
Betapa terkejut sekaligus lega karena ternyata orang yang memanggil Adel adalah Edgar.
"Eh, Edgar, ada apa ya?" tanya Adel kemudian.
Edgar menyerahkan selembar kertas kecil pada Adel "Grup band gue ada konser amal, lo datang ya"
Adel menerima kertas itu. Ia baca sekilas tulisan yang tertera pada kertas itu dan ternyata kertas itu adalah tiket konser.
"Adel doang yang diundang, gue enggak?" Dita menimbrung dengan nada protesnya.
"Sorry gue nggak lihat lo" canda Edgar.
Dita menepis lengan Edgar sekilas "Jahat banget sih lo, gue kan temannya Adel juga"
Edgar menghela nafas. Ia lalu merogoh saku bajunya. Ia mengambil selembar tiket lagi lalu menyodorkan tiket itu pada Dita "Nih buat lo"
Dita menyambar tiket itu "Asik...Ikhlas nggak nih?"
"Ikhlas, ikhlas. Gue tahu, lo pasti mau modus lihat Hans kan?" sahut Edgar. Dita hanya bisa tersenyum tersipu malu karena memang benar apa yang diucapkan oleh Edgar.
"Thanks ya Edgar, baik banget deh" ucap Dita kemudian dengan nada bicara yang sedikit berlebihan.
"Sama-sama" sahut Edgar datar.
Edgar beralih menatap Adel "Jadi gimana Del? Lo mau ya datang?"
Adel menganggukkan kepalanya seraya tersenyum sebagai jawaban.
"Thanks ya, gue tunggu" Edgar menyahuti dengan senang.
"Makasih ya udah undang gue sama Dita, dikasih tiket gratis pula" ujar Adel. Ia mengibas-ngibaskan tiketnya sekilas.
"Iya iya. Gue duluan yah, dah Adel, dah Dita" pamit Edgar.
"Dah Edgar, salam buat Hans ya" sahut Dita seraya melambaikan tangan. Permintaan Dita hanya dibalas acungan jempol oleh Edgar.
Dita dan Adel kembali melanjutkan perjalanan mereka ke kantin.
Dalam perjalan ke kantin, Adel terlihat diam dan berpikir. Padahal biasanya ia akan mengoceh panjang lebar jika bersama Dita.
Dita menyenggol lengan Adel "Kenapa lo?"
Adel tak segera menjawab. Ia justru terlihat seperti melamun.
Dita menyenggol lengan Adel sekali lagi dengan nada suara sedikit keras "Woy, Adelaida Audia, lo kenapa?"
"Ha? Gimana?" sahut Adel kemudian.
__ADS_1
Dita menghela nafas "Heu...ni anak kalau lagi bengong kayak orang linglung" ucapnya dengan nada lirih.
"Ha? Gimana Dit? Lo ngomong apaan?" tanya Adel. Ia samar-samar seperti mendengar ucapan lirih Dita.
"Enggak, nggak ada" jawab Dita.
Adel sedikit mendorong pundak Dita "Aish, lo mah nggak jelas"
"Yang nggak jelas juga siapa, hm" gumam Dita.
"Lo kenapa ngelamun gitu? Mikirin apa?" sambung Dita, ia menegaskan kembali pertanyaannya kali ini.
"Enggak" Adel menggelengkan kepalanya.
"Heum....dasar ni anak"
Adel tiba-tiba menghentikan langkahnya "Nao ngajak gue pulang bareng lagi. Gue harus gimana ya?"
Dita yang sudah berjalan di depan Adel kembali menghampiri Adel "Yaelah, jadi dari tadi lo bengong karena mikirin itu?"
Adel hanya menganggukkan kepalanya pelan.
Dita kembali menghela nafas karena gemas dengan sikap Adel yang masih enggan untuk terbuka mengenai hubungannya dengan Nao "Lo kan calon istrinya Nao, ngapain bingung"
"Hm...iya, ya. Yaudah deh" Adel lalu lanjut berjalan dan meninggalkan Dita sendirian.
Dita menggaruk samping kepalanya yang tidak gatal "Untung lo sahabat gue Del, sabar Dit, sabar"
***
Waktu pulang sekolah tiba. Seperti biasa, Adel akan menunggu hingga seisi kelasnya kosong. Maksudnya hingga semua teman sekelasnya sudah pulang terlebih dahulu dan sekolah sudah mulai sepi.
