Canda Kita

Canda Kita
Ketakutan Adel


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Adel menatap keluar kaca dalam lamunan. Ia masih mencerna bisikan Nao beberapa saat yang lalu.


"Kenapa nak?" tanya Hendra.


Adel menoleh "Ha? Enggak pa, nggak papa"


"Beneran?" tanya Hendra sekali lagi dan Adel hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Adel tidak tahu harus bercerita bagaimana dengan sang papa karena ia sendiri sebenarnya masih bingung dan terkejut dengan semua hal yang terjadi antara dirinya dengan Nao.


***


Keesokan paginya. Adel membuka kedua matanya. Rasanya malas sekali untuk pergi ke sekolah. Ditambah lagi perasaan takut akan penggemar Nao masih menyelimutinya.


Ponsel Adel berdering. Ia kira itu bunyi alarm, ternyata telepon dari Nao. Sepagi ini orang yang membuatnya menjalani kehidupan yang luar biasa ini menghubunginya?


Dengan malas Adel menekan tombol hijau pada layar "Apa?"


Di sebelah sana Nao berdecih "Bentar lagi gue otw. Buruan bangun"


Adel hanya memutar bola matanya malas mendengar suara Nao dan sambungan telepon itu seketika putus.


Adel menatap heran pada layar ponselnya "Cowok aneh" ia kemudian bergegas bersiap diri untuk pergi ke sekolah.


Entahlah ia ikuti saja perkataan Nao karena ia sendiri sebenarnya takut.


Selesai sarapan, Adel menunggu Nao di depan rumahnya. Tak butuh waktu lama, mobil yang sudah tidak asing memasuki pelataran rumahnya.


Mobil itu terhenti tepat di depan Adel. Kaca mobil pengemudi turun perlahan dan memperlihatkan Nao di sana.


Nao lalu memperhatikan Adel dari ujung rambut sampai ujung kaki "Lo udah cantik. Naik gih"


Adel tak menanggapi ucapan Nao. Ia berjalan memasuki mobil dan duduk di kursi penumpang seperti biasanya.


Di dalam mobil Adel hanya terdiam. Nao juga sibuk mengemudi sekaligus ikut bernyanyi saat lagu yang disukainya lewat.


Adel dibuat melongo saat mobil mulai memasuki kawasan sekolah. Tak seperti biasanya, jajaran fans Nao terlihat memenuhi sisi jalan.


Dengan susah Adel menelan salivanya. Rasa takut sekaligus tegang kembali menyelimutinya.


Mobil Nao terhenti saat mereka sampai di parkiran. Dengan santai Nao melepas seatbeltnya dan hendak membuka pintu.


Nao menoleh saat melihat Adel diam mematung di kursinya "Lo nggak mau turun?"


Entah mengapa tangan Adel yang memegang seatbelt mulai gemetar. Nafasnya terdengar berantakan. Wajah Adel seketika tegang dan sedikit pucat.


Nao yang melihat hal itu refleks menggenggam tangan Adel "Ada gue. Lo tenang aja"


Adel menatap Nao "Gue pulang aja ya, takut gue"

__ADS_1


Nao tertawa kecil. Ia mengeratkan genggamannnya dan menatap Adel "Hei, semuanya akan baik-baik saja. Percaya sama gue"


Mereka bersitatap. Tatapan Nao begitu meyakinkan hingga membuat Adel percaya akan ucapan Nao.


Nao melepas genggamannya "Gue turun dulu ya"


Adel hanya menganggukkan kepalanya pelan karena ia sudah sangat pasrah dengan keadaan ini.


Adel tak menyangka resiko yang selama ini ia takutkan akan terjadi secepat ini.


Adel berlahan melepas seatbeltnya. Namun pandangannya terlihat melamun.


Nao kemudian turun dan berjalan ke dekat pintu penumpang. Ia membuka pintu itu dan mengulurkan salah satu tangannya "Del, ayo"


Adel menatap tangan Nao. Ia lalu menatap wajah Nao. Nao tersenyum manis sekaligus menganggukkan kepalanya sekilas guna meyakinkan Adel.


Helaan nafas berat terdengar. Adel lalu meraih tangan Nao dan keluar dari mobil Nao.


Nao membantu menutup pintu mobil "Smile. Lihat gue aja jangan lihat mereka"


Adel turuti saja ucapan Nao. Mereka berjalan bersama menuju kelas melewati lorong dan jalanan yang dipenuhi fans Nao.


Lontaran kata positif dan negatif terdengar di telinga Adel dan juga Nao. Tapi Nao menyuruh Adel untuk mengabaikan saja hal itu dan tetap fokus menatapnya hingga Adel sampai di kelas.


