
Usai kepergian Andi dan Kevin, Nao mengajak Adel untuk pulang. Benar juga apa yang dikatakan Kevin jika mereka terlalu lama berduaaan saja bisa berbahaya.
Nao menengadahkan tangannya "Sini kemeja gue"
Adel menoleh dan menyodorkan kemeja hitam itu pada Nao. Langsung saja kemeja itu Nao pakai.
"Ayo pulang" ajak Nao kemudian.
"Sekarang? Emang sudah nggak hujan?" tanya Adel.
Nao menatap keluar jendela dan kembali menatap Adel "Sudah enggak"
Adel berdiri dari duduknya. Ia merapikan sekilas pakaiannya dan menyambar sling bagnya pada meja. Tak lupa sampah yang ada di atas meja ia ambil untuk dibuang ke tempat sampah.
Mereka berdua keluar dari apartemen Nao. Terlihat Nao masih belum beranjak dari depan pintu. Ia terlihat sibuk memencet tombol password "Ingat ya 190212"
Adel memiringkan kepalanya. Ia bingung untuk apa Nao menyuruhnya mengingat password apartemennya. Apakah Nao pikir Adel akan kembali ke sana?
Mereka memasuki lift menuju basement. Hanya diam yang menemani mereka sampai Adel ketahuan melirik Nao.
"Kenapa ngelihatin?" tanya Nao menatap lurus ke depan. Adel buru-buru menggelengkan kepalanya cepat.
"Lo weekend ke mana?" tanya Nao.
"Gue mau ke makam mama" jawab Adel dengan menundukkan kepalanya.
"Sendiri?" tanya Nao.
"Enggak, sama papa, hari itu hari pernikahan mereka berdua" ucap Adel dengan sorot mata yang terlihat jelas sedih.
"Sorry, gue nggak bermaksud. Em...gue boleh ikut?" pinta Nao.
Adel menoleh dan tersenyum lembut sembari menganggukkan kepalanya. Hal itu dibalas senyuman juga oleh Nao.
'ting'
Mereka sampai di parkiran. Begitu Nao menyalakan motornya, Adel segera menaiki motor itu. Adel di belakang sana terlihat ragu untuk melingkarkan kedua tangannya pada Nao.
Nao menoleh sekilas "Pegangan ya Del"
__ADS_1
Dengan aba-aba dari Nao, Adel pada akhirnya melingkarkan kedua tangannya pada Nao. Sudut bibirnya sedikit naik dan tak lupa ia kembali berdebar.
Obrolan ringan kali ini Nao ucapkan di tengah perjalanan mereka menuju rumah Adel. Hingga tak terasa keduanya sampai di depan rumah Adel.
Adel melepas tangannya yang melingkari perut Nao "Nao, yang tadi itu sebenarnya apa? Lo mau anggap hal itu kecelakaan?"
"I don't think so. Tunggu ya Del sampai gue benar-benar yakin" ucap Nao.
"Thanks ya" Adel turun dari motor. Tak lupa Nao membantu Adel melepas helmnya.
Nao menatap lembut pada Adel usai melepas helm yang dikenakan Adel "Gue pulang dulu"
Adel menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lembut. Tak lupa ia melambaikan tangannya saat motor Nao sudah kembali menyala.
***
Di lain waktu. Idola SMA Helius tengah menghabiskan waktu istirahat mereka di kursi taman sekolah.
Malvin yang tengah bercanda tawa dengan sahabatnya, tiba-tiba saja menerima telepon dari seseorang.
Malvin menjawab telepon itu. Raut muka Malvin yang tadinya terlihat senang dengan sahabatnya seketika tatapanya menjadi kosong.
Hal itu membuat ketiga sahabatnya bingung sekaligus penasaran dengan hal apa yang baru saja didengar Malvin dari teleponnya.
"Malvin, lo kenapa?" Andi menggoyangkan salah satu tangannya di depan wajah Malvin namun tak ada kata yang mampu keluar dari mulut Malvin.
