
Setelah menunggu cukup lama, di kelas Adel maupun Nao hanya tersisa mereka saja. Suasana di sekolah juga sudah terlihat sepi.
Adel melangkah keluar dari kelasnya. Ia terkejut karena ternyata Nao sudah berdiri di depan kelasnya, menunggunya.
"Nao" ucap Adel lirih namun tetap bisa di dengar oleh Nao.
Nao yang terlihat memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku menatap calon istrinya itu.
Adel justru celingukan memandang ke kanan dan ke kiri karena takut dirinya akan terlihat oleh orang lain.
Nao menghela nafas seraya menoleh ke samping "Udah nggak ada orang"
Adel beralih menatap Nao "Lo yakin? Kalau masih ada fans lo gimana? Ngapain lo nyamperin gue?"
Nao kembali menghela nafas "Tahu kan kalau mau ke parkiran lewat mana"
Adel menganggukkan kepalanya pelan. Ia setuju dengan ucapan Nao karena memang jalan menuju parkiran apabila dari kelas Nao harus melewati depan kelas Adel.
"Yaudah ayo" ajak Nao kemudian.
Keduanya berjalan berdampingan menuju parkiran. Namun tak ada obrolan yang terjadi di antara keduanya.
Di dalam mobil pun hanya lantunan lagu acak yang sengaja Nao putar untuk mengurangi rasa hening di dalam mobil.
Adel melepas seatbeltnya saat sampai di depan tempat lesnya "Makasih"
Nao tak menjawab ucapan Adel. Ia justru ikut melepas seatbeltnya dan hendak turun dari mobil.
"Lo mau ke mana?" tanya Adel. Ia penasaran kenapa Nao hendak turun dari mobil.
"Anter lo. Nggak. Ngawasin lo dari dia" Nao memyahuti kemudian ia segera turun dari mobil.
"Ngawasin gue? Ngapain Nao ngawasin gue? Ngawasin gue dari siapa? Dasar aneh" gumam Adel. Ia terlihat bingung dengan jawaban Nao. Ia berpikir hingga dirinya tak sadar kalau ia masih di dalam mobil.
Suara ketukan kaca membuat Adel tersadar dari lamunannya. Ia menoleh saat mendengar ketukan itu dan bergegas turun karena dirinya sudah ditunggu oleh Nao.
__ADS_1
Kali ini mereka tidak berjalan berdampingan. Nai berjalan di depan Adel, dan Adel berjalan mengekori Nao sambil dirinya terus memikirkan ucapan Nao.
Nao menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba yang membuat Adel kembali menabrak punggung Nao.
Nao membalikkan badannya menghadap Adel yang sibuk mengelus dahinya "Ruang les lo, di mana?"
"Ruang A2, tuh di pojokan" Adel menunjuk ruang lesnya dengan dagu.
Nao membalikkan badannya dan hendak berjalan menuju ruangan itu, namun tasnya dicekal oleh Adel.
"Lo mau ngapain sih?" tanya Adel.
Nao menoleh "Kan gue udah bilang, gue mau ngawasin lo"
Adel memiringkan kepalanya "Ngawasin gue dari siapa?"
Nao menghela nafas "Mantan lo"
"Maksud lo, Daniel? Biar apa?" tanya Adel kemudian.
Adel menepuk lengan Nao "Nggak usah, makasih. Biar gue urus sendiri" Ia lalu berjalan mendahului Nao dan meninggalkan Nao di sana.
Sampainya di ruang les, terlihat Daniel ada di sana. Daniel hanya menatap Adel sekilas lalu kembali menyibukkan diri dengan buku.
Kebetulan ada 2 kursi yang masih tersisa berada tepat di samping Daniel duduk. Dengan terpaksa Adel duduk di sana. Ia duduk di kursi satunya yang terletak sedikit jauh dari kursi Daniel.
Adel berusaha untuk mengabaikan keberadaan Daniel. Padahal biasanya mereka akan saling sapa lalu bercerita bersama.
Adel memilih menyibukkan dirinya dengan mengerjakan soal saat menunggu guru lesnya datang. Saat mengerjakan soal, ingin rasanya ia bertanya dengan Daniel.
Adel mengetuk bolpointnya pada soal yang ingin ia tanyakan pada Daniel. Matanya terus saja melirik ke arah Daniel duduk.
"Pengen tanya ke dia tapi nggak enak banget" batin Adel gelisah.
Belum sempat bertanya pada Daniel, guru les datang. Ia datang bersama dengan seseorang yang berhasil membuat Adel membulatkan matanya.
__ADS_1
Guru les itu memperkenalkan kalau orang itu adalah murid baru yang bernama Nao Putra Geofany.
Usai memperkenalkan diri, Nao dipersilakan untuk duduk di kursi yang tersisa yaitu di antara Adel dan Daniel.
Nao tersenyum miring melihat pemandangan di depan matanya. Dengan percaya diri ia duduk di sana.
Kemudian Nao merangkul Adel "Hai sayang, sorry aku baru datang"
Mata Adel kembali membulat dengan sikap Nao yang begitu terang-terangan menyebut dirinya sayang.
Apalagi di sana ada murid dari sekolah lain yang mana bisa dipastikan kalau mereka adalah fansnya Nao karena saat Nao baru memasuki ruang les, mereka seketika heboh.
Sementara itu, Daniel yang melihat pemandangan panas di depan matanya mengepalkan salah satu tangannya dengan kuat. Terlihat jelas di wajahnya kalau dirinya sedang cemburu melihat Adel dan Nao.
Tiba-tiba Daniel berdiri. Ia lalu berpamitan dengan guru les kalau dirinya merasa tidak enak badan dan ingin pulang lebih awal.
Melihat hal itu, Nao kembali tersenyum miring karena rencananya berhasil.
Nao kemudian berbisik pada Adel "Apa gue bilang, dia pasti cemburu lihat lo sama gue"
Adel melepas rangkulan Nao "Bisa nggak, nggak usah ikut campur? Terus lo ngapain terang-terangan kayak gini? Yang ada fans lo bakal marah-marah ke gue"
"Abaikan saja. Kalau kita udah nikah, mereka pasti bakalan tahu lo" Nao menyahuti dengan entengnya.
Adel berdecak kesal "Tapi gue ingin menikmati tahun terakhir SMA gue dengan tenang tanpa ada masalah"
Nao tertawa kecil "Kalau mereka tahu lo pacar gue, mereka nggak bakal berani apa-apain lo"
Adel memutar bola matanya jengah mendengar betapa Nao sangat percaya diri dan juga narsis.
Les dimuali membuat kedua orang yang tengah berdebat kecil itu berhenti.
***
TBC
__ADS_1