
Adel menyandarkan badannya pada balkon. Ia tengah tersenyum sendiri seraya menatap layar ponsel. Rupanya ia sedang berkirim pesan dengan Daniel, pantas saja ia senang.
"Gue jemput lo yah"
"Enggak papa nih?"
"Nggak papa Adel, kan gue yang minta"
"Good night Adel, mimpin gue ya hehe"
"Kalau enggak?"
"Harus dong mimpiin gue"
"Haha, oke Daniel"
....
Seperti itulah sekilas isi pesan Adel dan Daniel. Mereka tengah membicarakan pesta pernikahan kakaknya Daniel.
Senyum Adel perlahan luntur saat mendapati pemberitahuan dari instagram. Ia mengernyitkan keningnya melihat ada nama Nao di sana.
"Ngapain dia follow gue?" gumamnya lalu membuka profil Nao.
"Widihh seleb yak" Adel kembali berucap usai melihat begitu banyaknya followers Nao.
Adel tersenyum miring "Nggak perlu gue follback kan ya, kan udah banyak yang follow"
Adel menutup aplikasi itu tanpa menerima permintaan pertemanan dari Nao. Ia memilih untuk mengabaikannya.
Sementara itu, Nao sendiri tengah menatap layar ponselnya. Rupanya ia menunggu pemberitahuan dari Adel, namun ternyata nihil.
Nao berdecak kesal "Dasar cewek aneh. Lo, gue follow kenapa nggak mau diterima dan nggak mau follback gue, anj*r. Cewek lain mah udah senang nggak karuan, terus dishare di sosmed"
Nao melempar ponselnya sembarang di atas kasur dan berlalu menuju mimpi.
***
Sepertinya kebiasaan butuk Nao yang sering bangun siang sudah lenyap. Ia sudah terbiasa bangun lebih awal semenjak mengenal Adel.
Ia tengah merapikan dasi yang dipakainya. Setelah itu ia segera turun untuk sarapan.
"Papa mau ke mana?" tanya Nao saat melihat papanya tengah berpamitan dengan sang mama dengan adanya 1 koper di sampingnya.
Asri menoleh "Eh, Nao. Sini nak" Nao berjalan mendekati orang tuanya.
"Papa kamu mau keluar kota beberapa hari ini" ucap Asri.
"Oh" Nao hendak ke ruang makan.
"Nao" panggil Bram yang membuat Nao menoleh menatapnya.
"Ada apa pa?"
"Papa minta tolong sama kamu ya, temani mamamu ke pesta pernikahan temannya papa"
__ADS_1
Nao bergantian menatap kedua orang tuanya "Oke" jawabnya kemudian berlalu begitu saja ke ruang makan.
Asri dan Bram saling bertukar pandang melihat sikap Nao yang kian hari sedikit demi sedikit mulai berubah.
"Ma, dia kesambet apa?" ucap Bram. Asri hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa tiba-tiba Nao mau datang ke acara seperti itu?" Bram kembali bertanya pada istrinya, namun Asri hanya mengangkat bahunya sekilas.
Usai keberangkatan Bram, Asri menuju ruang makan untuk menyusul putranya.
"Udah selesai makannya?" tanya Asri lalu duduk di depan Nao.
"Hampir"
"Ma, bodyguard papa masih ngikutin?" tanya Nao kemudian.
Asri mengambil sayur "Sudah tidak"
"Papamu sudah percaya sama kamu dan Adel" sambungnya.
Nao tersenyum smirk. Ada sebuah ide muncul begitu saja di kepalanya.
"Ma, aku berangkat" pamitnya seraya mencium punggung tangan mamanya.
Nao melajukan mobilnya langsung menuju sekolah tanpa menjemput Adel. Ia sendiri bahkan sengaja untuk tidak memberitahunya.
"Lo pasti bakalan telat" Nao kembali tersenyum smirk saat mobilnya memasuki gerbang SMA Helius.
Sementara itu, Adel masih setia menunggu kedatangan Nao. Ia perhatikan arloji di tangannya sekilas.
Adel menoleh "Belum pa" ia kembali melihat jam.
Hendra berjalan menuju mobilnya "Biasanya kan kalian sudah berangkat sebelum papa"
"Mungkin, macet pa" Adel tersenyum samar.
"Haha, alasan klasik. Mau bareng papa saja?" Hendra sedikit terkekeh mendengar ucapan putrinya.
