
Andi mengkerutkan keningnya "Lo sama siapa?"
Adel dibuat kalang kabut dengan pertanyaan Andi yang mendadak mulai mencurigai kebersamaannya dengan Daniel.
Daniel sendiri justru mengulurkan tangannya "Kenalin gue Daniel, teman lesnya Adel"
Andi menatap Daniel, lalu bergantian menatap Adel "Teman les lo?"
Adel menelan susah salivanya karena gugup "I-iya...di-dia, te-teman les gue" Adel menjawab dengan terbata-bata.
"Oh" Andi hanya ber-oh ria sambil manggut-manggut.
"Lo, lo ngapain di sini?" Adel mengalihkan pembicaraan.
"Gue beli camilan" Andi memperlihatkan dua kantong plastik penuh berisi berbagai macam camilan.
"Oh gitu, gue duluan yah" Adel menarik lengan Daniel. Ia ingin cepat-cepat menjauh dari Andi.
"Kue untuk papa lo gimana?" tanya Daniel. Ia masih belum beranjak.
"Nggak jadi" Adel menarik lagi lengan Daniel. Daniel beranjak memgikuti Adel dan tersenyum tipis pada Andi. Andi hanya menatap heran kepergian mereka.
Andi menggaruk kepalanya "Aneh banget sikapnya, kayak kepergok lagi jalan sama selingkuhan"
Andi menepisnya "Ah, sudahlah" Andi memasuki toko roti dan mengambil sepotong cheese cake untuk Nao.
Adel dan Daniel masih sibuk berjalan cepat guna menghindari Andi. Daniel menatap lengannya yang digenggam Adel. Senyuman tipis terukir diwajahnya.
Mereka menaiki eskalator sampai dua kali. Usai dirasa jauh dari keberadaan Andi, Adel melepas genggaman tangannya. Ia menunduk memegangi lututnya seraya mengatur nafasnya.
Daniel menatap heran dengan sikap Adel "Lo kenapa kabur dari cowok tadi?"
Adel berdiri tegak "Dia teman sekelas gue, takutnya dia nyebar gosip aneh-aneh kalau lihat gue sama lo" jelasnya dengan senyum kaku.
Daniel manggut-manggut "Mau pulang apa lanjut jalan?"
"Lanjut aja, masih sore kok" Adel melihat arloji dipergelangan tangannya.
Daniel tersenyum lembut. Mereka lanjut mengelilingi mall itu. Kali ini Daniel mengajak Adel memasuki toko perhiasan.
"Lo mau beli perhiasan?" tanya Adel di ambang pintu sebuah toko perhiasan.
Daniel mengangguk "Buat kado nikah kakak gue"
"Oh"
"Bantu pilihin ya" pinta Daniel dan diangguki Adel.
Daniel melihat beberapa kalung yang ada di etalase. Ia menunjuk salah satu kalung dan diambilkan oleh seorang pelayan. Daniel menatap kalung itu.
__ADS_1
Daniel hendak bertanya pada Adel, namun ia mendapati Adel tengah memperhatikan sebuah kalung dengan tersenyum. Pandangan matanya mengikuti tatapan Adel.
Daniel berbisik pada pelayan di depannya. Pelayan itu mengangguk tanda mengerti.
Daniel kembali menatap Adel "Adel, menurut lo ini gimana?"
Adel mendekati Daniel. Dilihatnya lekat-lekat kalung itu "Bagus, gue rasa cocok untuk kakak lo"
"Ok, thanks" sahut Daniel dan diangguki Adel.
"Mbak yang ini" pelayan toko itu segera menyiapkan pesanan Daniel.
Daniel pergi membayar di kasir. Ia meminta Adel untuk menunggunya di luar toko.
Usai membayar, mereka berdua berkeliling lagi sebentar dan memutuskan untuk pulang.
Daniel mengantar Adel karena hari sudah malam. Mereka menuju parkiran motor. Kebetulan Daniel membawa motor gedenya karena ia bertemu dengan teman-temannya sebelum jalan bersama Adel.
Daniel memakaikan helm untuk Adel. Ia lalu naik ke motornya disusul oleh Adel.
"Bantu pegang ini yah" Daniel memberikan 2 paper bag mini berisi kalung yang tadi dibelinya. Adel mengambil paper bag itu. Dimasukkannya pada tote bag miliknya agar lebih aman.
"Udah?" tanya Daniel.
