Canda Kita

Canda Kita
Bandara


__ADS_3

Nao memilih melajukan mobilnya kembali dengan sedikit kencang. Entah mengapa ia tidak membalas perbuatan Adel. Ia biarkan saja Adel berbuat semaunya. Apalagi Nao baru mendengar kalau Adel baru saja putus dengan Daniel.


Isak tangis Adel mengisi keheningan di dalam mobil itu. Nao sebenarnya kasihan tapi ia tidak tahu harus bagaimana menyikapi Adel.


Nao menghela nafas. Ia mengambil beberapa lembar tisu lalu diberikan pada Adel.


"Lo boleh nangis" ucapnya kemudian. Adel menoleh menatap tisu itu dan mengambilnya. Ia lalu segera mengusap air matanya.


Pandangan mata Nao kembali lurus ke jalanan hingga suara tangisan samar-samar sudah hampir tak terdengar lagi.


"Lo mau ajak gue ke mana?" tanya Adel usai dirinya merasa cukup tenang.


"Bandara, jemput papa"


"Kenapa harus sama gue?" tanya Adel.


"Papa yang minta. Katanya dia pengen ketemu lo" jelas Nao.


Adel hanya ber-oh ria di samping Nao. Ia lalu mengambil airpods dari dalam tas dan memakainya. Ia mendengarkan lagu yang entah mengapa playlist dari lagu itu justru mengingatkannya pada Daniel.


Adel kembali menangis. Air matanya kembali mengalir. Nao yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Nao telah terparkir di kawasan Bandara.


Nao melepas seatbelt yang dikenakannya. Ia menoleh ke samping di mana Adel berada seraya menopang kepala dengan salah satu tangannya.


Nao tengah menatap gadis yang sepanjang perjalanan itu terus menangis. Ia kembali menghela nafas heran.


"Lo, em...lo, tunggu sini aja. Biar gue yang samperin papa" ucap Nao kemudian.


Adel yang tengah mengusap air matanya menoleh menatap Nao "Kalau papa lo nanyain gue gimana?"


Nao lagi-lagi menghela nafas sambil memejamkan matanya "Mata lo bengkak. Kelihatan banget kalau lo abis nangis. Yang ada papa gue bakal tanya macam-macam"


Adel tak menyahuti perkataan Nao. Ia hanya menatap pria tampan itu dengan tatapan bingungnya.


"Gampang. Nanti gue bilang ke papa kalau lo lagi mampir ke suatu tempat" Nao seakan tahu arti dari tatapan Adel.


"Nggak papa?" tanya Adel kemudian. Nao hanya menganggukkan kepalanya sekilas.


Nao lalu membuka pintu mobil. Ia menurunkan salah satu kakinya. Ia menoleh sebelum melangkah keluar "Lo tenangin diri lo dulu. Urusan papa, nggak usah lo pikirin"


Belum sempat Adel menjawab, Nao sudah berlalu keluar dari mobil dan berjalan menjauhi tempat parkir.


Adel menatap punggung pria itu yang kian menjauh dari jangkauan matanya. Tanpa sadar sudut bibirnya sedikit naik.


Beberapa lembar tisu kembali Adel sambar. Ia mengambil cermin dari dalam tasnya. Ia melihat penampakan dirinya yang cukup berantakan. Apalagi matanya yang terlihat sembab dan terlihat sangat jelas kalau dirinya baru saja menangis.


"Astaga, muka gue gini amat" Adel lalu menaruh kembali cermin miliknya ke dalam tas.


Adel mengetuk jemarinya pada kaki. Ia mengedarkan pandangannya pada keadaan sekitar.


Matanya mulai terasa berat. Ia menguap kemudian tanpa sadar ia tertidur pulas. Mungkin ia kelelahan karena menangisi Daniel.

__ADS_1


***


Ponsel Nao bergetar saat dirinya sedang sibuk berjalan menuju area kedatangan. Ia langsung menatap layar ponselnya yang terlihat nama sang papa tengah menelepon. Dengan segera ia menekan tombol hijau pada layar itu.


"Halo pa, papa udah sampai?"


"Papa sudah berada di taksi. Papa langsung ke perusahaan karena ada urusan mendesak yang harus diurus"


Langkah kaki Nao langsung terhenti.


"Kamu sudah di bandara?"