Mungkin karena Nao ada di sampingnya jadi belum ada hal buruk yang terjadi pada Adel.


Nao melepas tangannya "Gue ke kelas dulu. Nanti istirahat gue ke sini"


Nao tersenyum manis dan tiba-tiba saja ia mengacak lembut pucuk kepala Adel "Senyum dong. Kalau ada apa-apa hubungi gue. Gue juga udah minta tolong Andi buat jagain lo"


Desiran aneh itu semakin menjadi-jadi. Perlakuan Nao berhasil membuat perasaan itu perlahan tumbuh di hati Adel.


Adel menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Nao kemudian berlalu ke kelasnya.


Dengan ekspresi tegang Adel memasuki kelasnya. Ia takut teman sekelasnya akan mengucilkannya.


Adel berjalan menuju tempat duduknya dengan menundukkan kepalanya.


"Adel, congrats ya. Kok nggak bilang-bilang sih kalau lo sama Nao tunangan? Kita kan sebagai teman sekelas lo ikut senang" itulah kata Tia, salah satu teman sekelas Adel yang mendapat persetujuan dari teman sekelas lainnya.


Adel terkejut tidak menyangka jika teman sekelasnya justru mendukung hubungannya dengan Nao. Ia pikir mereka akan membuli dan menjauhinya.


Hal itu membuat Adel dapat bernafas dengan lega dan kembali tersenyum dengan tenang.


Andi menghampiri meja Adel saat Adel sudah duduk "Del, lo tenang aja. Nao nitip lo ke gue kalau di kelas ada apa-apa. Tapi kayaknya nggak butuh gue deh soalnya teman-teman malah dukung lo sama Nao"


Adel tersenyum "Makasih Andi. Iya gue juga nggak nyangka"


"Kalau gitu, gue balik ke kursi gue ya" sambung Andi dan diangguki Adel.

__ADS_1


Sementara itu di kelas Nao.


Kevin baru saja sampai di kelasnya. Ia menepuk heboh pada Malvin "Gila, Nao ternyata udah tunangan"


Malvin menatap datar pada Kevin "Bisa enggak lo biasa aja. Telat lo, sorry ya, gue udah tahu dari lama"


"Nah kan, lagi-lagi gue tahu rahasia kalian dari orang lain. Jahat bener dah kalian sama gue" protes Kevin.


"Mana tunangannya ternyata cewek yang selama ini sering gue lihat di dekat Nao" sambung Kevin.


"Lo sih ember dan nggak peka" Malvin menyindir tegas pada sahabatnya itu.


Kevin sekali lagi menepuk lengan Malvin "Nggak Andi, nggak lo, ngatain gue ember mulu"


Malvin membuka buku "Karena pada kenyataannya memang seperti itu"


Kevin berjalan menuju kursinya "Iya, iya gue si paling ember deh"


Kevin meletakkan tas sekolahnya. Beberapa saat kemudian Nao memasuki kelasnya.


Suasana di kelas Nao seperti biasanya tidak ada yang berubah. Nao duduk di samping Malvin. Ia mengajak tos pada Malvin dan dibalasnya.


Kevin menoel punggung Nao "Ciee, yang udah tunangan. Mana traktirannya?"


"Eh, lo denger ada yang ngomong nggak sih?" ucap Nao pada Malvin. Ia meletakkan tas sekolahnya.


"Nggak ada. Keren juga lo bisa denger suara hantu" sahut Malvin. Ia mengikuti Nao untuk berbuat iseng pada Kevin.


Kevin yang duduk di belakang mereka merasa tidak terima dan menepuk punggung Malvin "Woylahh, gue temen kalian elah. Jahat banget ngatain gue hantu"


Nao dan Malvin tertawa bersama. Nao lalu menoleh "Sorry bro"


Tak ada jawaban dari Kevin. Ia merajuk dan melipat kedua tangannya.


Malvin ikut menoleh "Bercanda elah"


"Gue nggak bisa diginiin" ucap Kevin kemudian.


Nao tertawa "Iya deh entar gue traktir. Apapun itu gue bayarin"


Kevin mengulurkan salah satu tangannya "Deal ya?"


Nao berjabat tangan dengan Kevin "Deal"


"Oke gue maafin. Buat Malvin lo belum" sambung Kevin. Keduanya lanjut berdebat singkat.


Sementara itu, Nao mengecek pesan yang dikirim Andi. Ia merasa lega karena di kelas Adel semuanya aman terkendali.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2