Canda Kita

Canda Kita
Berita Buruk (2)


__ADS_3

Andi dan Kevin bergegas memberitahu pihak sekolah tentang kabar yang menimpa Malvin.


Sepulang sekolah para guru, karyawan, teman sekelas Malvin, dan beberapa siswa perwakilan dari SMA Helius turut berbelasungkawa dengan berkunjung ke rumah Malvin.


Termasuk Adel. Nao sempat berpesan pada Andi agar Adel diajak ke rumah Malvin dan tak lupa papanya Malvin turut hadir bersama keluarga barunya.


Suasana sedih menyelimuti rumah duka. Malvin tak pernah beranjak dari sisi sang mama. Ia terus menatap wajah mamanya sampai akhirnya berada di liang lahat.


Air mata Malvin terkadang mengalir, namun ia sudah mempersiapkan mental jauh-jauh hari jika suatu saat menghadapi hal ini.


Usai mengantar sang mama menuju peristirahatan terakhirnya, Malvin tertunduk lesu saat berjalan menuju kamar.


Sementara para sahabatnya hanya bisa membiarkan hal itu. Sebenarnya Kevin ingin menemaninya, namun hal itu dihentikan oleh Nao.


"Dia butuh waktu sendiri Vin" ucap Nao menghentikan langkah kaki Kevin.


"Tapi," Kevin menyangkal namun Nao memberi tanda agar Kevin menuruti perkataan Nao.


"Gue setuju sama Nao, kita temani Malvin di sini saja yah" ajak Andi.


Mereka duduk termenung di ruang tamu.


"Gue nggak nyangka ternyata nyokapnya Malvin sakit parah" Nao memulai pembicaraan.


"Jadi ini alasannya kenapa dia jarang kumpul sama kita akhir-akhir ini" timpal Andi.


"Tapi kenapa dia nggak cerita apa-apa ke kita?" Kevin menatap yang lainnya bergantian.


"Dia pasti punya alasan tersendiri" Adel jadi teringat akan mamanya. Matanya berkaca-kaca membuat Nao yang duduk di sampingnya refleks merangkaul pundaknya dan mengelus lembut bahu Adel.


Gadis itu pasti merasakan hal yang sama dengan Malvin ketika ditinggal pergi oleh mamanya. Ucap Nao dalam hatinya.


Hari semakin malam. Adel dan yang lainnya berpamitan pada Nao dan Kevin. Kedua orang itu akan menginap di rumah Malvin dan menemani Malvin. Sementara Malvin tak kunjung keluar dari dalam kamarnya.


"Sorry gue nggak bisa anter lo" ujar Nao pada Adel.


"Nggak papa kok, lo temani Malvin saja. Lagian gue sudah sama Andi kok" Adel tersenyum lembut menatap Nao.


Nao berbalik tersenyum "Entar kabarin gue yah kalau sudah sampai rumah"


Adel menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

__ADS_1


Nao beralih menatap Andi "Sorry ya, gue ngrepotin lo Ndi"


"Santai bro, gue pastiin dia bakal baik-baik saja sampai rumah. Yuk Del" jawab Andi mengajak Adel untuk pergi dari rumah Malvin.


***


Beberapa hari setelah kepergian mamanya. Kondisi Malvin sudah lebih baik dengan adanya para sahabat yang selalu menemani dan menghiburnya. Ia juga sudah mulai beraktivitas seperti biasanya.


Hari ini, sepulang sekolah, Malvin kembali ke rumah sakit guna mengurus beberapa dokumen dan pembayaran terkait sang mama. Ia ke sana bersama dengan Nao dan juga Adel. Keduanya sepakat untuk menemani Malvin.


Selesai mengurusi beberapa dokumen dan pembayaran, Malvin mengedarkan pandangannya di sekitar sana.


"Cari siapa?" tanya Adel yang menyadari akan hal itu.


"Eh, em, itu, teman gue. Biasanya jam segini dia bakal di luar ruangannya" jawab Malvin dengan pandangannya yang masih ke mana-mana.


Nao menatap heran pada Malvin "Teman? Teman yang mana?"


"Lo nggak tahu, gue kenal sama dia di rumah sakit ini" jawab Malvin.


Adel dan Nao hanya menganggukkan kepalanya bersamaan.


