Canda Kita

Canda Kita
Harinya Adel


__ADS_3

Adel tengah kebingungan mencari mama mertuanya yang tiba-tiba saja menghilang. Ditambah lagi keadaan apartemen Nao yang gelap tidak seperti biasanya.


Tiba-tiba saja lampu menyala. Memperlihatkan beberapa orang yang sudah Adel kenal.


"SURPRIZE, HAPPY BIRTHDAY ADEL" ucap mereka secara serentak.


Adel sedikit terkejut kemudian ia tersenyum tipis. Tak disangka ia rupanya dikerjai oleh sahabatnya bahkan mama mertuanya ikut andil.


Perasaan lega Adel rasakan karena orang-orang yang ia cari ada di depan mata.


Adel kemudian berjalan mendekati mereka. Senyumannya memudar saat tatapannya mendapati gadis yang berdiri di samping Nao, gadis yang katanya bernama Sifa.


Gadis itu langsung melambaikan tangan pada Adel seraya tersenyum manis "Hai, gue Sifa"


Sifa kemudian mengajak Adel bersalaman "Lo jangan salah paham, gue teman masa kecilnya Nao, tetangganya dia. Baru balik dari Aussie"


Adel menatap lengan gadis itu. Ia berpikir haruskah dirinya bersalaman dengan gadis itu atau mengabaikannya. Ia masih merasa tidak yakin dengan penjelasan dari Sifa. Ia berpikir untuk menunggu Nao yang menjelaskan.


Adel berdeham "Gue Adel" sapanya dan bersalaman sekilas dengan Sifa.


"Happy birthday yah, wish you have a great life and a great journey with Nao" ucap Sifa kemudian.


"Thanks" Adel tersenyum samar.


Setelah itu ucapan demi ucapan Adel terima dari Dita dan juga sahabatnya Nao. Tak lupa Asri juga mengucapkan hal itu pada calon menantu kesayangannya.


Kini hanya tinggal Nao yang belum mengucapkan. Sedari tadi Adel terlihat sinis saat menatap Nao. Pasti dirinya sangat kesal pada Nao. Ditambah lagi ia menunggu penjelasan dari Nao.


"Del, happy birthday" ucap Nao namun tak ada sahutan apapun dari Adel. Adel justru mengerucutkan bibirnya seraya melipat tangannya.


Nao mengambil lengan Adel "Aku tahu kamu pasti kesal dan marah sama aku. Aku bakal jelasin semuanya nanti saat pesta kecil-kecilan ini kelar. So, please kamu senyum dulu yah"


Tatapan Adel masih terlihat kesal. Bagaimana tidak, berhari-hari ia terpikirkan akan hal yang membuatnya resah.


"Ayolah Del, senyum dulu, smile" Dita memeragakan senyuman dengan bibir dan kedua jari telunjuknya.


"Iya Del, smile" Kevin mengikuti.


Dita menatap datar pada Kevin "Apa sih lo ngikut-ngikut lagi"


Kevin hanya menjulurkan lidahnya sebagai jawaban. Seru sekali menggoda cewek galak ini, batinnya.


"Ah sudah, tiup lilin dulu. Del cepetan tiup lilinnya keburu leleh tuh" sela Andi.

__ADS_1


Sesuai ucapan Andi, acara tiup lilin itu dimulai. Sebelumnya Adel memohon terlebih dahulu dan barulah meniup lilin itu. Tak lupa suara tepukan tangan ikut menyertai.


Acara potong kue. Pada siapa Adel akan memberikan kue pertamanya? Mungkinkah Nao?


Usai memotong kue pertama itu, Adel ambil dan ia pegang kue itu. Kemudian ia serahkan kepada Asri.


Sorakan tipis untuk Nao terdengar "Yah, ternyata buat mama lo" celetuk Kevin.


"Siapa tahu yang kedua" timpal Andi.


Potongan kedua. Adel menatap Nao cukup lama seakan memberi pertanda bahwa ia akan memberikan kue itu padanya. Hal itu menjadikan Nao percaya diri. Namun ternyata hal yang tidak di sangka terjadi.


"Buat lo, Andi" ucap Adel kemudian. Ia menyodorkan sepotong kue yang kedua pada Andi meskipun tatapannya tetap pada Nao.


Raut muka Andi langsung terlihat bingung. Ia tidak menyangka Adel akan memberikan kue itu padanya. Ia tatap sepotong kue itu "Buat gue bukan Nao?"


Adel mengalihkan pandangannya dari Nao dan menganggukkan kepalanya untuk Andi "Iya, buat lo, Andi"


"Thanks ya Del" Andi tersenyum kaku karena merasa tidak enak pada Nao.