"Baru sampai pa"


"Sama Adel juga?"


"Iya pa, aku sama Adel"


"Haduh...calon mantu sudah repot-repot datang menjemput, tapi papa malah ada urusan mendesak. Maafkan papa ya. Sampaikan permintaan maaf sekaligus salam papa untuk Adel ya Nao"


"Tidak apa pa. Yaudah papa hati-hati"


"Hum, makasih yah nak"


"Iya pa"


.....


Begitulah percakapan antara keduanya. Nao merasa lega karena papanya tidak perlu melihat keadaan Adel yang baru saja menangis seharian.


Nao terkejut saat mendapati gadis yang sedari tadi membuat seisi mobilnya terisi dengan suara tangisan tengah tertidur lelap dengan tenangnya.


Sudut bibir Nao sedikit naik. Ia perhatikan dengan lekat wajah gadis yang baru saja patah hati itu. Entah mengapa hatinya sedikit merasa sakit saat melihat Adel yang diperlakukan seperti itu.


Salah satu tangan Nao terangkat dengan sendirinya. Ingin rasanya ia mengelus lembut samping kepala gadis itu. Namun niat itu ia urungkan. Tangannya terhenti saat jaraknya begitu dekat dengan kepala Adel.


Nao memilih memegang kemudi dan melajukan mobilnya saja.


Di tengah perjalanan, Nao menepikan mobilnya. Rupanya Adel masih saja tertidur dengan lelapnya.


Nao mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Andi.


"Ndi, tolong tanyain temannya Adel. Dia kalau sedih sukanya ke mana" begitulah tulisan pesan Nao untuk Andi.


"Widih, lo apain sampai dia nangis?"


"Jangan-jangan yang kemarin lo bahas sama Malvin?"


"Kemarin ada Kevin sama Lando. Males gue jelasin ke mereka"


"Buruan tanyain"


"Sabar kalik, ini gue lagi chat anaknya"

__ADS_1


~5 menit kemudian~


"Pantai. Katanya ke pantai. Emang kalian ada apa?"


"Bukan gue, tapi dianya yang ada masalah"


"Dahlah males gue jelasin ke lo"


"Thanks ya"


"Oke, yaudah gue tanya Malvin aja"


"Terserah lo"


"Siap bro..."


.....


Usai mendapat jawaban dari Andi, Nao bergegas melajukan mobilnya menuju pantai yang terdekat dari jangkauannya.


Nao sempat menoleh guna memeriksa Adel. Namun gadis itu ternyata masih tertidur pulas.


Tak butuh waktu lama, mobil Nao memasuki wilayah pantai. Pantai itu terlihat tidak begitu ramai. Nao menepikan mobilnya sembarang. Ia kembali menatap Adel.


Nao menghela nafas menatap gadis itu. Ia ingin membangunkan Adel namun ia tidak mau mengganggunya.


Pada akhirnya ia berinisiatif dengan membuka bagian atas kaca mobil agar suara ombak terdengar dan berharap bisa membangunkan Adel.


Perlahan mata Adel mulai membuka "Heum...pantai" ucapnya terbangun seraya menegakkan duduknya.


"HAA??? PANTAI??" Adel mengucek matanya.


Adel melongo. Ia menatap hamparan pantai di depannya. Kemudian ia menoleh "Papa lo?"


"Udah duluan, katanya ada urusan mendesak di perusahaan" jawab Nao dengan datarnya.


"Terus ini? Kenapa ke pantai?" Adel memiringkan kepalanya. Ia heran.


Nao berdeham. Ia mengalihkan pandangannya "Gue pengen ke pantai"


"Ha???" Adel menatap Nao dengan bingung.


Nao melepas seatbeltnya "Gue mau turun. Lo mau ikut nggak?"


"Terus papa lo?" Adel masih saja bingung.


Nao menghela nafas "Udah duluan. Dia tadi udah naik taksi"


"Jadi papa lo..?" pertanyaan beruntun Adel dimulai. Nao memilih mengabaikannya dan segera turun dari mobil.


Adel juga mengikuti Nao. Ia mengekori Nao sambil menerornya dengan pertanyaan tentang seputar papanya Nao yang tidak berada satu mobil dengannya.


Ternyata Adel masih bingung dengan situasinya.

__ADS_1


***


TBC ♡


__ADS_2