
Nao fokus mengemudi sedangkan Adel menatap lurus ke depan sambil melipat tangannya.
Adel sedikit menoleh. Ia melirik Nao.
"Apa?" Nao menyadari jika dirinya ditatap Adel. Ia menyahuti sambil tetap fokus mengemudi.
"Makasih"
Nao menoleh sekilas "Buat?"
"Traktiran sama anter-jemput gue"
Nao berdecih. Ia lalu menepikan mobilnya "Ponsel lo?"
"Buat apa?" Adel menatap heran.
Nao menghela nafas "Nggak peka"
Adel mengkerutkan keningnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia memang tidak mengerti apa maksud Nao.
Nao mengambil ponselnya di saku dan menyodorkannya pada Adel "Nomor hp lo"
"Oh " Adel mengambil ponsel Nao dan diketiknya nomor teleponnya lalu mengembalikan pada Nao.
Nao memberi nama kontak Adel dengan nama 'Adel'
Nao kembali melajukan mobilnya menuju tempat les Adel.
"Sorry tadi gue lama" ucap Adel.
"Hm"
"Nanti pulang jam berapa?" tanya Nao.
"17.30"
"Gue nggak bisa jemput lo"
"Nggak papa kok, biasanya gue naik bus"
Beberapa saat kemudian mereka sampai. Adel melepas seatbeltnya lalu turun. Nao menurunkan kaca mobilnya.
"Makasih, hati-hati" ucap Adel sambil melambaikan tangan. Nao tersenyum tipis. Adel lalu masuk ke dalam tempat les sesaat setelah kepergian Nao.
***
Ponsel Nao bergetar. Ternyata ada telepon dari Malvin.
"Lo di mana? Lando sama teman-temannya udah datang dan kita cuma nungguin lo"
"Gue lagi di jalan, bentar lagi sampai"
__ADS_1
"Oh...oke"
Malvin mematikan sambungan telepon. Nao melempar ponselnya di kursi penumpang dan mempercepat laju mobilnya.
Tak butuh waktu lama Nao sampai di lapangan basket yang terletak di dekat sungai dan agak jauh dari jalan raya.
Nao memparkirkan mobilnya di samping mobil Kevin. Ia berjalan menghampiri teman-temannya yang sedang pemanasan sebelum bermain basket.
"Sorry gue telat" ucap Nao pada kapten basket SMA Charless bernama Lando.
"It's okay bro, kalau nggak ada lo kurang seru" sahut Lando.
SMA Helius dan SMA Charless sering bertanding bersama. Lando yang menjadi kapten mereka merupakan anggota basket bersama Nao ketika SMP. Lando melanjutkan pendidikan di SMA Charless karena suruhan orang tuanya.
Malvin yang selesai pemanasan duduk di samping Nao lalu mengambil sebotol air dari kantong plastik bertuliskan indomaret yang tadi dibelinya. Ia lalu meminumnya "Habis sama cewek lo kan?" ucapnya.
Nao tak menjawab. Ia melepas seragam sekolahnya dan terlihat kaos warna putih dipakainya.
Malvin berdecih "Anak kelas Andi kan?"
"Sotoy lo" Nao berdiri bersiap untuk bertanding.
"Serius lo udah ada cewek? Siapa yang berhasil buat lo jatuh cinta?" Lando ikut menimpali.
Nao menghela nafas panjang. Ia sama sekali belum berniat menceritakan kebenarannya. Biarlah mereka tahu dengan sendirinya di waktu yang tepat pikir Nao.
"Ayo tanding, katanya udah nungguin gue?" Nao mengalihkan pembicaraan. Ia berjalan ke tengah lapangan mendekati Kevin dan Andi disusul oleh Malvin dan Lando.
***
Adel pergi ke toilet sebelum memasuki ruangan. Ia merapikan seragam dan juga rambutnya. Tak lupa ia menambahkan lipbalm di bibir mungilnya. Ia lalu berjalan menuju ruang lesnya. Ada rasa gugup yang dirasakan Adel sebelum memasuki ruangan.
Ia membuka pintu pelan dan dilihatnya Daniel, pria yang selama ini disukainya dengan seragam sekolah SMA Charless, tengah duduk dan membaca buku.
