Canda Kita

Canda Kita
Untuk Sementara


__ADS_3

Seorang gadis tengah duduk sendirian di sebuah cafe yang menjual beraneka ragam gelato. Siapa lagi kalau bukan Adel. Kebiasaan dirinya bersama sang mama saat merasa sedih adalah membeli es krim. Hal ini hanya Adel dan almarhum mamanya saja yang tahu.


Adel melamun menatap keluar jendela. Ia biarkan es krim yang ada di depannya meleleh dengan sendirinya.


Entahlah tak ada nafsu untuk sekedar menyendok es krim itu. Ia sudah tidak menangis namun pikiran gadis itu kalut. Hatinya merasa sakit mengingat hal yang baru saja dilihatnya.


Adel mengambil sendok yang ada di samping es krim itu. Ia kemudian menghela nafas panjang seraya menatap es krim itu.


Sesendok es krim sudah ada di tangannya. Ia tatap dulu es krim itu sebelum akhirnya ia makan juga.


Adel kembali menghela nafas panjang "Kok gue nangis sih lihat Nao dipeluk cewek lain? Kok di sini sakit ya? Padahal kan gue nggak ada perasaan apa-apa sama dia. Tapi kenapa kayak gini?"


Perlahan air mata kembali mengalir dari pelupuk mata Adel. Entahlah gadis itu ingin menolak kenyataan yang ada mengenai perasaannya pada Nao, namun hatinya tidak bisa berbohong.


Adel kemudian menyambar tisu guna menyeka air matanya. Ia mengambil ponselnya hendak mengecek jam. Ia baru sadar jika sedari tadi ponselnya refleks ia matikan saat berada di dalam taksi.


Ponsel Adel kembali menyala. Puluhan pesan dan panggilan tak terjawab dari Nao menghiasi layar ponsel Adel. Sesaat sebelum membuka pesan itu, Nao kembali meneleponnya.


Adel menekan tombol berwarna hijau dengan sedikit ragu. Begitu telepon itu dijawab, suara penuh kekhawatiran terdengar di seberang sana.


Nao menanyakan keberadaan Adel saat ini namun gadis itu justru bungkam. Ia hanya mendengarkan saja ocehan Nao di seberang sana. Tak ada respon.


"Nao, aku mohon, untuk sementara jangan hubungi aku atau bertemu denganku dulu. Biarpun di sekolah, bisa kan untuk saling tak acuh?" ucap Adel kemudian. Ia matikan sambungan telepon dari Nao. Gadis itu kembali menangis.


***


Hari berikutnya. Adel sengaja berangkat lebih awal dengan menaiki bus. Rupanya ia serius dengan ucapannya yang kemarin.


Di sekolah, Adel berusaha agar terlihat baik-baik saja. Dirinya berbaur dengan teman sekelasnya seperti biasanya.


Jam istirahat tiba. Seperti biasa, Andi akan menghampiri meja Adel dan Dita agar ke kantin bersama Nao.


"Ayo" ajak Andi.

__ADS_1


Dita segera berdiri dari duduknya namun tidak untuk Adel. Gadis itu justru tetap duduk manis.


Dita menatap Adel "Ayo Del"


Adel tersenyum samar "Kalian duluan saja, gue bawa bekal kok"


"Kan bisa dimakan di kantin juga Del" elak Dita.


"Gue pengen makan di sini saja" Adel kembali tersenyum samar.


"Yaudah Dit, kalau Adel nggak mau ikut jangan dipaksa, lo gabung saja ayo, seperti biasa" timpal Andi.


"Yaudah deh, Del, gue duluan ya" pamit Dita dan hanya dibalas anggukan kepala dari Adel.


Adel menatap kepergian Dita dan Andi dari kelas. Samar-samar terlihat Nao sudah berada di depan kelasnya. Mata mereka bertemu. Mereka bersitatap. Kemudian Adel mengalihkan pandangannya dari Nao.


Sejak mendengar ucapan Adel kemarin, Nao turuti saja kemauan Adel. Toh ia ingin menjelaskan semuanya pada Adel percuma saja sebelum gadis itu sendiri yang akan memberinya kesempatan.


Sementara itu ketika di kantin. Sahabat dari mereka berdua tentu saja merasa curiga.


Nao hanya mematap Dita sekilas. Tak ada jawaban untuk Dita karena Nao memilih diam.


Kevin menuang kecap pada semangkuk soto yang dipesannya "Mana ada, lo nggak ingat kemarin mereka berduaan abis kita tinggal. Teman lo saja kali yang malu"


Andi mengambil gorengan "Takut digodain sama lo, makanya dia milih di kelas saja"


Kevin menatap datar pada Andi. Ia kemudian menepuk lengan Andi sekilas "Ngaca sono, lo juga suka ikutan"


Andi hanya menyengir dengan tuduhan Kevin karena memang benar adanya.


"Guys, gue boleh minta tolong sama kalian enggak?" tutur Nao tiba-tiba.


"Tolong apa?" tanya Malvin.

__ADS_1


"Ini tentang..." jawaban Nao membuat yang lainnya menatap heran padanya. Jangan-jangan apa yang diucapkan Dita benar adanya kalau dirinya ada masalah dengan Adel.


Di sini Nao mulai menjelaskan semuanya pada keempat orang itu. Mereka hanya merespon singkat dan terkadang menganggukkan kepalanya.


Jam istirahat hampir usai. Nao dan yang lainnya kembali ke kelas masing-masing. Sampainya di depan kelas Adel, pria itu menatap Adel yang terlihat sibuk menulis.


Mereka kembali bersitatap saat Adel tanpa sengaja menatap ke arah pintu.


Nao hanya menatap Adel dengan datar sebentar. Ia terlihat sedikit tertawa karena obrolan dengan sahabatnya. Setelahnya ia terlihat berpamitan dengan Andi dan pergi dari depan kelas Adel.


Dita duduk di samping Adel. Sementara Adel menatap Dita dengan seksama. Ia berharap Nao menitipkan pesan padanya.


Dita mengambil buku "Tadi di kantin, Nao..."


"Nao kenapa Dit? Nao titip salam ke gue kan?" ucap Adel dalam hatinya. Rupanya ia berharap.


"...foto sama adek kelas Del, terus...." begitulah lanjutan perkataan Dita yang sangat tidak diharapkan oleh Adel.


Adel memilih mengabaikan cerita Dita yang menurutnya tidak penting. Ia kembali menyibukkan diri.


***


Pulang sekolah tiba. Adel berjalan bersama beberapa teman sekelasnya. Terlihat mobil Nao melewatinya begitu saja bahkan tanpa adanya bunyi klakson yang terdengar.


"Itu mobil Nao kan? Lo nggak bareng sama Nao?" tanya Ria.


"Oh, itu, Nao, ada urusan" Adel memberikan jawaban palsu.


Teman sekelas Adel hanya manggut-manggut karena mereka percaya begitu saja akan ucapan asal dari Adel.


Sampainya di depan gerbang sekolah, teman-teman Adel berpamitan. Kini hanya ada dirinya yang duduk di halte guna menunggu bus yang datang.


Sepi. Hal itu yang ia rasakan tanpa adanya Nao di sisinya. Pikiran Adel semakin kacau. Sepertinya Nao dan gadis itu bertemu kembali. Gadis yang Adel kira adalah kekasihnya Nao.

__ADS_1


***


__ADS_2