
Sembari menunggu makanan yang sudah Nao pesan datang, Adel sibuk dengan sosial medianya. Ia langsung saja memposting hasil jepretannya pada tempat itu.
Sementara Nao juga menyibukkan diri dengan ponselnya. Entah apa yang dilakukannya.
Usai memposting beberapa foto, Adel berkali-kali melirik Nao.
"Apa?" tutur Nao merasa sadar jika Adel tengah meliriknya. Ia mengatakan hal itu dengan pandangannya tetap pada ponsel.
Adel menyengir "Boleh minta tolong enggak?"
Pandangan Nao masih tetap pada ponselnya "Apaan?"
Adel menyodorkan ponselnya di depan Nao "Fotoin gue dong"
Nao menatap ponsel Adel dan beralih menatap wajah Adel.
"Ayolah, please fotoin gue. Kapan lagi gue bisa ke tempat makan unik kayak gini" bujuk Adel. Kali ini ia sengaja berekspresi berlebihan.
Demi bisa berfoto di sana, Adel harus bertingkah imut nan manja di depan Nao. Sementara respon Nao di sana hanya datar saja.
Wajah Adel masih saja terlihat memohon hingga membuat Nao menghela nafas dan terpaksa mengambil ponsel Adel.
Adel langsung tersenyum senang begitu Nao mau saja menuruti permintaannya.
Adel mulai bergaya untuk difoto. Nao hanya asal saja memfotonya.
Nao menyodorkan ponsel Adel "Nih, udah"
Adel mengambil ponselnya dan memeriksa hasil jepretan Nao. Awalnya ia antusias namun setelah melihat hasil jepretan Nao, ia malah mengerucutkan bibirnya sebal "Lah kok ngeblur gini? Mana nggak ada yang bagus"
Nao menghela nafas "Makanya lo jangan banyak gaya, belum kelar gue foto lo udah ganti gaya makanya jadi ngeblur"
Adel kembali menyodorkan ponselnya pada Nao "Ulang lagi"
Nao hanya menatap ponsel itu "Nggak mau"
"Ayolah, please. Gue janji nggak bakal banyak gaya" Adel mengangkat kedua jarinya.
"Hum, please Nao" tangan Adel pun ikut memohon.
Nao kembali menghela nafas. Ia lalu mengsmbil ponsel Adel.
__ADS_1
Adel tersenyum senang "Nah gitu dong. Yeay, Nao baik. Jangan lupa dihitung biar gue nggak ganti gaya sebelum lo foto"
Nao hanya berekspresi datar dan menghela nafasnya "Yaudah buruan"
Usai berhasil membujuk Nao, Adel kembali bergaya. Seperti permintaan Adel, Nao pun tak lupa untuk menghitung sebelum menekan tombol untuk memfoto.
Adel menghampiri Nao saat selesai berfoto. Ia segera memeriksa fotonya. Ia tersenyum puas begitu melihat hasil jepretan Nao kali ini yang bagus.
"Nah ini bagus, thanks ya" ucap Adel kemudian. Ia kembali duduk manis di kursinya sembari menatap foto-fotonya.
Nao tak menanggapi ucapan Adel. Ia kembali menyibukkan diri dengan ponselnya hingga pesanan mereka datang.
Sang waiters menata makanan mereka dengan rapi membuat Adel kembali terkagum dengan makanan di sana. Tak lupa ia kembali mengambil gambar.
Nao yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Adel yang menurutnya itu berlebihan.
"Udah?" tanya Nao kemudian.
Adel menatap Nao dengan tatapan tanya "Apanya?"
"Lo foto makanannya udah belum? Gue mau makan elah" jelas Nao sedikit protes.
"Aish, sabar lah, bentar lagi" sahut Adel. Ia kembali memfoto makanannya.
Ekspresi Adel langsung terlihat kesal "Lo mah nggak tahu trend" namun pada akhirnya ia pun mengikuti Nao untuk makan karena makanan di depannya terlihat bagitu lezat dan menggiurkan.
Tak ada obrolan yang terjadi selama mereka makan karena keduanya sama-sama menikmati makanan yang ada.
"Wah, enak banget" puji Adel usai isi piring yang ada di depannya sudah kosong melompong. Ia menyandarkan badannya pada kursi.
Nao tersenyum tipis mendengar ucapan Adel. Ia lalu berdiri dan hendak ke kasir untuk membayar.
"Jadi berapa?" tanya Nao saat hendak membayar.
"Anda tidak perlu membayar kak" jelas sang kasir dengan ramah.
"Ha? Maksudnya?" tanya Nao ia bingung.
"Sang pemilik yang mengatakan hal itu pada saya kak" jelas sang kasir.
"Pak Irfan? Di mana beliau?"
__ADS_1
"Beliau ada di rumahnya kak, ia hanya berpesan melalui telepon" jelasnya.
Nao hanya mengaggukkan kepalanya "Sampaikan terima kasihku pada pak Irfan"
"Baik kak, terima kasih kembali"
Nao berjalan kembali ke mejanya. Ia masih memikirkan kenapa pak Irfan mentraktirnya makan kali ini. Mungkinkah karena ia datang bersama Adel?
"Udah?" tanya Adel saat melihat Nao hendak duduk.
"Udah"
"Habis berapa? Entar gue ganti" sambung Adel.
"Gratis"
Mata Adel membelalak karena terkejut "Ha?? Gratis? Yang bener lo? Kok bisa?"
Nao hanya menaikkan bahunya sekilas. Ia lalu mengambil tas miliknya "Ayo pulang"
"Masa beneran gratis?" Adel masih saja tidak percaya. Ia juga mnyampirkan tas miliknya lalu keduanya berjalan berdampingan menuju pintu keluar.
"Iya beneran, gue aja nggak dikasih billnya" jawab Nao.
"Wah gila, lo kenal pemiliknya pasti" ucap Adel.
"Sotoy lo" jawab Nao singkat ia kemudian mempercepat langkah kakinya agar Adel tidak banyak bertanya.
Sampainya di dalam mobil, Nao segera melajukan mobilnya menuju rumah Adel. Suasana di dalam mobil hanya ditemani oleh musik yang dimainkan Nao secara acak hingga mereka tiba di depan rumah Adel.
Adel melepas seatbeltnya "Thanks ya"
"Hm" Pandangan Nao lurus kedepan sembari memegang setir.
"Lo nggak mau mampir?" tanya Adel kemudian.
Nao menoleh menatap Adel "Udah malam biar papa lo istirahat aja"
Adel menganggukkan kepalanya "Oke, hati-hati" ia lalu turun dari mobil Nao dan masuk ke dalam rumahnya.
Entah mengapa usai Adel turun, Nao merasa kalau suasana di dalam mobilnya justru terlihat semakin sepi padahal alunan lagu masih terdengar. Mungkinkah kehadiran Adel sudah mulai mempengaruhinya?
__ADS_1
***
TBC