
Saat sampai di pertengahan jalan, Nao tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh menatap Adel seraya menghela nafas "Jalannya barengan"
Adel tak segera menyahuti Nao "Ha? Apa?"
Nao kembali menghela nafas. Ia kemudian menarik pelan lengan Adel hingga posisi Adel sudah berada di sebelahnya.
Mereka bersitatap. Jarak mereka begitu dekat. Adel hanya mengedipkan kedua matanya menatap Nao sedekat ini.
"Nah gini, jalannya deketan" ucap Nao kemudian.
Perasaan Adel sudah mengerikan. Benarkah ia sudah jatuh hati dengan Nao? Begitulah salah satu pertanyaan yang terlintas dalam hatinya.
Sampainya di venue konser, Nao yang menulis di daftar hadir karena tangan Adel masih dipegang erat olehnya.
"Tiket lo" ucap Nao pada Adel. Adel lalu mencari di dalam tasnya dan menyerahkannya pada Nao.
Kemudian mereka memasuki venue konser.
Nao melepas genggamannya "Duduk sini saja ya"
Adel mengikuti Nao yang duduk di sana. Mereka duduk di atas rumput. Kebetulan konsernya di ruang terbuka dan kesannya santai.
Perlu diketahui bahwa banyak pasang mata masih memperhatikan mereka. Tapi apa pedulinya Nao, apalagi Adel malah sibuk mengatasi perasaannya sendiri.
Nao menatap panggung "Emang siapa saja sih band sekolahan kita?"
Bukan sombong atau apa, kalian tahu sendiri bukan kalau Nao tidak pernah peduli dengan keberadaan orang lain sama seperti Adel sebelum dirinya dijodohkan dengan Nao.
Adel yang tengah berusaha menenangkan diri mengkerutkan keningnya menatap Nao "Lo nggak tahu? Masa lo nggak tahu?"
Nao menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Entar lo juga tahu" ucap Adel kemudian. Nao hanya menaikkan kedua alisnya sekali.
Selang beberapa menit, acara pun dimulai. Dari acara pembukaan, sampai pada akhirnya bandnya Edgar tampil.
Nao membuang muka begitu melihat wajah Edgar yang mengisi posisi vokalis.
"Dia?" tanya Nao pada Adel.
Adel yang sedang sibuk bertepuk tangan, berhenti. Ia hendak menjawab Nao "Iya, dia"
Nao berdecih "Gue mau pulang, sekarang"
__ADS_1
"Loh kan acaranya baru dimulai, masa sudah mau pulang?" sahut Adel.
"Nggak bisa, pulang sekarang" tegas Nao. Kali ini disertai dengan tatapan yang cukup tajam.
"Satu lagu aja ya? Eung? Please, selesai satu lagu deh baru pulang" Adel memohon dengan imut membuat desiran aneh di hati Nao lewat.
Nao menoleh ke samping seraya menghela nafas. Ia berusaha menenangkan diri "Ok fine"
Jawaban Nao membuat Adel tersenyum senang. Tapi Adel sudah tahu kalau yang membuat Nao berkata seperti itu adalah Edgar.
Nao mengeluarkan airpods dari dalam tasnya. Ia memilih mendengarkan lagu kesukaannya daripada harus mendengar suara Edgar.
Satu lagu selesai. Adel bertepuk tangan dengan meriah bersama penonton lain.
Nao mencopot salah satu airpodsnya "Sudah kan? Ayo balik"
"Halah, entar dulu Nao, satu lagu lagi ya? Please" Adel kembali memohon karena menurut Adel acaranya menarik dan tidak membosankan.
Nao hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Adel. Ia biarkan saja Adel yang terlihat senang dengan acara konsernya.
Nao kemudian menyibukkan diri dengan bermain game hingga tak terasa Nao menemani Adel sampai acaranya hampir selesai.
Nao selesai bermain game. Ia mencopot kedua airpodsnya. Ia menatap Adel yang tersenyum dengan senang menatap ke panggung.
"Sudah puas kan, ayo balik" ucap Nao.
Mereka berdiri dan berjalan keluar dari venue konser. Tak lupa Nao kembali menggenggam tangan Adel.
Adel tidak begitu sadar akan hal itu karena dirinya masih terngiang-ngiang dengan acara yang baru saja dilihatnya.
Rupanya pemandangan itu terdeteksi oleh Edgar. Hati Edgar mulai panas. Ingin rasanya ia menghampiri Nao dan Adel, namun niat itu ia urungkan karena ia tengah berada di atas panggung.
Sampainya di parkiran, Nao langsung saja menancapkan gas. Sama seperti tadi ketika berangkat, Adel memakai helmnya sendiri dan di perjalanan ia hanya memegang samping badan Nao.
Tapi entah mengapa Nao tak menarik lengan Adel untuk melingkar di perutnya. Ia hanya fokus mengemudi.
"Nao, mampir ke indomaret bentar ya. Haus gue" ucap Adel.
Nao tak menjawab Adel. Namun di toko yang dimaksud Adel ia menghentikan motornya "Gue tunggu sini saja".
Adel melepas helmnya. Tumben kali ini ia bisa melepasnya sendiri "Oke, mau nitip nggak?"
"Nggak usah" jawab Nao.
__ADS_1
Adel memasuki toko itu dan memilih beberapa camilan dan minuman kesukaannya. Tak lupa ia membeli lebih untuk Nao.
Adel keluar dari toko sembari meminum teh kotak yang tadi dibelinya.
"Lo nggak mau?" Adel menyodorkan sekotak minuman pada Nao.
"Entar saja gue" sahut Nao.
Adel masih meminum teh kotak yang dibelinya. Ia berniat menghabiskan minuman itu.
Hari semakin sore. Langit yang tadi siang cerah perlahan tertutup oleh mendung. Suara petir samar-samar terdengar.
Adel menatap langit "Mau hujan deh kayaknya"
"Lo sih ngikutin acara sampai selesai" sahut Nao.
"Lo juga" Adel kemudian memakai helmnya.
"Gue kan main game, sampai nggak sadar sama acaranya" Nao menyalakan motornya.
Adel terkekeh kecil sembari menaiki motor. Nao kemudian melajukan motornya.
Ditengah perjalanan, langit terlihat semakin gelap. Awan mendung terlihat begitu tebal dan suara petirnya semakin keras membuat Adel refles mengeratkan pegangannya pada Nao.
Hujan turun. Dimulai dari gerimis hingga cukup deras. Nao terus saja melajukan motornya dengan cepat karena ia tidak membawa jas hujan.
Nao menoleh. Ia berniat mengecek keadaan Adel. Namun gadis itu hanya terdiam dan menundukkan kepalanya berlindung pada punggung Nao.
Hujan semakin deras. Nao semakin mempercepat laju motornya. Tanpa sadar Nao membelokkan motonya dan memasuki kawasan parkiran.
Adel turun dari motor Nao "Loh, ini di mana?"
Nao memperhatikan Adel dari atas sampai bawah. Baju Adel terlihat basah tapi tidak separah dirinya.
"Sorry gue nggak bawa jas hujan" ucap Nao.
"Nggak papa, baju gue nggak basah banget kok" Adel memperhatikan Nao "Baju lo"
Nao melepas helmnya "Tenang, di sini ada baju gue"
Adel berusaha melepas kaitan helmnya dan lagi-lagi susah terlepas. Nao yang melihat hal itu langsung membantu Adel.
"Ada baju lo? Emangnya ini di mana?" tanya Adel lagi.
__ADS_1
"Apartemen gue" jawab Nao.
***