
Adel mengetuk pelan jari-jemarinya pada meja, sementara Nao kembali sibuk membaca buku.
Adel mengeluarkan ponselnya dari saku guna mengirim pesan pada Dita. Namun ternyata Dita justru sudah lebih dulu mengirim pesan pada Adel.
"Lo ada urusan apa Del, kok nggak bisa ikut pelajaran?"
"Baru juga mau bilang ke lo"
"Bu Erna udah bilang ke gue ini. Emang ada urusan apaan sih? Kepo deh gue"
"(Adel mengambil foto Nao yang tengah membaca dan mengirimnya pada Dita)
"Nggak tahu tuh si Nao, nggak jelas banget"
"Ciee Adel, uhuy sama Nao ya ternyata. Yaudah nggak papa. Ini gue jadinya yang ke perpus ambil bukunya. Nanti lo titipin aja sama penjaga perpus biar gue ambil"
"Cia, cie, cia, cie, mending gue ikut pelajaran dari pada sama dia"
"Yee...enakan gabut sama Nao lah dari pada pelajaran sama bu Erna"
"Terserah lo Dit, yaudah nanti bukunya gue kasih ke penjaga perpus"
"Ok Del"
______
Adel kemudian celingukan ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada fans Nao di sekitar sana "Nggak ada fans lo kan?"
Nao berdecih "Orang pada pelajaran"
"Lo sendiri nggak ada pelajaran?" tanya Adel, ia penasaran.
"Jam kosong" jawab Nao.
"Enak banget. Terus teman-teman lo, di mana?" Adel memperhatikan beberapa judul buku yang ada di hadapan Nao.
Nao membalikkan halaman pada buku yang sedang dibacanya "Di kelas"
Adel hanya manggut-manggut "Tumben"
"Biasanya kan kalian ke mana-mana selalu rombongan dan tebar pesona" sambung Adel sedikit terkekeh.
Nao menoleh sekilas dan menatap datar pada Adel guna menanggapi ucapan Adel.
Adel tersenyum memamerkan deretan giginya seraya mengangkat kedua jarinya sebagai lambang kalau ia sebenarnya hanya bercanda.
"Lo ngapain sih nyuruh gue duduk di sini? Kalau gue ada tugas dari tante lo gimana?" tanya Adel kemudian.
__ADS_1
"Gampang" Nao menyahuti dengan pandangannya tetap pada buku.
Adel memutar bola matanya jengah. Ia lalu berdiri dengan membawa 5 buku yang tadi diambilnya.
"Mau ke mana?" tanya Nao yang menyadari jika Adel hendak pergi.
"Nitip ni buku ke penjaga perpus" jawabnya.
"Lo nggak akan kabur ke kelas lo kan? Awas aja kalau lo mau kabur" ancam Nao.
Adel memutar bola matanya jengah "Lihat aja nanti" ia kemudian berjalan menjauhi Nao.
Selang beberapa menit kemudian, Nao berulang kali menoleh memastikan kehadiran Adel kembali.
"Beneran balik nggak sih dia?" gumam Nao bertanya pada diri sendiri.
Nao kembali menoleh. Ia tersenyum tipis ketika melihat Adel ternyata kembali untuk menemaninya.
Nao berusaha bersikap acuh dengan berpura-pura fokus membaca sampai Adel tiba "Lama lo"
Adel menghela nafas kesal "Gue tadi nyari novel bentar. Bawel lo, yang penting kan gue nggak kabur"
Nao melirik sekilas dan memastikan jawaban Adel. Ia lalu kembali lagi fokus membaca.
Kini keduanya sama-sama sibuk membaca dan suasana kembali hening.
"Eh, lo suka nonton konser enggak?" tanya Adel memulai pembicaraan ditengah keheningan mereka berdua.
"Idih kata siapa? GR banget lo jadi orang. Nggak usah ke-PD-an. Nggak bakal gue suka sama lo" elak Adel.
"Makin lama lo kenal gue, gue nggak yakin lo tetap nggak suka sama gue" Nao menyahuti dengan percaya diri.
Adel melipat kedua tangannya "Huh, kenapa bisa gitu?"
