Canda Kita

Canda Kita
Ulang Tahun


__ADS_3

Tak butuh waktu lama, berita Adel dan Nao yang katanya sudah tunangan mulai menyebar di sosial media.


Ponsel Adel dan juga Nao sontak ramai karena keduanya sama-sama menerima pesan dari sahabat mereka.


Adel yang tengah duduk dengan kesal mengambil ponselnya di saku. Rupanya Dita menerornya dengan banyak pesan.


Mata Adel membelalak mengetahui artikel yang dikirim Dita. Yaitu artikel tentang dirinya dan Nao.


Adel berdecak kesal "Gara-gara lo rahasia ini terbongkar"


"Rahasia apa?" tanya Nao. Ia tidak tahu apa yang dibicarakan Adel karena dirinya tak membuka teror pesan dari para sahabatnya.


Adel menghela nafas kesal "Yaelah pake nanya, nggak inget lo barusan di tempat les ngomong apaan"


Nao hanya mengangkat bahu bersamaan dengan kedua alisnya karena dirinya belum paham akan maksud Adel.


Adel mendengus kesal menatap Nao "Arrgh ogeb lo, masa nggak paham"


Nao berpikir sejenak mengingat ucapannya di tempat les "Oh maksud lo yang itu, maksud lo rahasia kalau lo sama gue udah tunangan kan"


Nao tersenyum miring "Lo tenang aja, nggak bakal ada yang berani apa-apain lo, apalagi bully lo. Lihat saja besok, paling mereka minta foto sama lo, terus pengin temenan sama lo"


Sebagai jawaban, Adel hanya memutar bola matanya malas mendengar penjelasan Nao. Sungguh sangat narsis, pikir Adel.


Mobil terus melaju dengan ditemani keadaan diam dari keduanya.


Ditengah perjalanan, Nao menepikan mobilnya. Ia menghentikan mobilnya di depan toko kue.


Nao kemudian membuka seatbeltnya "Ikut enggak?"


"Keadaan udah kayak gini lo malah mau beli kue?" tanya Adel. Ia heran. Nao pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Buat siapa?" tanya Adel lagi.


"Nyokap. Ultah dia" Nao memegang gagang pintu mobil.


"Kenapa baru bilang. Ikut" Adel langsung melepas seatbeltnya dan membuka pintu mobil dan diikuti Nao.


Keduanya memasuki toko kue itu bersamaan. Nao terlihat sedang memilih kue mana yang cocok untuk sang mama begitu juga dengan Adel, ia juga mengedarkan pandangannya pada kue-kue cantik yang tertata rapi di depannya.


Tak lupa kamera ponsel Adel siapkan guna memotret keestetikan kue-kue indah tersebut.

__ADS_1


Nao yang melihat hal itu menggelengkan kepalanya karena heran "Cewek aneh lo. Barusan heboh sekarang narsis mau update snapgram"


Tangan Adel tetap fokus memfoto kue-kue itu "Suka-suka gue lah, gue yang suka kenapa lo yang ribet"


Nao menghela nafas sekaligus kembali menggelengkan kepalanya. Ia kemudian menunjuk salah satu kue dengan desain simpel "Yang itu aja mbak"


Seorang karyawan langsung bergegas mengambil kue pilihan Nao "Mau ditulis apa kak?"


"Happy Birthday My Beloved Mother" ucap Nao pada karyawan toko itu. Adel hanya melihat dan mendengarkan saja karena ia sibuk mengedit foto yang baru saja diambilnya dan juga sibuk dengan sosial medianya.


Setelah karyawan itu selesai menulis indah di atas kue, langsung saja kue itu dibungkus dengan rapi. Nao lalu membayarnya.


"Gue aja yang bawa" Adel menawarkan diri usai dirinya selesai mengupdate snapgramnya.


Nao menoleh "Udah narsisnya?"


Adel menghela nafas jengah "Udah, sini biar gue bantu bawa" Adel mengambil bingkisan kue itu.


Keduanya keluar dari toko kue dan kembali ke mobil.


Adel memakai seatbeltnya "Nyokap lo suka apa?"


