Canda Kita

Canda Kita
Bertemu Daniel


__ADS_3

Waktunya pulang sekolah. Seperti ucapan Nao, hari ini mereka berdua tidak berangkat atau pulang bersama dikarenakan Nao harus mengantar jemput sang mama yang sedang ada urusan.


Adel tengah duduk di halte sembari menunggu bus yang menuju tempat lesnya datang.


Selang beberapa menit, bus itu datang. Adel beranjak menaiki bus itu. Di dalam bus, Adel hanya mendengarkan lagu kesukaannya seraya bersenandung lirih.


Adel sampai di tempat les. Ia berhenti sebentar di halte guna menyimpan ponselnya ke dalam tas.


Adel mulai melangkah saat jalanan untuk menyebrang dirasa sepi. Sampainya di tempat les, ia mendapati Daniel sedang berbicara dengan seorang guru dan staf.


Langkah kaki Adel berjalan mendekati Daniel. Ini kesempatan yang tepat untuk berbicara dengannya karena tidak ada Nao di sini, ucap Adel dalam hati.


Adel menyadarkan badannya pada tembok yang tidak begitu jauh dari Daniel berada. Ia berniat menunggu Daniel selesai berbincang.


Tak butuh waktu lama, Daniel terlihat berpamitan dengan guru dan staff itu. Hanya ada satu jalan meunju pintu keluar yaitu harus melewati depan Adel berdiri.


Saat melewati Adel, Daniel menatap lurus ke depan. Ia memilih untuk mengabaikan keberadaan Adel.


"Daniel tunggu" ucapan Adel membuat Daniel sontak menghentikan langkah kakinya.


Daniel menoleh "Ada apa Del?"


"Em, gue bisa bicara sama lo enggak? Sebentar saja" Adel berkata dengan kepalanya yang menunduk.


Daniel menatap gadis itu "Oke"


Daniel berjalan terlebih dahulu menuju halaman belakang yang ada di tempat les itu diikuti oleh Adel. Kemudian mereka berdua duduk berhadapan.


Daniel menaruh tas di atas bangku. Ia tatap Adel yang duduk di depannya "Lo mau ngomong apa, Del?"


"Gue, gue mau minta maaf sama lo" tutur Adel. Gadis itu masih menundukkan kepalanya. Entah mengapa ia tidak berani menatap Daniel.

__ADS_1


Daniel melipat kedua tangannya "Oh, soal lo sama Nao?"


Adel hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Gadis itu masih menunduk menatap ujung sepatunya.


"It's okay kok Del" sambung Daniel.


Adel refleks mendongakkan kepalanya usai mendengar ucapan tidak terduga dari Daniel. Ia pikir Daniel akan marah padanya. Namun ternyata pria itu justru memaafkannya semudah itu.


"Lo nggak marah atau kesal sama gue?" tanya Adel kemudian.


Daniel berdecih "Awalnya iya, cuma gue kecewa saja, kenapa lo nggak bilang dari awal kalau lo punya hubungan sama Nao, bahkan tunangannya"


"Sorry, soalnya waktu itu gue belum lama dijodohin sama Nao" Adel berucap dengan pelan dan lirih.


"Dijodohin?" sela Daniel dah hanya anggukan pelan dari Adel.


"Wait, pas gue nembak lo perasaan lo ke Nao gimana?" tanya Daniel.


Daniel menoleh ke samping sekilas usai mendengar penjelasan dari Adel "Kalau sekarang perasaan lo ke Nao gimana?"


Deg.


Pertanyaan macam apa ini? Pertanyaan yang cukup membingungkan Adel. Adel tak segera menjawab pertanyaan Daniel. Ia bergeming. Ia terdiam cukup lama.


"Lo suka sama dia" ucap Daniel kemudian. Pria itu menyimpulkan sendiri melihat bagaimana tidak ada respon dari Adel.


Daniel menghela nafas. Ia letakkan kedua lengannya pada meja "Bohong sih kalau gue nggak cemburu atau kesal sama Nao. Tapi Del, kalau lo beneran suka sama Nao, gue nggak papa. Gue nggak pernah lihat dia bersikap seperti itu sama cewek. Biasanya dia akan cuek dan tidak peduli"


"Tapi dia enggak ke lo, Del, Nao sendiri kan yang umumin pertunangan kalian ke publik. Gue rasa Nao juga suka sama lo, Del" sambung Daniel.


Adel di sana hanya mendengarkan ucapan Daniel. Ia bingung harus merespon apa atas tuturan Daniel. Kenapa pria ini justru mendukung hubungannya dengan Nao dan tidak memperjuangkan dirinya? Begitulah pertanyaan yang muncul di kepala Adel.

__ADS_1


Adel mengernyitkan keningnya "Kok lo malah dukung gue sama Nao? Kenapa lo..."


"Del, ada banyak bentuk kasih sayang. Cinta bukan berarti harus memiliki tapi dengan melihat orang yang kita cintai bahagia, itu sudah sangat cukup" Daniel kemudian tersenyum lembut.


Mata Adel terlihat berkaca-kaca. Kenapa Daniel bisa sebaik ini? Kenapa dia berkata seperti itu?


"Dan gue ngerasa tenang kalau lo sama Nao" sambung Daniel.


Adel masih saja bergeming. Kata-kata yang keluar dari Daniel membuat dirinya tak mampu membalasnya dan kehilangan kata-kata. Ia tidak tahu harus berkata apa pada Daniel karena anehnya perasaannya terhadap pria itu perlahan luntur.


"Em, lo tadi bahas apa sama guru dan staff?" Adel mengalihkan pembicaraan.


"Oh itu, gue mau berhenti les di sini" jawab Daniel.


"Gara-gara gue sama Nao ya?" Adel tersenyum kaku.


Daniel sedikit terkekeh "Sebagian. Tapi enggak kok. Ini karena gue mau pindah ke tempat les yang bisa bantu gue buat kuliah di luar negeri"


Adel menganggukkan kepalanya "Lo jadinya mau ambil kedokteran di luar negeri"


"Yup" Daniel tersenyum tipis.


Adel menyodorkan salah satu tangannya guna mengajak Daniel bersalaman "Semoga lancar kuliahnya. Thanks Daniel, for everything. Gue bersyukur banget bisa kenal orang sebaik lo"


Daniel menjabat tangan Adel seraya tersenyum manis "Lo juga Del, gue doakan yang terbaik buat kalian. Bye Del"


Jabatan tangan mereka terlepas. Daniel kemudian berdiri dan meninggalkan Adel di sana.


Gadis itu menatap lurus pada meja. Banyak yang dipikirkannya. Pasti ucapan Daniel tentang Nao meninggalkan dampak tertentu.


Daniel sudah berjalan menjauhi Adel. Dari balik jendela, ia menoleh sekilas menatap gadis yang tengah melamun "Selamat tinggal Adelaida Audia, I love you"

__ADS_1


***


__ADS_2