"Udah"
"Pegangan" pinta Daniel. Ia lalu menyalakan motornya. Adel sedikit memegang samping jaket jeans yang dikenakan Daniel namun ditariknya lengan Adel agar melingkari perut Daniel. Adel sontak membulatkan matanya.
Mereka berboncengan, membelah jalanan menuju rumah Adel. Sesekali mereka juga mengobrol bersama hingga tak terasa sampailah mereka di depan rumah Adel.
Adel turun dari motor Daniel dan dilepasnya helm yang ada di kepalanya. Adel lalu menyerahkan 2 paper bag mini milik Daniel yang tadi dititipkan padanya.
Daniel hanya mengambil salah satu paper bag itu membuat Adel mengkerutkan keningnya karena bingung.
"Buat lo" ucap Daniel dengan nada lembut.
"Temenin gue ke weddingnya kakak gue yah" pintanya.
"Tapi-"
"Please"
Adel menganggukkan kepalanya. Kemudian ia tersenyum manis "Makasih yah, untuk hari ini"
"Sama-sama" Daniel tersenyum lembut lalu berpamitan pada Adel dan melajukan motornya.
Adel memasuki rumahnya dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya. Tak henti-hentinya ia memikirkan akhir pekan kali ini yang begitu berkesan untuknya.
Untungnya papanya tidak berada di ruang tamu sehingga ia tidak perlu dicerca dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
Sampainya di kamar, Adel duduk di samping tempat tidur. Dibukanya paper bag mini yang tadi diberi oleh Daniel. Terlihat sebuah kalung yang tadi dilihatnya saat berada di toko perhiasan.
Hati Adel menjerit meneriaki nama Daniel. Senyuman bahagia kembali merekah di wajahnya. Disimpannya kalung itu di laci meja riasnya. Ia kemudian mandi dan beristirahat.
***
Andi baru saja sampai di basement kawasan apartemen Nao. Ia memarkirkan mobilnya dan mengambil 2 kantong plastik dan 1 paper bag ukuran sedang berisi kue dari kursi belakang. Ia lalu menuju apartemen Nao.
Andi memasuki apartemen Nao. Nao dan Billy bermain catur, sementara Kevin dan Lando bermain PS.
Kevin menoleh usai mendengar suara berisik dari pintu masuk "Andi tuh" ia menaruh konsol game dan langsung menghampiri Andi.
Kevin membantu membawakan salah satu kantong plastik kemudian diletakkan di meja ruang tamu. Nao dan yang lainnya ikut bergabung.
"Mantap dah, makasih Andi" ucap Kevin seraya membuka isi kantong plastik. Ia mengambil sebungkus keripik singkong lalu memakannya.
"Kue kesukaan lo" Andi menyodorkan paper bag pada Nao.
Nao membuka paper bag itu "Thanks" ia lalu memakannya.
"Sama-sama" Andi berlalu ke toilet karena panggilan alam.
Mereka menikmati camilan yang dibelikan oleh Andi seraya mengobrol berbagai hal bersama.
"Lando, cariin gue cewek laa dari sekolah lo" ucap Kevin lalu meminum teh kotak.
"Udah kelas 3 bukannya belajar buat ujian malah mau pacaran" Lando menyahuti lalu melempar kaleng soda ke tempat sampah.
"Kayak lo nggak ada pacar aja" Andi yang baru saja dari toilet ikut menimpali.
"Gue mah udah pacaran sejak kelas 11 jadi nggak papa" Lando membela diri.
"Ngaca sono di kamarnya Nao. Lo aja udah kelas 3 bukannya belajar buat ujian malah pacaran" Kevin berbicara menirukan kalimat Lando.
Lando melempari Kevin dengan kulit kacang. Billy, Nao, dan Andi hanya terkekeh melihat hal itu.
"Lo, Nao, lo sendiri masa nggak ada pacar? Secara lo kan pangerannya SMA Helius" Lando berganti melontarkan pertanyaan untuk Nao.
Nao memutar bola matanya malas. Ia memilih diam dan menghabiskan cheese cakenya.
"Nao punya pacar kok. Kalian aja yang nggak tahu" sahut Andi.
"Yang benar lo? Siapa?" Billy yang penasaran ikut bertanya seraya membuka camilan.
"Ada pokoknya" Andi melirik Nao.
"SIAPA?" Kevin dan Lando ikut penasaran. Mereka menatap Nao berharap mendapat jawaban.
"Diem lo!" Nao menatap tajam Andi.
__ADS_1
Sepertinya Andi ingin membeberkan rahasia Nao sedikit demi sedikit karena cepat atau lambat mereka juga akan tahu.
***