Canda Kita

Canda Kita
Masakan Papa


__ADS_3

Di suatu sore hari, seorang pria paruh baya tengah memasak dengan panduan dari video youtube. Ia adalah Bram, papanya Nao.


Ia tengah menjalani hukuman dari kekalahannya saat taruhan dengan istrinya. Ia bersenandung seraya fokus menatap layar ponsel. Ia ikuti instruksi dari video yang sedang diputarnya.


Dengan telaten ia memoton bahan-bahan meskipun bentuknya amburadul, yang penting ia sudah berusaha.


Bram mulai memasak. Ia memasukkan semua bahan secara bertahap sesuai urutan. Kemudian ia mulai membumbuinya. Garam, lada, gula, dan yang wajib ialah micin.


Setelah itu ia langsung mengangkat sayuran itu. Entah sudah matang apa belum, nanti biar Asri dan Nao yang membuktikan.


Usai memasak sayur, Bram beralih untuk memanggang ayam. Ia mengoles bumbu kecap sekilas dan mulai memanggangnya. Ia tinggalkan ayam itu dan beralih mengolesi ayam yang masih mentah.


"Aduh...papa, matikan kompornya, ayamnya gosong itu" teriak Asri saat ingin memeriksa keadaan suaminya.


Bram panik. Ia meniup kompor yang justru membuatnya muncul kobaran api.


"MAMA...."


Asri bergegas lari mendekati kompor. Ia matikan kompornya dan memindahkan pemanggang berisi ayam gosong ke washtafel lalu ia menyalakan air kran agar bakaran ayamnya terhenti.


"Untung saja mama ke dapur, kalau tidak sudah terbakar rumah kita pa" omel Asri.


"Maaf ma, papa kan sudah bilang kalau papa tidak bisa masak"


Asri mengedarkan pandangannya pada area dapur. Dilihatnya berbagai sisa bahan masakan berserakan di lantai dapur. Ia menggelengkan kepalanya sambil berkacak pinggang.


Bram hanya bisa nyengir "Ma, nanti papa bereskan"


Asri mengibaskan salah satu tangannya "Sana papa menonton TV saja, biar mama yang bereskan dan mama yang lanjutkan memasak"


Bram memperlihatkan giginya yang rapi seraya mengacungkan kedua jempolnya untuk istrinya "Makasih ma"


Asri hanya menjawabnya dengan helaan nafas. Bram berlalu menonton acara kesukaannya. Asri mulai membereskan kekacauan yang telah dibuat oleh suaminya.


Dengan adanya Asri makan malam kini telah siap. Ia lalu memanggil suami dan juga putranya untuk makan malam.


"Wah...mama memang paling terbaik" Bram kembali memuji istrinya. Sementara Nao hanya terdiam dan memperhatikan.


Asri mengambilkan nasi dan lauk untuk Bram dan juga Nao. Tak lupa sayur yang sudah dimasak suaminya ikut ditaruh di piring keduanya.


"Ini masakan papa kamu nak" Asri menyerahkan sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayur pada putranya.


Nao melirik sayuran itu "Enak?" ia menatap papanya.


Bram tersenyum kaku melihat tatapan tajam sang putra "Kamu coba dulu lah, nak. Papa sudah berusaha"


Nao lalu menyendok sayur buatan sang papa. Ia masukkan ke dalam mulut dan mulai mengunyah. Ia menunjukkan ekspresi aneh.


Sementara papa dan mamanya menatap Nao dengan raut muka penasaran.


"Gimana nak?" tanya Bram yang sudah penasaran dengan ekspresi Nao.

__ADS_1


"Masih mentah dan kebanyakan gula sama micin" ucapnya lalu menyambar tisu.


Seketika Bram menjadi lemas. Ia jadi tak berselera untuk makan.


"Sudahlah pa, papa kan sudah berusaha. Masih ada masakan mama" ucap Asri menenangkan suaminya.


Bram tersenyum samar "Besok-besok mama saja yang masak. Hukuman papa diganti yang lain saja"


Asri menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Nao hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua orang tuanya. Keluarga kecil itu lalu melanjutkan makan malam mereka.


"Ma, 3 hari lagi kita diundang ke pestanya pak Danu. Tapi papa ada dinas ke luar kota. Mama tidak apa pergi ke sana sendiri?" ucap Bram seraya membantu istrinya membereskan piring. Nao sudah berlalu ke kamarnya.