Kevin membantu Malvin mengambil ponselnya yang tergeletak di tanah "Lo kenapa bro? Ada apa?"
"Lo kenapa?" Nao memegangi pundak Malvin.
Malvin menatap ketiga sahabatnya dengan tatapan kosongnya. Rasanya ia tidak mau percaya dengan apa yang baru saja didengarnya "Nyokap gue..."
"Nyokap lo kenapa?" sahut Kevin dengan nada khawatir.
Malvin menundukkan kepalanya "Nyokap gue sudah nggak ada"
Deg.
Ternyata telepon yang diterima Malvin adalah telepon dari rumah sakit tempat mamanya dirawat. Ia tak menyangka jika mamanya akan meninggal secepat itu. Padahal kemarin saat ia sedang bersama sang mama, beliau terlihat seperti sedia kala saat penyakit itu belum dideritanya.
__ADS_1
Malvin tertunduk lesu dengan memejamkan kedua matanya. Tangannya ia taruh di dahi sebagai penopang agar dirinya tidak kehilangan kesadaran.
"Nyokap lo? Maksud lo?" tanya Andi yang masih bingung dan tidak percaya dengan ucapan Malvin.
Kevin yang masih memegang ponsel Malvin melihat nama yang tertera pada panggilan telepon yang masih tersambung.
Terlihat nama 'Dokter Sania' membuat Kevin menebak jika Malvin menerima telepon itu dari rumah sakit.
"Nyokap lo dirawat?" tanya Kevin kemudian dan hanya anggukan kepala pelan sebagai jawaban dari Malvin.
"Nyokap lo sakit? Sakit apa? Kenapa lo nggak ngomong sama kita?" tanya Nao beruntun sama khawatirnya dengan yang lain.
Tak ada satupun pertanyaan Nao yang Malvin jawab. Ia diam membisu usai mendengar kabar tentang sang mama. Ia sangat terpukul atas kepergian mamanya.
Malvin kemudian berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan ketiga sahabatnya. Ia berjalan cepat menuju parkiran. Saat sampai di parkiran, ia berusaha memasukkan kunci mobil namun karena rasa panik yang menyelimutinya, kunci itu tak kunjung berada di tempatnya.
"Biar gue ikut lo ke rumah sakit" Nao menggenggam lengan Malvin. Rupanya Nao langsung berlari mengejar Malvin.
Malvin menoleh dan menatap Nao dengan tatapan kosong bercampur rasa panik.
"Biar gue yang anter lo" ucap Nao lagi membuat Malvin bergeser ke kursi penumpang.
Nao bergegas masuk. Mereka mengenakan seatbelt dan Nao segera melajukan mobil menuju rumah sakit.
Dalam perjalanan, Nao sama sekali tidak menanyakan apapun pada Malvin karena ia tahu Malvin pasti sangat terluka. Apalagi hanya sang mama satu-satunya keluarga yang Malvin punya saat ini.
Dengan kecepatan cukup tinggi mereka sampai di rumah sakit dalam waktu singkat. Mereka segera turun dari mobil dan menuju ruang rawat tempat mamanya Malvin berada.
Malvin menghentikan langkah kakinya sejenak saat baru memasuki ruang rawat. Ia melihat mamanya yang sudah ditutupi kain putih. Tiba-tiba saja langkah kakinya terasa berat. Air mata yang sudah ditahannya sejak tadi pada akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Malvin kemudian berjalan pelan mendekati ranjang mamanya. Ia membuka pelan kain putih yang menutupi wajah sang mama.
"Ma..." Malvin menggenggam tangan sang mama.
"Ma, maafin Malvin ma. Maaf, Malvin tidak bisa menepati janji Malvin" air mata kembali mengalir membasahi pipi Malvin.
Nao yang berada di samping Malvin mengelus lembut pundak Malvin. Ia bisa merasakan betapa Malvin sangat terpukul akan kepergian mamanya dan betapa beratnya kehilangan orang yang sangat disayanginya.
***
__ADS_1