Nao justru memperlihatkan jendela obrolannya dengan sang mama. Dilihatnya obrolan Nao dan mamanya dengan seksama oleh Adel.


"Tapi, masa gue nggak bawa apa-apa?" Adel memiringkan kepalanya.


Nao menghela nafas "Lo udah baca kan kalau mama nggak mau lo bawa hadiah apa-apa. Cukup lo aja ikut gue ke rumah"


Adel manggut-manggut "Okay"


Nao segera menancapkan gas dan bergegas ke rumahnya karena sang mama sudah menunggu kehadirannya dan juga Adel.


Tak butuh waktu lama, keduanya sampai di pelataran rumah Nao. Nao memarkirkan mobilnya di sana dan keduanya langsung memasuki rumah Nao. Tak lupa kue ulang tahun yang tadi dibeli dibawa oleh Adel.


Kedatangan mereka berdua mendapat sambutan hangat oleh Asri dan Bram, orang tua Nao. Ternyata Hendra, ayahnya Adel sudah berada di sana juga.


Asri langsung memeluk Adel "Halo sayang, makasih ya sudah datang"


Adel melepas pelukan calon mertuanya itu dan menatap lembut padanya "Sama-sama ma, selamat ulang tahun ma, sehat selalu dan bahagia selalu ya"


"Amin. Terima kasih sayang. Menikahlah dengan Nao maka mama akan sangat bahagia" Asri menyahuti dengan sedikit gurauan yang sebenarnya gurauan itu serius.

__ADS_1


Adel tersenyum kaku mendengar ucapan Asri. Sedangkan Nao hanya berekspresi datar.


"Met ultah ma, doaku yang penting mama sehat" ucap Nao kemudian.


Asri tersenyum lembut mendengar ucapan putra tunggalnya itu. Ia lalu memeluknya "Makasih nak"


Nao membalas pelukan mamanya "Hum.."


Di sana Bram dan juga Hendra terlihat sangat senang melihat pemandangan menenangkan di depan mereka. Tak lupa Bram juga menyapa Adel.


Selesai dengan sambutan hangat, mereka menuju ruang makan untuk makan bersama sebagai bentuk perayaan hari ulang tahun Asri.


Setelah itu mereka berbincang ringan di ruang utama.


Ditengah perbincangan, Nao berdiri "Aku ke kamar dulu ya" pamitnya dan disetujui saja oleh mamanya.


Malam semakin larut. Namun Nao tak kunjung turun kembali dan ikut berbincang ria bersama mereka.


"Nao kenapa lama sekali ya?" ucap Asri.


"Paling dia udah tidur ma, kecapekan" sahut Adel.


Bram tertawa "Mana mungkin anak itu tidur jam segini, tukang begadang dia itu del"


"Iya sayang, dia pasti sedang menyendiri di balkon dan menatap langit" Asri setuju dengan ucapan suaminya.


"Naiklah ke sana. Kamar Nao ada di tengah, nanti ada tiga pintu, kamarnya ada di tengah" ucap Asri kemudian.


Ekspresi Adel terlihat aneh usai mendengar ucapan Asri "Kamar ma?"


Asri dan Bram tertawa secara bersamaan "Balkonnya ada di sana del, Nao ada di sana pasti" jelas Bram.


Adel menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Mungkin ia merasa malu untuk masuk ke dalam kamar Nao.


"Tidak apa nak, papa izinkan" Hendra mengelus lembut bahu putrinya itu.


Adel menatap papa dan juga calon mertuanya secara bergantian. Terlihat ekspresi mereka memiliki arti kalau mereka mendukung hal itu.


Adel tersenyum kaku "Hm....kalau gitu, aku, aku susul Nao dulu ma, pa"


Adel kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar Nao. Sementara ketiga orang paruh baya itu tertawa kecil melihat sikap Adel yang menurut mereka lucu dan polos.

__ADS_1


***


Maaf updatenya belum bisa konsisten 🙏🏻 Kalau misal sudah tidak mau mengikuti cerita ini ya tidak apa-apa. Atau kalau berkenan bisa dibaca ulang biar tetap ingat sama ceritanya. Makasih buat yang sudah mampir dan baca cerita ini 🙏🏻


__ADS_2