Tak lupa Adel juga mengabari hal itu pada Nao melalui pesan singkat yang dikirimnya dan Nao hanya menyetujui permintaan Adel.
Sementara itu di kelas Nao. Nao yang biasanya akan berjalan ke parkiran bersama ketiga sahabatnya, kali ini ia masih duduk manis dengan ponselnya yang miring.
Kevin yang duduk di samping Nao hendak menyampirkan tasnya "Kok lo malah main game? Nggak pulang?"
"Kalian duluan aja" jawabnya dengan pandangan mata fokus pada ponselnya.
"Emang lo ada acara apaan? Tumben" tanya Kevin, ia penasaran dan ia juga tidak peka. Tidak seperti Malvin, ia sudah paham dengan situasinya.
Malvin menyeret pelan tas Kevin "Udah, kita pulang aja. Nggak peka banget sih lo jadi kawan"
"Nggak peka gimana? Gue ngajakin Nao pulang, kenapa malah dibilang nggak peka?" protes Kevin. Ia berusaha melepaskan diri dari cekalan Malvin.
"Udah, lo sama gue aja" Malvin beralih merangkul Kevin dan berjalan keluar kelas.
__ADS_1
"Duluan Nao" sambung Malvin dan ditanggapi lambaian tangan oleh Nao.
Usai keluar kelas, Kevin masih saja tidak paham dan tidak peka dengan situasi yang sedang terjadi. Ia masih saja protes dengan Malvin. Tak lupa mereka berdua mampir ke kelas Andi.
"Berisik banget lo, ada apa? Nao mana?" tanya Andi. Ia sudah menunggu ketiga sahabatnya di depan kelas. Namun ia penasaran karena Kevin terlihat mengoceh di depan Malvin.
"Gue dikata nggak peka sama Malvin. Padahal gue udah ngajakin Nao buat balik bareng kita-kita" jelas Kevin.
"Nao masih di kelas?" tanya Andi lagi.
"Masih" jawab Malvin.
"Terus kenapa nggak pulang bareng kita?" rupanya Andi juga sama tidak pekanya seperti Kevin.
Malvin memutar bola matanya jengah "Haduh...kalian berdua ini nggak paham ya? Tuh" Malvin menunjuk ke dalam kelas Andi.
Andi dan Kevin menoleh bersamaan. Di sana terlihat beberapa teman kelas Andi termasuk Adel.
Kevin masih mengamati kelas Andi "Maksud lo gimana? Nggak paham gue?"
Andi mengangguk setuju dengan Kevin sambil masih mengamati kelasnya "Sama, gue juga nggak paham"
Malvin menepuk dahinya sekilas dengan tangan kirinya "Astaga, tumben lo ikut ogeb kayak Kevin, Ndi. Itu loh teman kelas lo, cewek"
Andi berpikir sambil masih mengamati kelasnya. Hingga beberapa saat kemudian ia paham dengan apa yang dimaksud oleh Malvin "Oke, gue paham sekarang. Dah kita pulang aja"
Andi lalu merangkul Malvin dan Kevin. Mereka hendak berjalan menuju ke parkiran bersama.
Kevin berusaha untuk kembali mengamati kelas Andi "Bentar dulu, gue masih nggak paham"
Andi merangkul agak kuat agar Kevin mau segera berjalan ke parkiran "Udah kita pulang aja ogeb"
"Tapi gue masih nggak paham, di kelas Andi ada apaan" protes Kevin.
"Ada hantunya. Tadi gue lihat" Malvin menyahuti Kevin dengan candaan.
"Lo bisa lihat hantu?" ini kenapa Kevin polos banget yak.
"Astaga, lo percaya?" ujar Andi keheranan dengan sikap Kevin yang sangat tidak peka ini.
Kevin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Andi dan malvin saling menatap. Mereka menghela nafas bersamaan sembari menggelengkan kepalanya.
"Parah banget temen lo ini" ucap Andi pada Malvin.
Malvin terkekeh kecil "Ye....dia juga teman lo anj*r"
__ADS_1
"Mending nggak usah dibahas lagi" saran Andi, namun Kevin masih saja protes pada Malvin dan Andi disepanjang perjalanan mereka saat menuju parkiran.
***