
Awal pagi hari. Bunyi bel pintu rumah Hendra, papanya Adel, terdengar.
Dengan segera mbok Tiah membuka pintu itu yang menampilkan seorang pria tampan dengan pakaian yang simpel tapi begitu menarik perhatian.
Ia adalah Nao Putra Geofany. Entah ada apa ia sudah berada di depan pintu rumah Adel sepagi ini.
"Pagi mbok" sapa Nao dengan tersenyum ramah saat mbok Tiah sudah membukakan pintu untuknya.
"Eh...den Nao. Pagi juga. Mau ketemu non Adel ya? Mari silakan masuk" Mbok Tiah menyahuti seraya mempersilakan Nao untuk masuk ke dalam rumah Adel. Nao hanya menganggukkan kepala seraya mengekori mbok Tiah masuk ke dalam rumah.
"Duduk dulu den. Non Adel masih belum bangun" mbok Tiah mengarahkan Nao untuk duduk di ruang tamu.
"Makasih mbok. Om Hendra, ada?" tanya Nao kemudian usai dirinya sudah duduk manis di sofa.
"Tuan sedang berada di belakang rumah. Sebentar saya beritahu kalau ada den Nao"
Nao kembali tersenyum ramah "Makasih ya mbok"
"Sama-sama den. Kalau begitu saya permisi sebentar" pamit mbok Tiah dan hanya diangguki Nao. Ia lalu berjalan menuju Hendra berada.
Tak butuh waktu lama, Hendra terlihat dari arah belakang berjalan mendekati Nao yang tengah terduduk. Ia tersenyum senang dengan memperlihatkan giginya.
"Nao" sapanya lalu memeluk calon menantunya itu.
"Om"
Hendra melepas pelukannya "Apa kabar?"
"Baik, om" jawab Nao dengan senyum kikuknya karena masih merasa canggung dengan Hendra.
"Tumben pagi-pagi sudah mampir. Jangan-jangan kalian berdua mau kencan seharian ya" ucap Hendra menebak-nebak.
Nao menyengir mendengar ucapan Hendra.
"Mungkin ia sedang bersiap-siap. Tunggu sebentar ya" ucap Hendra kemudian. Nao hanya menganggukkan kepalanya sekilas.
Obrolan mereka berlanjut saat menunggu Adel turun ke ruang tamu. Rupanya cukup lama mereka mengobrol hingga pada akhirnya Hendra meminta mbok Tiah untuk pergi ke kamar Adel.
Dengan segera mbok Tiah menuruti perintah tuannya. Saat sampai di tangga paling atas, terlihat anak majikannya itu tengah menutup pintu kamarnya.
"Non Adel" panggil mbok Tiah seraya mendekati Adel.
"Papa udah nungguin ya mbok?" tanya Adel lalu berjalan turun tangga bersama mbok Tiah. Adel berpikir papanya sudah menunggunya untuk sarapan bersama.
__ADS_1
"Sudah non, den Nao juga sudah datang" sahut mbok Tiah.
Langkah kaki Adel langsung terhenti setelah mendengar perkataan mbok Tiah.
"Nao? Nao sekarang di sini mbok?" tanya Adel kemudian.
"Iya non, tadi pagi-pagi sekali dia sudah datang" mbok Tiah menjawab dengan antusias.
"Ha? Yang bener mbok?" tanya Adel lagi. Ia bingung kenapa Nao datang ke rumahnya sepagi ini. Padahal ia tidak mendapat pesan apapun dari Nao. Apalagi ia juga ada rencana untuk pergi berkencan bersama Daniel.
"Iya non"
"Ngapain sih dia ke sini" gumam Adel kesal.
"Ha? Ada apa non?" mbok Tiah menyahuti karena ia samar-samar mendengar Adel berkata.
"Nggak ada apa-apa kok mbok" dengan cepat Adel menutupi rasa kesalnya dihadapan mbok Tiah.
"Ya sudah ayo non" ajak mbok Tiah dan Adel hanya bisa pasrah.
Raut wajah Adel terlihat kesal begitu sampai di ruang tamu. Bagaimana tidak, rencananya untuk pergi bersama Daniel lagi-lagi terancam gagal.
