
Sampai di apartemen Nao. Mereka bersamaan memasuki lift menuju unit apartemen Nao berada. Sampainya di sana mereka langsung duduk di sofa.
Kevin menyandarkan badannya pada sofa. Ia kemudian menguap membuat Andi refleks menepuknya sekilas "Belum juga belajar, sudah ngantuk saja lo"
"Habisnya jam segini kan jam-jam tidur siang" sahut Kevin.
"Hei kalian, stop debatnya please. Seriusan dikit kek, mau belajar nih buat UN" Malvin mengeluarkan buku dari dalam tasnya.
Kevin segera menegakkan badannya "Siap" ia hormat pada Malvin.
Andi terkekeh "Yakalik upacara, lo ngapain hormat sama Malvin ckck"
Kevin menampol Andi sekilas "Bac*t lo" ia kembali lagi hormat pada Malvin.
Hari ini mereka hendak belajar pelajaran fisika sesuai vote yang telah mereka lakukan sebelumnya. Mereka saling bekerjasama dan saling berbagi ilmu. Sepertinya belajar kelompok mereka bisa dibilang berjalan lancar.
Ditengah diskusi mereka, Adel berdiri. Ia hendak ke kamar kecil.
Dita menaruh pensilnya "Nao, lo mau kasih kado apaan buat Adel?"
Nao mendongakkan kepalanya "Kado? Memangnya dia ultah?"
Dita menghela nafas, ia heran kenapa Nao tidak tahu "Tiga hari lagi Adel ultah"
Kevin berdecak "Masa pacarnya ultah lo nggak tahu, hedehh ada-ada saja lo"
Nao hanya menatap datar pada Kevin. Ia tidak mau menyangkal ucapan Kevin karena dirinya memang tidak tahu tanggal ulang tahun Adel.
Belum sempat Nao menjawab, Adel sudah kembali dari kamar kecil membuat diskusi mereka akan ulang tahun Adel harus terhenti.
Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa belajar kelompok mereka sudah selesai. Mereka masih belum pulang dan mengobrolkan hal random.
Adel di sana hanya mendengarkan saja. Mungkin ia lelah setelah belajar fisika ditambah lagi semalam ia tidur larut karena menonton drama korea kesukaannya.
Ditengah obrolan mereka, Adel meletakkan kepalanya pada meja dengan salah satu tangnnya ia gunakan sebagai bantal.
__ADS_1
Yang lainnya tidak tahu jika Adel tertidur hingga Andi mengucapkan nama dirinya namun tak ada respon dari Adel.
Nao yang duduk di samping Adel menilik pemilik wajah yang ternyata sudah tertidur dengan lelap.
Nao tersenyum tipis "Shut, tidur dia"
Mereka sedikit terkekeh mengetahui hal itu.
Kevin menepuk Andi pelan "Pulang yuk, tuan putrinya lagi tidur entar kita-kita ganggu" ucap Kevin dengan nada pelan.
Andi mengangguk pelan tanda setuju "Lagian sudah ada pangeran Nao yang menjaganya"
Malvin dan Dita hanya bisa menahan tawa mendengar bagaimana Kevin dan Andi selalu saja bisa bercanda.
Mereka berempat berdiri bersamaan. Dengan pelan mereka berjalan menuju pintu keluar agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Adel.
Sekarang hanya tersisa pemilik apartemen itu dan gadis yang tengah tertidur.
Nao tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya menyandarkan kepalanya pada meja dan berbantalkan lengannya, sama seperti Adel.
Nao menatap dengan lekat pada wajah cantik Adel hingga tanpa sadar sudut bibirnya naik dengan sendirinya.
Dalam wajah Adel terlihat pergerakan. Matanya perlahan membuka dengan Nao yang masih menatapnya dengan lembut. Mereka bersitatap. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Adel.
Adel pikir ia bermimpi atau apa. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali "Lo masuk mimpi gue?"
Adel masih belum terbiasa dengan panggilan baru mereka, ditambah lagi ia pikir kejadian sekarang adalah mimpi makanya ia kembali ke sebutan awal.
Nao terkekeh kecil "Kenapa? Nggak boleh?"
Adel hanya menggelengkan kepalanya sekilas. Ia mengkerutkan keningnya "Kok lo bisa masuk di mimpi gue sih?"
Nao menjitak dahi Adel sekilas "Ini bukan mimpi, ogeb"
Adel mengelus dahinya "Aw, sakit. Lo mah main jitak saja"
__ADS_1
Nao tertawa. Ia tegakkan lagi kepalanya "Bangun gih sudah sore, yang lain sudah pada pulang"
Adel menegakkan kepalanya. Ia mengedarkan pandangannya sekilas. Ia baru ingat jika dirinya baru saja belajar kelompok.
Adel membereskan tasnya "Sorry gue, maksudnya aku, ketiduran"
"It's okay. Sudah belum?" Nao sudah menunggu Adel selesai beberes.
"Sudah kok, sudah" Adel berlari kecil mendekati Nao "Ayo pulang"
Mereka berjalan menuju pintu keluar bersamaan. Saat pintu terbuka, hal tidak terduga terjadi di depan Adel.
Seorang gadis tiba-tiba saja memeluk Nao "Nao, I miss you so much"
Adel menatap heran pada gadis itu sekaligus entah kenapa hatinya mulai memanas. Sepertinya Adel cemburu.
Nao di sana terkejut. Bagaimana bisa ia dipeluk oleh gadis lain di depan Adel. Ia takut Adel akan salah paham dan tidak mau mendengarkan penjelasannya.
"Nao, gue duluan yah, taksi gue sudah sampai. Thank's buat belajar kelompoknya" dengan senyum kaku, Adel meninggalkan Nao yang masih di peluk gadis itu.
Nao hanya bisa menatap punggung Adel hingga ia memasuki lift. Mereka bersitatap hingga lift tertutup rapat. Kalau tidak salah Nao mendapati mata gadis itu berair.
Adel menangis. Di dalam lift gadis itu mengeluarkan air matanya. Kenapa pemandangan yang baru saja terjadi di depannya bisa membuatnya merasa sakit?
Sampainya di lobi. Adel buru-buru keluar dari gedung apartemen itu dan menghentikan sebuah taksi. Air matanya masih saja mengalir. Hatinya tidak bisa berbohong jika dirinya terluka akan pemandangan yang baru saja dilihatnya.
Sementara itu, Nao melepas cukup kasar pelukan gadis itu "Lo ngapain sih kemari? Pakai peluk-peluk segala, orang lain bisa salah paham tahu"
Gadis itu mengerucutkan bibirnya "Tapi gue kan sudah kangen banget sama lo, sudah lama banget kita nggak ketemu"
Nao justru semakin kesal dibuatnya. Ia meninggalkan gadis itu dan hendak mengejar Adel. Ia ingin menjelaskan semuanya pada Adel.
Nao langsung menancapkan gas menuju rumah Adel. Namun sayang, Adel ternyata tidak pulang ke rumah. Nao menelepon Andi guna meminta nomor telepon Dita, namun ternyata sama saja, Adel bahkan tidak ada di rumah sahabatnya. Gadis itu entah pergi ke mana.
Nao merasa kesal pada dirinya sendiri. Sedari tadi ia juga menghubungi Adel, namun ponsel gadis itu justru dimatikan.
__ADS_1
"Kamu ke mana sih?" ucap Nao seraya terus berusaha menghubungi Adel.
***