"Kalau lo mau ketemu dia dulu nggak papa kok, kita tunggu di depan" beritahu Adel dan Nao juga setuju akan usul dari Adel.


Malvin mengetuk pelan pintu ruang rawat Tiara. Ia buka pintu itu perlahan karena tak kunjung ada jawaban dari dalam sana. Malvin menatap ranjang Tiara yang tertata rapi seperti ruangan yang tidak digunakan.


Ia berlari masuk ke dalam dan memeriksa lemari kecil yang berada di samping ranjang dan tidak ada apapun di dalam sana.


Deg.


Pikirannya kacau. Rasa cemas dan khawatir mulai menyelimutinya. Apakah Tiara sudah sembuh? Atau kemungkinan terburuknya adalah Tiara pergi meninggalkannya sama seperti sang mama.


Malvin segera menuju meja petugas administrasi yang berada di dekat lobi tempat di mana Adel dan Nao menunggunya "Permisi sus, pasien ruang Dahlia 3 apakah sudah pulang?"


"Sebentar ya, saya cek dulu" petugas itu mengetik nama ruangan yang disebutkan Malvin.


"Tiara Theresia ya?" tanya petugas itu.


"Iya, dia"


"Em...di sini tertulis kalau pasien atas nama Tiara telah meninggal dunia pada tanggal 8 Juni kemarin" jelasnya.

__ADS_1


DEG.


Ketakutan dan kekhawatiran yang dipikirkannya benar-benar terjadi. Tanggal yang sama saat Malvin menerima telepon dari rumah sakit tentang kabar mamanya.


Malvin tidak menyangka jika ia akan kehilangan dua orang itu dalam waktu bersamaan. Ia mengingat kembali perjalananya saat menuju ruangan mamanya.


Sepintas Malvin ingat jika dirinya sempat berpapasan dengan petugas rumah sakit yang membawa ranjang bertutup kain putih bersama seseorang yang menangis. Apakah orang yang berada dibalik kain itu adalah Tiara? Pikir Malvin.


"Sus, boleh saya minta alamat rumah dia?" pinta Malvin.


"Apakah anda ada hubungannya dengan nona Tiara?" suster itu memastikan dan hanya gelengan kepala yang mampu dijawab Malvin.


"Saya mohon sus" ucap Malvin memohon.


"Mohon maaf kami tidak bisa memberikan informasi pribadi pasien jika tidak ada hubungan darah dengan mendiang pasien" jelas suster itu.


Malvin menghela nafas berat. Ingin rasanya ia marah pada suster itu namun ia sadar betul jika yang dikatakan suster itu benar adanya.


"Baik sus, terima kasih" Malvin beranjak dari sana dan terduduk lesu di kursi dekat sana.


Sementara Adel dan Nao tengah mengobrol ringan di sekitar sana. Adel menyadari akan kehadiran Malvin "Itu Malvin kan?"


Nao yang duduk membelakangi Malvin menoleh. Ia menyipitkan matanya "Iya itu Malvin"


Adel mengkerutkan keningnya "Eh, kenapa dia?"


Nao hanya mengangkat bahunya sekilas "Mau disamperin?"


Adel menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka berdua kemudian mendekati Malvin dan duduk di sana.


Nao memegang bahu Malvin sekilas "Lo kenapa lagi bro?"


Malvin hanya menoleh sekilas. Tatapannya kembali kosong seperti waktu itu. Ia kembali menghela nafas berat "Dia juga sudah nggak ada Nao"


Nao mengkerutkan keningnya. Ia tidak tahu siapa orang yang dimaksud Malvin "Dia siapa?"


"Tiara, Nao" jawab Malvin.


"Tiara? Maksud lo teman yang mau lo temuin tadi?" tanya Adel dan Malvin hanya menganggukkan kepalanya pelan.


Cobaan apalagi yang harus dihadapi Malvin. Kenapa ia harus merasakan hal ini bertubi-tubi. Tidak cukup mamanya, ternyata Tuhan juga memanggil Tiara yang Malvin rasa ia merasakan penyesalan karena dirinya tak memberitahu Tiara tentang perasaannya pada gadis itu, gadis unik yang ditemuinya saat pertama kali ia datang di rumah sakit ini.

__ADS_1


***


__ADS_2