
"Eh, bayar dulu yuk" ajak Adel saat semua makanan di depan mereka sudah habis.
"Hm" Dita menganggukkan keplanya. Ia lalu menggandeng lengan Adel.
Adel mengeluarkan uang berwarna biru dari sakunya "Berapa bu?"
"Punya kamu sudah dibayarkan" sahut ibu penjaga kantin seraya tersenyum ramah.
Adel dan Dita saling bertukar pandang karena mereka berdua sama-sama heran dan bingung.
Adel kembali menatap ibu penjaga kantin "Siapa yang bayarin bu?"
"Nak Nao" jawabnya dengan santai.
Dita sontak menutup mulutnya. Adel sendiri langsung menutup matanya begitu ibu penjaga kantin menyebut nama Nao di depan sahabatnya. Astaga, ketahuan Dita, begitulah ucapannya dalam hati.
Dita menggoyang-goyangkan lengan Adel "Del, Nao yang mana? Nao Putra Geofany? Nao yang paling tampan se-SMA Helius?" tanyanya beruntun.
Dita berhenti menggoyangkan lengan Adel "Tunggu. Di sekolah kita yang nama panggilannya Nao kan cuma Nao yang itu"
"Del, lo ada hubungan apa sama Nao?"
Ucapan Dita langsung menarik perhatian teman sekelas mereka yang berada di sana, termasuk Andi. Untung saja mereka hanya sama-samar mendengar kata Nao.
Adel menggenggam lengan Dita "Lo bisa bayar dulu enggak? Nanti gue jelasin" bisiknya.
Dita mengangguk tegas. Ia buru-buru menutup mulutnya seraya menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia berikan uang berwarna hijau pada ibu penjaga kantin lalu menarik lengan Adel agar segera menjauh dari kantin.
"Jam berikutnya Bahasa Indonesia kan? Kata kelas sebelah kosong. Lo harus ikut gue ke taman belakang sekolah" ucap Dita masih dengan menarik lengan Adel.
Adel hanya bisa pasrah. Ia mengikuti langkah Dita yang mengajaknya ke taman belakang sekolah. Tempat yang sepi akan hunian murid karena letaknya yang jauh.
Mereka duduk di kursi begitu tiba di sana. Dita menatap Adel dengan tatapan serius.
"Jelasin semuanya, lo ada hubungan apa sama Nao Putra Geofany" Dita langsung melontarkan rasa penasarannya pada Adel.
Adel menghela nafasnya panjang sebelum menjawab pertanyaan Dita. Ia menatap bunga teratai yang ada di kolam.
"Belum lama ini bokap gue jodohin gue sama Nao"
Dita kembali menutup mulutnya dengan matanya yang membulat sempurna. Ia dibuat sangat terkejut dengan ucapan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Jadi, dengan kata lain, lo...calon is-trinya Nao, yang saat ini lo berarti...tu-na..."
"Belum tunangan. Rencananya setelah lulus" Adel buru-buru menepisnya.
Dita kembali menggoyangkan lengan Adel. Bahkan kali ini lebih histeris dari sebelumnya.
"Kyaa...sahabat gue calon istrinya Nao, Nao Putra Geofany. Aaa...congrats bestie" Dita memeluk Adel dengan perasaan begitu bahagia.
Adel menatap tingkah Dita dengan wajah datar "Kenapa lo bahagia banget? Gue aja pengen batalin perjodohan ini kalau bisa"
"HA?? LO GILA YA?"
"Sadar Del, dia itu Nao, Nao Putra Geofany, pangeran SMA Helius, orang paling tampan di sekolah ini dan di negara ini, dan hampir semua siswi sibuk mencari perhatiannya"
"Tapi lo, dengan jalan mudah melalui perjodohan ini, lo bisa menjadi istri seorang Nao. Lo nggak boleh sia-siain kesempatan ini Del" tutur Dita panjang lebar. Adel hanya terdiam mendengar nasihat sahabatnya.
"Lo jangan bilang siapa-siapa yah. Gue takut sama fansnya Nao" pinta Adel.
Dita merangkul Adel "Lo tenang aja. rahasia lo aman kok sama gue"
"Kalaupun suatu saat rahasia ini terungkap, gue tetap bakal belain lo. Lo bahkan jauh lebih cantik dari fans Nao yang super fanatik itu" ucap Dita membela Adel.
Adel terkekeh singkat "Lo nggak marah?"
Adel menepis lengan Dita "Apa sih calon suami, pacar aja bukan"
"Eyyy...secara tidak langsung lo pacaran sama Nao"
"Ah....senang banget gue" Dita kembali memeluk Adel.
"Thanks ya udah cerita ke gue"
"Makasih juga Dita" sahut Adel. Keduanya menghabiskan jam kosong mereka dengan duduk santai sembari merefresh diri dengan menatap taman yang indah di depan mereka.
***
Andi tengah memainkan ponselnya di dalam kelas. Benar saja apa yang dikatakan Dita, kalau kelas mereka tengah kosong dan tidak ada tugas sama sekali.
Andi mencari kontak Nao. Dikirimnya pesan untuk Nao yang tengah mengikuti pelajaran.
"Cie...Nao, uhuk, uhuk"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Itu loh, di kantin"
Nao tersenyum tipis "Gimana?"
"Sukses dong, sampai temannya kaget banget tahu lo traktir Adel haha"
Nao kembali tersenyum tipis. Malvin yang berada di sebelahnya penasaran kenapa teman sebangkunya itu tengah senyum-senyum sendiri. Ia melirik layar ponsel Nao.
Nao yang mendapati Malvin tengah mengintip layar ponselnya, buru-buru mematikan ponselnya.
"Apa lo? Kepo ya?" Nao menatap datar Malvin.
"Chat sama siapa, sampai lo senyum-senyum gitu?" Malvin bertanya dengan suara lirih.
"Andi"
Malvin ingin tertawa, namun ia tahan agar guru tidak memarahinya "Ngapain lo chat-an sama Andi sampai senyum-senyum gitu kayak chat-an sama cewek"
Nao menatap tajam Malvin. Malvin segera mengalihkan pandangannya pada guru agar tidak berdebat dengan Nao.
***
Pulang sekolah. Edgar diam-diam mendekati kelas Adel. Ia ingin membuktikan kecurigaannya. Ia menunggu Adel di kelas sebelah dengan menyamar duduk bersama beberapa anak kelas itu yang memilih menongkrong terlebih dahulu sebelum pulang.
Edgar menunggu lumayan lama. Sambil celingukan ke pintu kelas Adel, ia sesekali ikut menimbrung obrolan ringan para siswa kelas sebelah.
Dilihatnya orang yang ditunggunya keluar dari kelas sembari mengeluarkan topi yang tadi pagi dipakainya. Edgar beranjak. Ia bergegas mengikuti Adel.
Edgar perhatikan gerak-gerik Adel. Ia pastikan mobil yang dilihatnya adalah mobil Nao. Adel sempat menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum mendekati mobil Nao.
Edgar mengeluarkan ponselnya. Ia rekam pergerakan Adel yang memasuki mobil Nao, meskipun wajahnya tertutup. Ia simpan ponselnya begitu mobil Nao menjauh dari sana.
"Jadi benar, lo sama Nao" guamam Edgar.
"Kenapa dari semua cowok, lo harus dekat sama Nao? Gue nggak suka Del" sambungnya. Ia mengepalkan salah satu tangannya dengan kuat.
***
Kenapa Edgar tidak suka sama Nao ya?
__ADS_1
Akankah Edgar menyebarkan rahasia Adel?