Canda Kita

Canda Kita
Rumah Sakit


__ADS_3

Hai, hai, masih ingat part Mamanya Malvin yang sakit kan?


Kali ini ada sedikit cerita tentang Malvin. Tenang saja cerita tentang Adel dan Nao tetap ada kok, ini hanya bumbu-bumbu biar nggak bosan bahas Adel sama Nao ehehehe.


Happy Reading


***


Sampainya di rumah, Malvin melempar kunci mobilnya sembarang di atas kasur. Ia lalu merebahkan diri seraya menatap langit-langit kamarnya.


Helaan nafas yang cukup berat terdengar. Ia lalu bangun dan berganti pakaian. Setelah itu, ia pergi ke kamar mamanya.


Ia ketuk pintu kamar mamanya sebanyak dua kali dan membuka pintunya. Terlihat sang mama tengah bersiap di depan cermin.


Malvin berjalan mendekati mamanya "Mama sudah siap?"


Senyuman lembut dipancarkan oleh mamanya "Sudah nak, ayo berangkat"


Awalnya sang mama enggan memberitahu Malvin tentang penyakit yang tengah dideritanya. Namun karena Malvin sudah mengetahuinya sendiri, mamanya hanya bisa mengikuti permintaan Malvin untuk berobat.


Malvin dan mamanya berangkat ke rumah sakit. Mereka mempunyai janji temu dengan dokter yang akan menangani penyakit mamanya.


Sampainya di sana, keduanya segera memasuki ruang dokter untuk memulai perbincangan serius.


"Akan lebih baik jika ibu menjalani pengobatan dengan dirawat di rumah sakit saja" begitulah ucapan sang dokter yang berhasil membuat raut wajah Malvin seketika berubah menjadi sendu.


Malvin menggenggam erat tangan sang mama "Ma..."


Sang mama justru tersenyum lembut "Tidak apa nak, apapun yang terjadi nantinya, yang penting kita sudah berusaha sebaik mungkin"


Usai mendengar ucapan sang mama, kini Malvin sepakat untuk merawat sang mama di rumah sakit agar pengobatan yang diterima bisa maksimal.

__ADS_1


Malvin dan mamanya tengah berada di kamar pasien. Terlihat sang mama sedang duduk seraya membaca buku.


Malvin memasukkan beberapa barang milik mamanya ke dalam lemari kecil "Mama mau makan apa? Nanti biar aku belikan"


"Tidak perlu, mama masih kenyang. Sebentar lagi mama juga akan istirahat" jawabnya.


Malvin lalu duduk di kursi "Aku temani mama ya?"


Mamanya menutup buku yang tengah dibacanya "Tidak usah. Kamu kan masih harus sekolah. Sebentar lagi kamu juga akan ada ujian. Biar tante Tina saja yang menemani mama"


Hari semakin larut. Malvin hanya bisa mengikuti saran mamanya. Terlebih lagi ia punya pekerjaan rumah yang harus ia kerjakan untuk esok hari.


Dengan pelan Malvin menutup pintu kamar mamanya agar sang mama tidak terbangun. Ia lalu berjalan menuju pintu keluar. Namun ternyata Malvin lupa di mana letak pintu keluarnya.


"Perasaan tadi gue lewat sini deh? Kenapa nggak ketemu-ketemu?" Gumamnya saat dirirnya tengah berada di lorong yang cukup panjang.


"Kenapa vibenya jadi serem gini sih? Mana sepi banget lagi, kalau gini gue mau tanya ke siapa?" gumam Malvin lagi. Ia berusaha menghilangkan rasa takutnya.


Ditengah perjalanan mencari pintu keluar, terlihat seorang gadis dengan pakaian pasien dan membawa infus di tangan kirinya, berada tak jauh dari Malvin.


"Permisi" ucap Malvin saat dirinya sudah berada tepat di belakang gadis itu.


Gadis itu menghentikan langkah kakinya dan menoleh. Ia lalu memiringkan kepalanya "Kenapa ya? Ada apa?"


Malvin justru terkejut begitu melihat wajah gadis itu yang begitu pucat bagai mayat "Astaga!"


"Lo, lo bukan hantu kan?" tanya Malvin kemudian.


Gadis itu terkekeh kecil mendengar pertanyaan Malvin "Lo nggak lihat kaki gue nginjak tanah?"


Malvin refleks menatap kaki gadis itu. Ia menggaruk samping kepalanya yang tidak gatal karena merasa malu "Sorry, gue nggak bermaksud"

__ADS_1


"Nggak papa kok sudah biasa. Orang yang baru pertama kali lihat gue pasti bakal ngira kalau gue itu hantu atau mayat hidup" jawabnya. Malvin hanya menyengir saat mendengar ucapannya.


"Oh, iya, ada apa?" tanya gadis itu kemudian.


"Oh, itu, lo tahu di mana pintu keluar? Dari tadi gue nyari-nyari tapi nggak ketemu-ketemu" jelas Malvin.


Gadis itu manggut-manggut "Gue anter aja. Agak ribet jalan rumah sakit ini. Entar yang ada lo malah nyasar sampai ke kamar mayat" ia kembali terkekeh kecil.


Malvin menelan salivanya sedikit susah begitu mendengar penjelasan horor dari gadis itu. Terlebih suasana rumah sakit yang sudah sepi dan terkesan seram.


Akhirnya Malvin setuju dengan ajakan gadis itu. Mereka berjalan berdampingan dengan jarak yang wajar. Hanya suara roda dari infus yang dibawa gadis itu yang terdengar saat menemani mereka berjalan.


"Lo udah lama di sini?" tanya Malvin untuk memecah keheningan.


"Lumayan, hampir setahun" gadis itu menjawab dengan pandangannya tetap lurus ke depan.


"Lama juga ya. Sakit apa?" tanya Malvin lagi.


"Semacam kurang darah" jawabnya. Sementara Malvin hanya manggut-manggut.


Beberapa saat kemudian, gadis itu menunjuk ke arah depan di mana pintu keluar itu berada "Lurus saja. Itu pintu keluarnya"


Mata Malvin mengikuti arahan dari gadis itu "Oh, oke. Thanks ya"


"Sama-sama, pergilah, gue awasin lo dari sini. Takutnya lo malah belok dan nyasar ke kamar mayat" gadis itu tersenyum tipis seraya mengibas-ibaskan tangannya.


Malvin justru terkekeh kecil usai mendengar ucapan gadis itu. Ia lalu berjalan menuju pintu keluar berada.


Namun baru sampai di ambang pintu keluar, Malvin membalikkan badannya. Ternyata gadis itu masih setia mengawasi dirinya.


Malvin lalu melambaikan tangannya "Hei, nama lo siapa?"

__ADS_1


Gadis itu menatap heran pada Malvin. Ia kembali mengibaskan tangannya sebagai jawaban yang membuat Malvin tersenyum tipis.


***


__ADS_2