Canda Kita

Canda Kita
Kekhawatiran


__ADS_3

Pulang sekolah tiba. Nao terang-terangan mampir ke kelas Adel untuk pulang bersama.


Sebenarnya alasan Nao berada di sekitar Adel adalah untuk memastikan tidak ada hal buruk yang menimpa Adel.


"Widih jemput Andi apa tunangan?" goda Kevin yang mendapati Nao berhenti di depan kelas Andi.


Nao hanya menatap datar pada Kevin. Sementara Kevin justru terkekeh.


Selang beberapa menit Andi keluar dari kelasnya. Langsung saja Kevin dan Malvin beranjak menuju parkiran.


Namun tidak untuk Nao, ia masih setia menunggu Adel.


Andi menepuk bahu Nao sekilas "Kita duluan bro"


"Duluan ya" sambung Kevin. Sementara Malvin hanya melambaikan salah satu tangannya sekilas.


Nao menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia kemudian menatap arlojinya.


Tak butuh waktu lama, Adel dan Dita keluar dari kelas bersamaan sembari berbicara.


Dita menyadari akan kehadiran Nao. Ia lalu menyenggol lengan Adel "Eh, ada Nao tuh. Cie sekarang sudah nggak ngumpet-ngumpet lagi"


Adel menoleh menatap ke arah pintu dan benar saja kalau Nao berada di sana, sedang menunggunya.


"Hai, lo nggak papa?" tanya Nao saat Adel sudah berada di depannya.


Dita berdeham dan memilih untuk pamit pulang lebih dulu.


"Gue nggak papa kok" Adel menjawab lalu mulai melangkah menuju parkiran.


Nao mengikuti langkah Adel "Beneran nggak ada yang apa-apain lo?"


Adel tersenyum samar seraya menganggukkan kepalanya.


"Syukurlah kalau lo nggak kenapa-kenapa. Kalau ada apa-apa bilang ke gue ya" ucap Nao.


Adel kembali tersenyum samar "Gampang"


Sampai di parkiran, mobil Nao langsung melaju menuju rumah Adel.


Nao menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berwarna merah "Konsernya dua hari lagi ya?"


"Hu um" jawab Adel.


Nao mengetuk jari-jemarinya pada setir mobil "Lo bisa skip enggak?"

__ADS_1


Adel menoleh menatap Nao "Maksud lo?"


Nao menoleh ke luar sekilas "Ya, lo batalin aja nonton konsernya"


"Nggak bisa, gue sudah janji mau datang" Adel kemudian menatap depan.


"Lo nggak takut sesuatu mungkin terjadi sama lo, ditambah lagi ada anak dari sekolah lain" tutur Nao.


Adel bergeming. Ia tak menanggapi Nao dan hanya menatap lurus ke depan dalam lamunan.


"Kalau lo nggak mau ikut yaudah" ucap Adel kemudian.


Nao menghela nafas "Oke, fine. Gue temenin lo"


Adel melipat tangannya "Kalau lo terpaksa mending nggak usah"


Nao kembali menghela nafas. Untung stock kesabarannya melimpah "Enggak del, bukan gitu. Oke, gue jemput lo"


Terdengar suara klakson dari belakang. Ternyata lampu lalu lintas sudah berwarna hijau. Nao segera melajukan mobilnya.


Setelahnya tak ada perbincangan lagi di antara Adel dan Nao bahkan sampai di pelataran rumah Adel.


Adel melepas seatbeltnya dan memegang gagang pintu "Thanks"


Belum sempat pintu terbuka, Nao menarik lengan Adel dan menjatuhkan Adel dalam pelukannya.


"Sorry" ucap Nao lirih di dekat telinga Adel.


"Sorry del" ucap Nao lagi.


Adel semakin bingung dengan sikap dan ucapan Nao. Kenapa ia meminta maaf, padahal ia tidak ada salah pada Adel.


Ini kedua kalinya Adel berada dalam pelukan Nao. Pelukan yang terasa begitu hangat dan menenangkan hingga membuat Adel merasa nyaman dan damai.


Nao melepas pelukannya. Ia menatap lekat pada Adel "Masuk gih, bisa bahaya kalau lo lebih lama di sini"


Adel memiringkan kepalanya. Ia tidak mengerti apa maksud dari ucapan Nao.


Nao tersenyum tipis "Titip salam buat papa lo ya"


Adel menganggukkan kepalanya. Ia kemudian membuka pintu mobil, keluar dari sana, dan segera memasuki rumahnya.


***


Sepulang sekolah sudah menjadi kebiasaan Malvin pergi ke rumah sakit untuk menemani sang mama.

__ADS_1


Akhir-akhir ini keadaan mamanya semakin membaik dan membuat Malvin yakin mamanya akan sembuh.


"Aku keluar dulu ya ma" pamit Malvin dan diangguki sang mama.


Malvin keluar dari ruangan mamanya dengan membawa buku. Kebetulan ia ada PR fisika untuk esok hari.


Malvin memilih duduk di kursi taman yang tak jauh dari ruangan mamanya.


Saat sedang asyik mengerjakan PR, suara roda kecil dengan adanya tiang yang membawa infus berada di dekatnya.


Malvin mendongakkan kepalanya. Ia menatap gadis yang sudah sering ditemuinya di rumah sakit ini.


"Tiara" tutur Malvin lalu menutup bukunya.


Tiara tersenyum tipis "Gue duduk sini ya" pintanya dan langsung diangguki oleh Malvin.


"Kok ditutup? Sudah kelar kerjain PR nya?" tanya Tiara kemudian.


Malvin terkekeh kecil "Tinggal satu sih"


"Tinggal satu ya selesain dong" Tiara membuka buku Malvin.


Malvin justru tersenyum tipis dengan perlakuan Tiara "Kan ada lo, ngobrol aja mending. Ini entar gue selesain di kamarnya nyokap gue aja"


Tiara hanya manggut-manggut. Ia menatap ke bawah menatap rerumputan di sana.


"Gue ngerasa waktu gue bentar lagi" ucap Tiara.


Malvin mengkerutkan keningnya "Maksud lo?"


"Ya, gue capek aja tiap hari harus hidup pakai ginian" Tiara merujuk pada infusnya.


"Kemarin gue mimpiin bokap gue yang udah meninggal, dia bilang ke gue kalau katanya dia kangen sama gue. Dia juga bilang kalau kita bentar lagi ketemu" sambung Tiara.


Entah mengapa hati Malvin terasa sakit mendengar ucapan Tiara. Ia seakan tidak rela jika Tiara pergi meninggalkannya.


Hari-hari di rumah sakit hampir sepenuhnya Malvin habiskan bersama gadis itu.


Gadis itu yang selalu menghiburnya dan membuatnya tersenyum di kala menghadapi kenyataan akan keadaan sang mama.


Malvin menggenggam tangan Tiara untuk pertama kali "Tolong jangan berkata seperti itu. Mimpi hanyalah bunga tidur. Lo harus tetap bertahan Tiara. Lo harus yakin kalau lo bisa sembuh"


Cairan bening mengalir membasahi pipi Tiara. Ia kemudian tersenyum lembut menatap Malvin "Thanks ya, gue bakal berusaha. Tapi jika sudah waktunya tiba gue sudah siap"


Malvin semakin mengeratkan genggamannya. Ia menghapus air mata yang membasahi pipi Tiara dan menatap gadis itu dengan lembut.

__ADS_1


***


__ADS_2