nao sedikit naik "Kamu nggak mau duduk? Sini duduk di sampingku"


Andi yang tengah meminum es tehnya tersedak. Kevin yang sudah menyendok bakso dan hendak dimasukkan ke dalam mulutnya menaruhnya kembali ke dalam mangkuk.


Malvin sendiri hanya tersenyum tipis. Kalau Dita menoleh menatap Nao dan Adel bergantian. Ia sama terkejutnya dengan yang lain.


Pada akhirnya panggilan baru mereka berdua terdengar di telinga sahabat mereka. Adel masih merasa malu. Ingin rasanya ia kabur dari sana. Dengan langkah kaku, ia terpaksa duduk di samping Nao.


Kevin berdeham "Wah, wah, ini nih, mulai nih uwu-uwuan di depan kita-kita"


"Nggak usah iri kali, makanya ikutin jejak Nao, cari tunangan juga sana" sindir Andi.


"Tunangan kata lo? Yang dekat saja nggak ada gimana mau tunangan" Kevin kembali menyendok bakso.


Andi, Dita, dan Malvin terkekeh bersamaan. Nao justru menatap Adel yang duduk di sampingnya seraya tersenyum.


***

__ADS_1


__ADS_2