Melihat kursi di samping Daniel masih kosong, Adel bergegas berjalan ke sana.
"Hai Daniel, gue duduk sini ya" ucap Adel seraya duduk di sana.
Daniel tersenyum ramah "Iya duduk aja gapapa"
"Lagi baca apa?"
"Ini" Daniel memperlihatkan sampul buku tentang ilmu kedokteran.
"Lo mau masuk kedokteran?"
"Hm"
"Kalau lo?" Daniel berbalik tanya.
Adel menaikkan bahunya "Entahlah gue belum memikirkannya"
__ADS_1
Obrolan mereka terhenti saat seorang guru memasuki ruangan. Selama hampir 2 jam les berlangsung. Adel dan Daniel juga saling bekerja sama saat ada soal yang mereka kurang paham.
"Akhir pekan lo ke mana?" tanya Daniel seraya memasukkan buku ke dalam tas.
"Di rumah aja kayaknya"
"Mau jalan sama gue nggak? Ada film bagus" ajak Daniel membuat Adel berdebar mendengarnya.
"Em...boleh"
"Gue tunggu di Grand Mall yah. Nanti gue kabarin jamnya" Adel mengangguk.
"Gue duluan ya, dah Adel see you akhir pekan besok" pamit Daniel dan ditanggapi senyuman manis oleh Adel.
Begitulah mereka berdua. Mereka sudah saling mengenal sejak kelas 1 SMA di tempat les ini. Daniel terkadang mengajak Adel untuk jalan bersama. Namun Adel tidak tahu bagaimana perasaan Daniel padanya. Tapi tidak apa asalkan Adel merasa bahagia bersama Daniel.
Adel beranjak dari duduknya dan keluar dari tempat lesnya. Ia berjalan menuju halte bus yang letaknya dekat dengan tempat lesnya. Sambil menunggu ia memainkan ponselnya.
Suara klakson mobil terdengar. Adel menoleh menatap mobil itu. Mobil yang tidak asing. Mobil yang tadi mengantar Adel ke tempat les, mobilnya Nao. Siapa sangka Nao datang menjemputnya, padahal tadi ia sudah mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menjemput Adel.
Adel masih diam mematung menatap heran kedatangan Nao. Ponselnya bergetar. Ia membuka pesan dari nomor tanpa nama.
"Ini gue, masuk aja ke mobil"
Adel beranjak dan mendekati mobil Nao. Ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang.
"Lo kenapa jemput gue?" tanya Adel.
Nao berdeham "Gue tandingnya selesai lebih awal dan kebetulan gue lewat sini"
Adel hanya manggut-manggut sampai sapaan seseorang dari kursi belakang mengagetkannya.
"Halo Adel..."
Adel menoleh. Ternyata ia adalah Andi, teman sekelasnya. Adel membulatkan matanya. Ia terkejut ada keberadaan Andi di mobil Nao. Adel melontarkan tatapan tanya pada Nao.
"Kebetulan searah jadinya dia numpang" Nao menjawab dengan pandangan lurus ke depan.
"Sorry yah Del, gue ganggu lo sama Nao" ucap Andi.
"Dia udah tahu, gue cerita tadi" Nao menyahuti dengan tatapan datar.
"Lo, lo kenapa cerita ke orang lain sih? Gue kan belum siap" Adel menatap tajam pada Nao. Ia merasa kesal dengan Nao yang berbuat sesukanya.
"Santai aja Del, rahasia kalian aman kok di tangan gue. Gue nggak bakal cerita ke anak kelas kita atau orang lain" ucap Andi.
"Beneran ya, awas aja kalau lo ngomong ke orang lain" Adel mengerucutkan bibirnya. Ia melipat tangannya.
"Iya Adel lo tenang aja" sahut Andi.
"Lo nggak usah nyalahin Andi, yang cerita ke dia gue, dan teman-teman gue berhak tahu karena cepat atau lambat mereka pasti bakal tahu. Malvin aja udah neror gue dari tadi pagi waktu lo keluar dari mobil gue" jelas Nao. Adel semakin kesal. Ia kembali melontarkan tatapan tajam pada Nao.
__ADS_1
***