
Malam telah larut. Halaman depan sudah terlihat kosong karena pesta barbeque telah usai. Kevin, Andi, dan Malvin sudah merebahkan diri di dalam kamar mereka.
Begitu juga dengan Adel dan Dita, mereka sudah berada di dalam kamar mereka, mengobrol tentang hal yang berbau k-pop.
"Lo lihat dia nggak di varshow yang itu, beuh ganteng banget sumpah bikin meleleh" celetuk Dita.
"Iya, benar-benar. Mana roti sobeknya pertama kali dilihatin lagi" sambung Adel yang sama hebohnya saat mereka berdua membahas tentang idola dari negeri gingseng itu.
"Ah, lo, bikin gue pengin nonton lagi kan" Dita menyambar ponselnya yang berada di atas nakas. Ia langsung saja menonton kembali acara yang baru saja mereka bahas.
"Eh, gue ke dapur bentar ya, haus banget gue" Adel kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Mau ditemenin enggak?" tanya Dita.
"Nggak usah, bentar doang kok" jawab Adel berlalu keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur.
Saat menuruni tangga, ia mendengar suara TV dari ruang tengah "Siapa yang nonton TV? Gue kira semuanya sudah di kamar"
Tak jadi ke dapur, langkah kaki Adel justru berjalan menuju ruang utama. Terlihat seseorang yang sangat dikenalinya duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya "Nao"
"Belum tidur?" lanjut Adel.
Nao menoleh dan menepuk sofa di sampingnya yang masih kosong "Sini sayang"
Adel duduk di samping Nao "Kenapa belum tidur? Nungguin nasi gorengnya ya?"
Ucap Adel sedikit bercanda. Ia ingat jika Nao memintanya membuatkan nasi goreng gara-gara potongan tomat Nao untuk pesta barbeque tadi sore.
Nao terkekeh "Enggak, aku sudah kenyang"
"Nggak bisa tidur?" tanya Adel lagi.
Nao menggelengkan kepalanya. Ia kemudian menutup laptop yang ada di pangkuannya. Ia tatap gadis cantik yang ada dihadapannya "Bukan sayang. Kamu sendiri kenapa belum tidur?"
"Haus, mau minum tadi" jawab Adel.
__ADS_1
"Sudah jadi minumnya?" tanya Nao.
"Belum, orang aku dengar suara TV jadinya malah ke sini" jawab Adel.
Nao mengambil segelas air yang masih ada isinya setengah "Nih, minum saja punyaku"
Adel menatap gelas itu. Gelas yang sudah ada bibir Nao yang menempel di sana. Pikirannya jadi kemana-mana.
Seperti sadar akan pikiran Adel, Nao mendekat padanya dan berbisik lirih "Nggak papa sayang, kita kan sudah pernah melakukannya"
Nao menjauhkan wajahnya dari Adel saraya terkekeh kecil.
Adel refleks menepuk lengan Nao beberapa kali "Siapa juga yang mikir ke situ" Adel menyambar gelas yang Nao pegang dan langsung meminumnya.
Nao justru semakin menggoda Adel. Ia remas kedua pipi Adel saat Adel selesai minum "Aduhh, gemas sekali calon istirku ini"
"Ihh, curang, kamu curang" Lagi-lagi Adel merasa kesal karena wajah Nao dan sikap Nao padanya membuat dirinya sudah tidak bisa marah pada Nao.
Adel melipat tangannya. Ia menyandarkan badannya sedikit kasar pada sofa.
Sesaat kemudian Adel kembali menegakkan badannya "Oh iya telepon. Katanya kamu mau kasih tahu"
Tentu saja Adel menganggukkan kepalanya dengan antusias.
Nao berdecih. Ia buka lagi laptop yang ada dihadapannya. Ia langsung saja membuka email dan memperlihatkannya pada Adel "Bacalah"
Mata gadis itu hanya mengikuti. Ia kemudian membaca email itu perlahan. Ia baca dengan cermat dari siapa dan apa isi dari email itu.
Adel belum selesai membaca isi dari email itu namun ia sudah paham apa maksudnya. Entah mengapa mulutnya terasa kaku untuk berkata "Jadi, kamu mau kuliah di luar negeri?"
Nao mengangguk pelan "Tadi pihak sekolah yang kasih tahu kalau aku diterima"
Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Sepertinya ia tidak siap jika harus jauh dari Nao selama itu "Kenapa baru bilang? Sejak kapan kamu mendaftar?"
"Sudah lama, sebelum aku kenal kamu" jawab Nao.
__ADS_1
Air mata Adel perlahan mengalir "Kenapa baru bilang sekarang? Kenapa nggak bilang dari dulu? Kan dulu waktu di kantin sempat kita bahas sama yang lain"
Nao mengusap lembut pipi Adel yang sudah basah terkena air mata "Mereka juga nggak ada yang tahu sayang, dan lagi, waktu itu aku masih belum tahu haruskah aku memberitahumu atau tidak"
Tangisan Adel semakin menjadi. Bagaimana bisa ia menerima kenyataan mengerikan seperti itu. Baru saja mereka dekat dan sebentar lagi akan bertunangan, tapi mereka justru harus terpisah cukup lama karena jarak.
Genggaman tangan Nao semakin kuat. Ia kemudian memeluk Adel dengan erat. Gadis itu malah semakin menangis di dalam pelukan Nao.
"Maafkan aku sayang, harusnya aku memberitahumu sejak lama, maaf" bisik Nao.
Cukup lama Adel menangis dalam pelukan Nao. Enggan rasanya ia melepas pelukan yang begitu nyaman.
Sekarang gadis itu sudah terlihat tenang. Ia hanya terdiam dalam pelukan Nao. Ia tak tahu harus berkata apa.
"Tidur gih, sudah malam" ucap Nao mengelus lembut kepala Adel.
Adel menggelengkan kepalanya "Nggak mau, maunya sama kamu dulu"
Nao terkekeh kecil. Ia melepas pelukkannya dan menatap lembut pada Adel "Masih ada waktu sebelum aku berangkat"
Tak ada jawaban apapun dari Adel. Ia hanya terdiam, cemberut, dengan menatap Nao.
Tangan Nao mengelus pipi Adel "Istirahat ya sayang, aku antar. Kamu pasti capek seharian ini, ya?"
Adel menghela nafas. Malas sekali rasanya berpisah dengan Nao setelah mengetahui fakta menyebalkan ini.
"Ayo, aku antar" pinta Nao lagi.
Adel hanya mengangguk pelan. Ia turuti saja permintaan Nao.
Mereka kemudian menapaki tangga menuju kamar atas dengan bergenggaman tangan hingga sampai di depan kamar Adel.
"Good night, sweet dream sayang" ucap Nao kemudian melepas genggaman tangannya.
Adel hanya menganggukkan kepalanya sekilas " You too" ia lalu memasuki kamar.
__ADS_1
Begitu juga dengan Nao, ia juga beranjak menuju kamarnya.
***