Canda Kita

Canda Kita
Petir Dan Ciuman Pertama


__ADS_3

Nao berjalan menuju lift bersamaan dengan Adel "Hujannya semakin deras dan kebetulan yang terdekat apartemen gue"


Adel hanya menganggukkan kepalanya. Mereka berdua memasuki lift menuju lantai di mana apartemen Nao berada.


Sampainya di sana, Nao memencet password apartemennya. Sementara Adel hanya memperhatikan saja.


Pintu terbuka. Memperlihatkan apartemen yang rapi karena perabotan di apartemen itu belum banyak dan hanya seadanya saja.


Adel menutup pintu dan membalikkan badannya sembari mengedarkan pandangannya "Nggak pernah ditempatin ya?"


Nao melepas sepatunya "Nggak. Cuma kadang nongkrong sama teman-teman gue di sini"


"Gue ke kamar bentar ya, mau ngecek semoga ada baju ganti. Lo mau ganti juga?" sambung Nao menatap Adel sekilas.


"Nggak usah" Adel melepas sepatunya juga.


"Yaudah lo duduk dulu gih" Nao kemudian berjalan menuju kamarnya.


Sementara Adel duduk di sofa. Ia mengambil ponselnya dari dalam saku.


Beberapa saat kemudian, Nao sudah berganti pakaian. Untungnya di lemari kamarnya ada beberapa potong baju miliknya dan beberapa milik sahabatnya yang terkadang tertinggal.


Nao duduk di samping Adel. Ia lalu menyodorkan kemeja warna hitam miliknya pada Adel "Biar nggak kedinginan"


Adel yang tengah sibuk memainkan ponselnya menoleh ke samping. Ia menatap kemeja itu dan mengambilnya.


Sesuai intruksi Nao, Adel menggunakan kemeja itu sebagai selimut untuk menghangatkan kakinya.


Keduanya terdiam. Entahlah mereka berdua tiba-tiba menjadi gugup dan suasananya menjadi awkward.


"Lo mau minum? Teh panas atau apa gitu?" ucap Nao di tengah ketegangan mereka berdua.


Adel menoleh "Eum, coklat panas boleh deh"


"Oke, tunggu bentar ya" Nao kemudian berdiri dan berjalan menuju dapur.


Sampainya di dapur Nao membuka lemari namun ternyata kosong melompong. Ia berganti membuka kulkas, ada beberapa minuman dingin dan air putih.

__ADS_1


Nao menepuk dahinya sekilas "Oh iya lupa gue, kan nggak ada apa-apa di sini"


Nao menatap beberapa minuman dingin yang ada di dalam kulkas itu. Ia memilih mengambil sekotak susu rasa coklat untuk Adel dan sekaleng soda untuk dirinya.


Nao kembali ke ruang tamu. Ia menyodorkan sekotak susu coklat dingin itu pada Adel.


"Sorry coklat panasnya nggak ada. Lupa gue kalau di sini nggak ada banyak makanan" ucao Nao.


Adel menatap sekotak susu itu dengan sudut bibirnya yang sedikit naik.


"Nggak papa kan?" ucap Nao kemudian membuat Adel refleks mengambil sekotak susu coklat dingin itu.


Adel berusaha menahan tawanya agar tidak menyinggung perasaan Nao sembari dirinya meminum susu cokkat dingin itu.


Sementara Nao kembali duduk di sampingnya. Ia membuka kaleng soda itu dan meminumnya perlahan.


Nao menaruh kaleng soda di atas meja "Sepertinya hujannya akan lama deh. Lo nggak bilang bokap lo?"


"Dia tahu kok kalau gue lagi nonton konser" sahut Adel.


Tiba-tiba suara petir yang keras terdengar. Adel yang takut akan hal itu refleks mendekatkan dirinya pada Nao.


"Takut lo?" tanya Nao menatap wajah Adel.


Adel menganggukkan kepalanya dan bunyi petir kembali terdengar membuat pegangannya pada Nao semakin erat.


Desiran aneh itu mampir ke hati Nao. Jantungnya tiba-tiba berdebar dengan sendirinya. Ia berusaha untuk tetap tenang sembari menghabiskan sodanya.


Nao biarkan saja Adel seperti itu, toh ia mau bilang kalau Adel modus tapi jika dilihat dari raut wajahnya, gadis itu benar-benar takut.


Beberapa saat kemudian. Suara petir sudah tidak terdengar. Adel perlahan melepas gengggamannya.


Belum sempat terlepas sepenuhnya, suara petir kembali terdengar bahkan lebih kencang dan membuat Adel berteriak.


"Ih...kenapa nggak hilang-hilang sih suaranya. Takut gue" keluh Adel. Ingin rasanya ia membenamkan wajahnya pada lengan Nao.


"Del" panggil Nao dan Adel otomatis mendongakkan kepalanya menatap Nao.

__ADS_1


Mereka bersitatap. Jarak mereka begitu dekat. Adel yang tadinya biasa saja, tiba-tiba merasakan desiran aneh juga.


Nao memperhatikan wajah Adel dengan lekat. Tanpa sadar jika dirinya bergerak perlahan mendekati wajah Adel.


Bibir mungil warna merah muda itu menjadi sasarannya dan


'Cup'


Ciuman pertama mereka terjadi. Entah apa yang merasuki Nao sehingga dirinya memberanikan diri melakukan hal itu pada Adel.


Benarkah rasa itu sudah tumbuh dan tidak hanya sedikit?


Adel mengedipkan kedua matanya berkali-kali. Ia diam mematung karena begitu terkejut dengan perlakuan Nao yang sangat tiba-tiba.


Suara petir kembali terdengar dengan keras. Adel refleks memejamkan matanya dan tanpa sadar bibir mungilnya ikut bergerak.


Nao yang merasakan hal itu menganggap jika Adel membalas ciumannya. Ia membuka matanya sekilas dan mulai memperdalam ciumannya.


Sementara Adel kembali terkejut. Ia mendorong pelan tubuh Nao, membuat Nao menghentikan ciuman yang sudah mulai panas itu.


Adel menundukkan kepalanya seraya mengatur nafasnya "Stop it"


"Sorry gue," sahut Nao. Ia juga berusaha mengatur nafasnya.


Nao memperhatikan wajah Adel. Ia kemudian memeluk Adel dengan lembut. Ia merasa bersalah melakukan hal itu tanpa meminta ijin pada Adel terlebih dahulu.


Di sana Adel hanya terdiam dan menerima pelukan Nao yang menurutnya begitu nyaman dan menenangkan. Ditambah lagi suara petir yang keras itu entah mengapa jadi terasa tidak terdengar.


Namun dalam pelukan kali ini Adel merasakan ada hal yang berbeda. Kali ini ia bisa merasakan debaran jantung Nao.


Tanpa sadar senyuman lembut nan tipis terukir di wajah Adel saat mengetahui hal itu.


Saat keduanya tengah berpelukan, suara pintu terbuka dan beberapa obrolan terdengar.


Kedua orang itu menjatuhkan barang bawaan mereka saat mendapati Nao dan Adel tengah berpelukan di depan mata mereka.


Adel dan Nao sontak melepas pelukannya dan berdeham. Mereka berusaha bersikap biasa saja seperti tidak ada yang terjadi.

__ADS_1


***


__ADS_2