"Tidak apa pa, pak Danu kan teman papa, jadi mama harus ikut meramaikan" Asri menyahuti seraya mencuci piring.


"Ajak anak nakal itu saja ma" saran Bram.


Asri lalu mengelap meja "Nao?" Bram menganggukkan kepalanya.


"Papa kan tahu dia tidak suka acara seperti itu" Asri mengembalikan lap ke tempatnya.


"Tapi, mama akan coba tanyakan" sambung Asri.


"Nanti papa bantu paksa kalau dia tidak mau ma" Asri terkekeh kecil mendengar ucapan suaminya. Mereka berdua berlalu ke kamar untuk istirahat


***


Usai makan, Nao tengah merebahkan diri seraya memainkan ponselnya. Ia sedang membuka aplikasi yang bisa menampilkan berbagai postingan foto dan vidio.


"Instagramnya apa sih?" gumamnya seraya mengetik nama Adel, tapi ternyata ditemukan banyak akun dengan nama Adel. Nao menghela nafas.


Nao membuka galeri guna melihat foto yang pernah dikirimkan oleh Andi. Ia cermati bagian atas namun ternyata tidak ada nama akun Adel di sana.


Nao berdecak kesal "Masa gue tanya Andi?"


Nao lalu membuka jendela obrolannya dengan Andi. Ia masih ragu-ragu beserta malu untuk menanyakan apa nama akun instagram Adel. Ia sudah menulis pesannya, namun kembali ia hapus. Ia ulangi terus hingga muncullah pesan Andi.


"Lo mau nulis apaan? Dari tadi typing mulu nggak kelar-kelar"


"Kelihatan ya?"


"Kelihatan ogeb"


"Gara-gara Adel, gue jadi berani panggil lo ogeb wkwkwk"


Nao memutar bola matanya jengah "Anj*r"


"🤣"


"Jadi, lo mau nanya apaan?"


"Instagramnya dia"

__ADS_1


"Dia siapa?"


"Ya dia lah"


"Adel, maksud lo?"


"Hm"


Andi tertawa di seberang sana "Memang benar ya, orang yang sedang jatuh cinta adalah orang yang paling bodoh"


Nao berdecih "Ngaco lo, siapa juga yang jatuh cinta"


"Lo lah"


"wkwkwkwk"


"Ngawur"


"Ngakak, lo nggak mau ngaku"


Andi lalu mengirimkan tulisan akun istagram milik Adel.


"Tuh akunnya, silakan difollow tapi punya dia digembok. Jadi ya terserah dia mau acc lo apa nggak"


"Anggap aja lo nembak dia, kalau dia acc berarti lo ada kesempatan, tapi kalau enggak, yaudah terima nasib aja"


"Anj*ir, bac*t lo"


"🤣"


Nao bergegas menyalin tulisan yang sudah dikirimkan Andi. Ia tempel pada kolom pencarian dan terlihatlah akun Adel di sana.


Nao lalu membuka akun instagram milik Adel. Dengan pelan ia hendak memencet tombol follow dengan jempolnya.


Nao mengurungkan niatnya. Ia justru teringat pesan Andi.


"Apaan sih, kan enggak ada sangkut pautnya sama perasaan. Dasar Andi" ia menepisnya dengan menggelengkan kepalanya cepat.


Nao kembali menatap layar ponselnya yang masih menampilkan akun Adel.


Nao menghela nafas "Nggak jadi deh"


Nao hendak menekan tombol kembali, namun tiba-tiba ada telepon dari Lando. Ia mengangkat telepon itu. Mereka hanya membicarakan hal tentang basket.


Usai bertelepon, Nao kembali menatap layar ponselnya. Ia terkejut hingga membulatkan matanya saat mendapati dirinya telah menekan tombol follow pada akunnya Adel.


"Ogeb, bisa-bisanya kepencet. Udah pasti notifnya di dia udah ada" Nao mengutuk dirinya sendiri. Perasaan malu dan tegang bercampur aduk menjadi satu.


***


Akankah Adel membiarkan Nao mengikuti akun instagramnya?

__ADS_1


Maaf banget lama up karena lagi nggak sempat 🙏🏻


__ADS_2