Canda Kita

Canda Kita
Tenang, Ada Gue


__ADS_3

Hari minggu. Hari di mana Adel dan papanya hendak ke makam guna menjenguk mamanya sekaligus merayakan hari jadi pernikahan orang tua Adel.


Adel tengah menunggu kedatangan Nao dengan duduk di kursi yang ada di depan rumahnya.


Beberapa saat kemudian, mobil Nao memasuki pelataran rumah Adel. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan Adel duduk.


Nao membunyikan klakson sekilas dan menurunkan kaca mobilnya. Matanya celingukan ke kanan dan ke kiri "Bokap lo mana?"


"Dia nggak ikut, lagi di luar kota. Kemarin ada kerjaan dadakan" Adel memasukkan ponselnya ke dalam sling bagnya.


"Berapa lama di sana?" tanya Nao.


Adel berdiri seraya menaikkan bahunya sekilas "Entahlah, papa nggak bilang kapan baliknya"


"Oh, yaudah ayo naik" ucap Nao kemudian membuat Adel berjalan menuju kursi penumpang yang ada di samping Nao.


Keduanya berangkat menuju makam. Tak lupa Adel meminta Nao untuk menghentikan mobilnya saat melewati toko bunga. Adel hendak membeli bunga lily kesukaan mendiang sang mama.


Setelah itu, Nao kembali melajukan mobilnya menuju makam dan tak butuh waktu lama, mereka berdua sampai di sana.


Nao hanya berjalan mengekori Adel menuju makam sang mama. Hingga Adel menghentikan langkahnya saat sampai di sebuah batu nisan bertuliskan nama mendiang mamanya.


Adel berjongkok kemudian mengelus batu nisan mamanya "Hai ma, apa kabar? Aku kabar baik. Happy anniversary ya ma. Maaf papa belum bisa datang dikarenakan ada pekerjaan dadakan di luar kota. I miss you ma, we miss you so much"


Adel menghela nafas sedikit berat dan menaruh bunga lily di atas makam. Sementara Nao di sana hanya menatapnya dari belakang. Tegar sekali gadis ini, pikir Nao.


"Del, gue boleh nyapa?" tanya Nao kemudian.


Adel menoleh menatap Nao kemudian ia menganggukkan kepalanya. Usai mendapat ijin dari Adel, Nao berjongkok di samping Adel.


"Hai tante, aku Nao, teman sekolah Adel sekaligus, katanya, aku calon suaminya. Aku nggak bisa janjiin apa-apa buat anak tante, tapi aku akan berusaha untuk menjaganya" Nao kemudian tersenyum dan menatap Adel sementara yang ditatap hanya berekspresi datar. Entahlah apa yang ada dipikiran Adel usai mendengar ucapan Nao.


Usai mendoakan mendiang mamanya Adel, keduanya kembali ke rumah Adel.


Dalam perjalanan, hujan turun cukup deras. Sumbaran kilat terlihat membuat Adel sedikit takut mungkin akan ada suara petir yang keras.


"Lo bisa cepetan enggak? Takut gue" raut muka Adel sedikit ketakutan.


Kecepatan mobil Nao masih sama "Terus kalau lo sendirian di rumah gimana cara lo ngatasinya?"

__ADS_1


"Ngumpet dibalik selimut" Adel menjawab dengan polosnya.


Nao terkekeh kecil mendengar jawaban Adel hingga membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya "Ih, kok malah diketawain, kan nggak lucu"


Adel kemudian melipat tangannya. Ia merasa sedikit kesal dengan Nao. Namun apalah daya, ternyata suara petir mulai terdengar membuat Adel terkejut dan semakin ketakutan.


Nao yang melihat hal itu menyodorkan salah satu tangannya.


Adel menatap heran pada tangan Nao "Apa?"


Nao kembali terkekeh kecil "Tangan lo, sini"


Adel menunjuk tangan kanannya "Tangan gue?"


Suara petir kembali terdengar, membuat Adel tanpa sengaja meraih tangan Nao. Ya, mereka berdua bergenggaman tangan. Adel diam terpaku menatap tangannya. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar.