Sementara yang lainnya berusaha menahan tawanya agar tidak menyinggung perasaan Nao. Namun tidak untuk Kevin, ia tanpa sengaja kelepasan tertawa membuat Nao sontak menatap tajam padanya.


"Jangan diketawain" ucap Dita mengingatkan.


Kevin memutar bola matanya "Kayak lo saja enggak"


Adel hanya bisa menggelengkan kepalanya "Sudah, sudah, makanlah kuenya"


Dita mengangguk dan mulai mengambil potongan kue yang sudah dipotong kecil-kecil oleh Adel. Hal itupun juga diikuti oleh yang lainnya kecuali Nao.


Rupanya Nao merajuk. Ia sedikit kesal karena Adel tidak memberinya kue pertama maupun kue kedua padanya.


Malvin yang melihat hal itu memberi kode pada Adel agar ia mengembalikan mood Nao. Malvin menyuruh Adel untuk menyuapi Nao.


Adel ikuti saja saran Malvin. Ia kemudian menoleh menatap Nao "Ngambek? Gitu saja ngambek"


Adel kemudian menyodorkan sesendok potongan kue untuk Nao "A, nih spesial buat kamu"


Nao menatap datar pada kue itu. Entahlah dirinya merasa tersinggung atas perlakuan Adel. Namun tetap saja ia makan kue itu.


Adel tersenyum tipis "Nah gitu dong, good boy"


Nao tersenyum seraya berdecih. Tetap saja ia luluh akan tingkah laku Adel yang menggemaskan.

__ADS_1


Canda tawa dan obrolan ringan mereka membuat waktu berjalan terasa cepat. Meskipun Adel masih canggung denan kehadiran Sifa, namun hal itu tertutupi akan obrolan-obrolan yang lainnya.


Haripun sudah semakin sore. Satu persatu dari mereka mulai berpamitan. Suasana hati Adel kembali senang karena esok hari Nao dan teman-temannya tidak akan lagi bersikap cuek dan berbeda padanya. Selain itu Adel bisa tenang dalam mengerjakan ujiannya.


***


Kini hanya tinggal Adel, Nao, dan juga Asri yang masih di apartemen untuk bersih-bersih sekilas.


Usai selesai, Asri berpamitan terlebih dahulu karena ia tahu Adel dan Nao pasti membuthkan waktu berdua untuk mengobrol.


"Mama pulang duluan ya, kasian papa nanti makan malm sendirian" pamit Asri.


"Nggak bareng sama kita saja ma?" tanya Nao.


Asri menggoyangkan tangannya "Nggak usah, mama juga sudah pesan taksi"


Asri beralih menatap Adel "Mama pamit ya Del, maaf tadi sempat buat kamu panik"


Adel tersenyum samar "Nggak papa kok ma, hati-hati di jalan ya ma"


Asri memeluk Adel "Iya sayang, makasih ya" ia beralih memeluk Nao.


Pintu tertutup setelah kepergian Asri. Hening, suasana itulah yang terjadi. Ada rasa sedikit canggung yang Nao rasakan karena Adel sudah menunggu penjelasannya.


Keduanya duduk di sofa. Adel kemudian mengambil bantal sofa untuk ditaruh di atas pahanya. Tatapannya ke depan. Ia tidak mau menatap Nao sebelum pria itu mulai menjelaskan.


"Del, aku tahu kamu pasti kesal dan marah sama aku. Aku akan jelasin semuanya. Jadi..." ucapan Nao terpotong saat Adel menoleh menatapnya.


"Nggak usah, aku percaya sama kamu. Semuanya sudah jelas, dari tadi sudah aku pikirkan" Adel kemudian tersenyum manis.


Hal itu membuat Nao langsung memeluk lembut gadis itu. Perasaannya sangat lega saat mengetahui Adel percaya padanya.


"Sorry tadi kuenya buat Andi. Habisnya aku juga ingin buat kamu kesal" ucapan Adel membuat Nao refleks melepas pelukannya. Terlihat Adel menyengir di sana.


"Tapi kan tadi sudah aku suapin" sambung Adel.


Nao hanya menatap lekat pada Adel seraya tersenyum tipis.


Adel menengadahkan tangannya "Mana kadoku?"


Nao menatap telapak tangan itu "Nggak ada"


"Aish, pelit kamu" Adel kemudian melipat tangannya seraya mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Nao langsung terkekeh. Betapa lucunya calon istrinya ini.


***


__ADS_2