Dengan langkah malas, Adel duduk di samping papanya. Ia menyapa papanya dan hanya melirik Nao sekilas tanpa adanya sapaan untuk Nao.
Sementara Hendra sedang mengamati keduanya "Nao nggak disapa nak?" tanyanya. Ia heran.
Hendra tertawa usai mendengar ucapan Adel "Ada-ada saja kamu nak. Papa pasti ijinkan kalau kamu mau pergi kapanpun dan kemanapun asalkan bersama Nao"
Deg...
Andai papanya tahu fakta bahwa putri tercintanya itu ternyata tengah menjalin hubungan dengan orang lain. Saat inipun ia sebenarnya hendak pergi berkencan bersama Daniel bukan Nao. Tapi entah mengapa Nao selalu saja muncul di waktu yang tidak tepat.
"Ya sudah kalian berangkatlah, hari juga sudah semakin siang" ucap Hendra pada keduanya. Nao hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sementara Adel hanya terdiam.
"Kalau begitu kami pamit dulu om" Nao lalu bersalaman dengan Hendra.
"Iya Nao, om titip Adel padamu ya" sahutnya dan dibalas senyuman oleh Nao.
Nao lalu berdiri. Ia menatap Adel yang masih saja duduk manis di sana. Ia berdeham guna memberi kode pada Adel agar dirinya segera mengikuti Nao pergi.
Adel menatap kesal pada Nao. Ia lalu berpamitan pada sang papa. Usai berpamitan kini keduanya berjalan bersama keluar pintu utama.
Adel menutup kasar pintu mobil Nao. Ia lalu duduk di kursi kemudi dan langsung mengenakan seatbeltnya.
__ADS_1
Nao hanya memperhatikan tingkah kesal calon istrinya itu. Sedari tadi ia sudah sadar kalau Adel benar-benar marah dan kesal padanya.
"Lo ngapain sih ke rumah gue? Huh, kencan apaan?" Adel melipat kedua tangannya.
"Lo tuh ganggu rencana gue tahu nggak" sambung Adel menatap tajam pada Nao. Sementara yang ditatap memilih acuh dan melajukan mobilnya saja.
Adel berdecak kesal. Ia mengambil ponselnya guna mengabari Daniel kalau dirinya tidak bisa pergi dengannya.
"Daniel, sorry ya aku nggak bisa pergi denganmu hari ini. Papaku tiba-tiba mengajakku untuk pergi ke rumah nenek" begitulah tulisan pesan yang dikirim Adel pada Daniel.
"Papa? Bukannya Nao ya?" balas Daniel.
Adel terkejut saat membaca balasan pesan dari Daniel. Berarti ia sudah berada di depan rumahnya saat dirinya keluar bersama Nao.
"Kamu lihat"
"Hum, aku tadi nggak sengaja lihat kamu sama Nao"
"Aku bisa jelasin"
"Nggak perlu, kamu memang tunangannya Nao. Ku kira Nao hanya bercanda. Kita akhiri saja hubungan ini"
"Please, aku bisa jelasin Daniel, aku nggak mau putus dari kamu"
Setelahnya tak ada balasan dari Daniel. Adel terlihat panik saat menatap ponselnya. Nao yang ada di sebelahnya melirik sekilas.
"Kenapa lo?" tanyanya.
"Daniel tadi lihat gue sama lo"
Nao tersenyum miring "Bagus dong, berarti dia tahu diri"
Adel berdecak kesal. Ia kembali melihat jendela obrolannya dengan Daniel namun ternyata tetap tidak ada jawaban dari Daniel.
"Gimana nih?" gumamnya lirih dengan suara sedih. Tanpa sengaja air matanya mulai membasahi pipinya.
"Gue nggak mau putus dari Daniel" ucap Adel lagi dengan suara lirihnya namun Nao tetap bisa mendengarnya. Isak tangis lalu terdengar.
Adel menoleh menatap tajam pada Nao "Semua ini gara-gara lo"
Nao menepikan mobilnya "Udah tahu lo mau tunangan sama gue, ngapain juga lo pake acara pacaran sama orang lain"
Plakkk...
__ADS_1
Adel menampar Nao "Lo nggak tahu apa-apa. Dasar perjodohan sialan"
Nao tersenyum kesal. Baru kali ini ada gadis yang berani menamparnya.