Nao menutup bukunya karena ia tidak menyangka dirinya justru akan mengobrol hal serandom ini dengan Adel.
Nao kemudian menatap Adel dengan lekat. Ia perhatikan wajah Adel dengan seksama.
Nao kemudian tersenyum tipis saat mendapati pipi Adel samar-samar muncul warna merah muda.
"Kenapa lo lihatin gue kayak gitu?" tanya Adel namun hanya sebuah senyuman yang Nao tunjukkan sebagai jawabannya.
Nao menunjuk wajah Adel "Pipi lo kebanyakan blush on apa gimana?" Nao kembali terkekeh kecil.
Adel mengkerutkan keningnya "Ha? Blush on? Perasaan gue nggak pernah pakai blush on kalau ke sekolah"
Nao kemudian mengambil ponselnya dari saku. Ia membuka kamera bagian depan lalu menghadapkannya pada Adel.
__ADS_1
Adel refleks terkejut saat melihat penampakan dirinya dan langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tak lupa ia juga mengutuki dirinya sendiri.
Tanpa Adel sadari jika ucapannya sangat tidak singkron dengan perasaan sebenarnya yang mungkin sudah mulai muncul untuk Nao.
Ingin rasanya Nao tertawa lebar melihat tingkah Adel, namun ia tahan karena ia sadar kalau dirinya masih di perpustakaan di mana keduanya tidak boleh terlalu berisik.
Nao kemudian berdiri dari duduknya. Ia mengacak kasar pucuk kepala Adel sekilas "Gue duluan" tak lupa buku yang tadi dipinjamnya ia bawa untuk dikembalikan pada tempat semula.
Sementara Adel sendiri masih sibuk menutupi wajahnya. Ia sungguh merasa malu kenapa tubuhnya bisa bereaksi seperti itu pada Nao. Ditambah lagi sebelum Nao pergi, Nao sempat-sempatnya membuat desiran aneh itu semakin menjadi.
***
Pulang sekolah tiba. Malvin bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit untuk menemani sang mama tercinta.
Ia cukup senang melihat mamanya terlihat baik-baik saja dan lebih banyak tersenyum setelah menerima pengobatan di rumah sakit. Apalagi mamanya juga mendapat teman ngobrol yang baru.
Usai melihat sang mama istirahat dengan nyaman, Malvin keluar ruangan guna menghirup udara segar.
Kebetulan di dekat ruangan mamanya ada sebuah taman. Malvin melihat ada bangku yang menganggur dan duduk di sana.
Ia hanya melihat-lihat lalu-lalang beberapa orang yang berada di sekitar sana.
Tanpa sengaja Malvin menemukan sosok gadis berkulit putih pucat bagai mayat berada tak begitu jauh dari jarak pandangnya.
"Oyy" teriak Malvin seraya melambaikan salah satu tangannya.
Gadis itu refleks menoleh usai mendengar teriakan Malvin. Namun ia memilih mengabaikannya dan kembali berjalan.
Malvin segera berdiri dari duduknya dan berlari kecil untuk mengejar gadis itu.
"Tunggu" Malvin mencekal lengan gadis itu dengan pelan.
Gadis itu menoleh "Iya?"
"Lo yang waktu itu anterin gue kan?" ucap Malvin kemudian.
Gadis itu hanya mengangkat kedua alisnya sekilas seraya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tiara. Lo pasti mau nanya nama gue kan?" ucapnya kemudian.
Malvin tersenyum tipis mendengar tuturan dari gadis yang baru saja ia tahu namanya yaitu Tiara.
"Gue Malvin" Malvin mengulurkan tangannya utuk berjabat tangan dengan Tiara.
Tiara menyambut uluran tangan Malvin dan tersenyum sekilas. Dengan cepat ia lepaskan tangannya "Gue balik dulu"
"Gue anter yah, lo ke sana juga kan?" pinta Malvin. Ia menunjuk ke arah kanan.
__ADS_1
"Em...oke" Tiara menjawab dengan singkat. Keduanya berjalan bersama di sepanjang lorong rumah sakit itu.
***