Sementara Nao hanya tersenyum miring. Pandangannya tetap fokus pada jalanan "Sorry, yang tadi gue nggak bermaksud ngetawaain lo"


"Lo yang tenang ya, ada gue di sini" Nao membelokkan kemudinya.


Ucapan Nao semakin membuat Adel berdebar. Genggaman tangan dan ucapan Nao seolah-olah membuat suara petir mereda seperti waktu itu, saat berada di apartemen Nao.


Mereka berdua sampai di rumah Adel. Nao sudah menghentikan mobilnya, namun keduanya hanya melepas seatbelt masing-masing dan tak ada yang turun dari mobil.


"Sebentar ya Del" Nao menatap lurus ke depan.


Adel di sana hanya menatap pria tampan itu sekilas kemudian menatap lurus ke depan. Jangan ditanya bagaimana keadaan jantungnya, sudah pasti berdebar hebat tak karuan akibat ulah Nao.


"Berarti lo di rumah cuma sama mbok Tiah doang?" tanya Nao berusaha memecah keheningan.


"Enggak, mbok Tiah lagi pulang kampung" jawab Adel.


"Gue temenin lo sampai hujan dan petirnya hilang gimana?" ucap Nao membuat Adel langsung menatapnya.


"Tenang, gue nggak akan apa-apain lo" Nao seakan tahu arti tatapan Adel.


Nao melepas genggaman tangannya "Ayo turun"


Adel hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya dengan kaku. Keduanya turun dari mobil dengan berlari kecil dan langsung memasuki rumah Adel lalu duduk di ruang tamu.

__ADS_1


Nao menaruh ponselnya di atas meja "Lo ada game nggak?"


Adel mengkerutkan keningnya "Game? Maksud lo kayak PS gitu?"


"Iya, ada nggak? Buat pengalihan biar gue nggak apa-apain lo" Nao kemudian terkekeh.


Adel melempari Nao dengan bantal sofa. Ia hanya menatap Nao dengan datar "Tunggu sini, gue cari dulu di kamar kakak gue"


Adel beranjak menuju kamar kakaknya. Ia memasuki kamar sang kakak dan mulai membuka lemari yang ada di kamar itu. Andai kakaknya tahu jika Adel sedang mengacak-acak kamarnya, sudah pasti ia akan kena marah.


"Untung lo lagi di luar negeri. Sorry ya kak, gue acak-acakin kamar lo dikit" Adel berkata sembari mencari konsol game milik kakaknya.


Akhirnya Adel berhasil menemukan konsol game milik sang kakak. Ia kemudian membawanya menuju ruang tamu di mana Nao berada.


"Wuih ada beneran" ucap Nao saat mendapati tangan Adel penuh dengan barang bawaan yang berkaitan dengan game PS.


Adel menaruh barang bawaannya di meja "Ada dong kan kakak gue cowok"


Nao mulai memasangkan konsol game itu pada TV "Kakak lo belum balik?"


"Abis gue ujian baru balik katanya" Adel tak mengatakan yang sebenarnya pada Nao bahwa kakaknya hendak pulang saat pertunangannya dengan Nao. Ia memilih mengatakan hal lain yang merujuk ke sana.


"Oh gitu" Nao menganggukkan kepalanya sambil menyelesaikan pasang-memasang game itu.


Setelah selesai, Nao memilih beberapa game yang ada "Lo bisa mainnya?"


Adel menaikkan bahunya sekilas "Entah"


Nao berdecih "Coba lawan gue, gimana?"


"Kalau menang dapat apa?" Adel menaikkan kedua alisnya.


"Em...kalau lo menang, lo dapat 2 permintaan deh" jawab Nao.


"Cuma dua? Tiga nggak bisa?" tawar Adel.


"Oke deal, tiga permintaan" Nao bersalaman dengan Adel.


Adel memamerkan giginya "Asik nih kalau gue menang bisa punya jin pribadi pengabul permintaan"

__ADS_1


Nao hanya terkekeh mendengar ucapan Adel.


***


__ADS_2