"Nggak usah pa, paling bentar lagi sampai"
"Ya sudah, papa duluan ya nak" pamit Hendra.
"Iya pa, hati-hati pa" Adel melambaikan tangannya pada sang papa.
Adel masih saja setia menunggu kedatangan Nao karena sudah biasanya Nao akan menjemputnya. Namun sudah hampir 30 menit ia menunggu dan sekitar 15 menit lagi bel masuk kelas akan tiba.
Kesabaran Adel mulai habis. Ia berdecak kesal "Lo datang nggak sih? Mana bentar lagi bel"
Adel mengeluarkan ponselnya. Ia mencari kontak Nao dan meneleponnya. Namun justru penolakan yang di terimanya.
Nao sendiri di seberang sana tersenyum licik karena berhasil mengerjai Adel.
"Kita seri. Lo kira lo doang yang bisa nolak gue" ucapnya seraya menatap layar ponselnya.
Seseorang menepuk pundak Nao "Woy, kenapa lo pagi-pagi udah senyam-senyum?"
__ADS_1
Nao menoleh. Ternyata ia Malvin.
Nao kembali dengan ekspresi datarnya "Enggak, nggak ada apa-apa"
"Alesan. Dari kemarin gue perhatiin lo senyum-senyum sendiri mulu, pasti gara-gara teman kelasnya Andi kan" Malvin menaik turunkan kedua alisnya.
Nao melirik Malvin dengan malas "Nggak usah sotoy lo jadi orang" Nao berjalan menjauh mendahului Malvin.
Malvin hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu yang kian hari makin berbeda dari biasanya.
***
Karena mendapat penolakan telepon dari Nao, Adel memutuskan untuk menghentikan taksi. Ia bergegas keluar gerbang dan melambaikan tangannya ketika ada taksi yang lewat.
Sepertinya hari ini hari sialnya Adel. Sudah 3 taksi yang melewatinya namun tidak ada satu pun yang berhenti karena membawa penumpang lain.
Adel semakin kesal becampur panik karena ia sudah pasti akan terlambat ke sekolah.
"Awas lo, Nao. Gue bakal balas perbutan lo. Dasar cowok jahat. Huh...!! Gue harap ban mobil lo nanti bocor pas lo pulang" umpat Adel seraya mengepalkan tangannya di udara.
Akhirnya Adel berhasil sampai di sekolah. Ini kali pertama dalam masa sekolahnya ia mempunyai catatan terlambat.
Adel dan murid lain yang juga terlambat tengah mencabuti rumput dan menyapu halaman sekolah. Adel mengerjakan hal itu seraya mendengus kesal.
"Gara-gara lo, rekor gue sebagai murid yang tidak pernah telat selama ini tercoreng" gumamnya sambil mencabut rumput.
Siswi yang ada di depannya hanya menatap heran pada Adel. Ia lalu berbisik pada siswi di sampingnya. Mungkin saja mereka berteman karena keduanya kompak menatap Adel dengan tatapan heran. Adel memilih mengabaikannya. Toh ia tidak mengenal mereka.
Setelah menyelesaikan hukumannya, Adel bergegas memasuki kelas. Betapa malunya ia ketika teman sekelasnya mentertawakan kehadiran Adel yang datang terlambat.
Adel berjalan cepat menuju kursinya dengan menundukkan kepalanya. Ia lalu duduk di kursinya. Ia menaruh kasar tasnya yang membuat Dita semakin mentertawakan Adel.
"Bisa telat juga lo"
Adel melipat tangannya. Ia mendengus kesal.
"Lucu ya kalau gue telat?" tanya Adel dengan tatapan tajam.
"Selama ini, lo kan paling anti sama yang namanya telat Del, makanya kita ngetawain lo"
Adel semkin kesal. Bukannya menghibur, Dita justru menggodanya.
"Kenapa lo bisa telat?" tanya Dita kemudian.
"Gara-gara si seleb" Adel mengambil buku dari tasnya.
"Seleb? Siapa? Maksud lo...Nao?" Dita mengucapkan kata Nao dengan sangat lirih. Adel hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Ingin sekali rasanya Dita kembali mentertawakan sahabatnya itu. Namun karena semua murid sudah kembali fokus dalam mengikuti pelajaran, ia hanya bisa menahan tawanya.
Adel sendiri memutar bola matanya jengah melihat respon Dita.
***
Aku usahain up ya kalau lagi bisa...
__ADS_1