
Keduanya kembali ke meja bersamaan dengan saling berpegangan tangan membuat ketiga orang paruh baya yang melihat hal itu tersenyum senang. Cinta dan kasih sayang, seperti itulah yang mereka lihat tentang Adel dan Nao.
Makan malam dan pembahasan mengenai pertunangan telah usai. Kedua keluarga itu sama-sama kembali ke rumah mereka masing-masing.
Suasana hati Adel sudah kembali tenang. Tidak ada lagi kekhawatiran dan ketakutan yang ia pikirkan.
Nao juga kembali mengirim pesan pada Adel seperti sedia kala. Bahkan mereka berdua, besok akan kembali berangkat ke sekolah bersama lagi.
Hendra mengelus lembut pundak Adel saat sudah memasuki rumah "Kenapa kamu nak, dari tadi papa perhatiin kamu senyum-senyum terus"
Adel tersenyum malu "Nggak ada apa-apa kok pa"
"Jangan-jangan karena Nao ya? Papa lihat kalian berdua makin akrab saja" tebak Hendra.
Adel hanya bisa tersenyum kaku mendengar pendapat sang papa mengenai dirinya dan Nao. Ia senang sekaligus merasa malu secara bersamaan.
Hendra terkekeh kecil "Papa senang hubungan kalian sangat baik. Awalnya papa takut akan perjodohan ini, papa takut perjodohan ini akan melukaimu dan membuatmu tidak bahagia"
Adel menatap papanya seraya menggelengkan kepalanya "Enggak pa, aku sama Nao baik-baik saja. Papa tidak usah khawatir"
Hendra memeluk putrinya dengan lembut "Makasih sayang, papa lega mendengarnya. Papa harap kalian berdua hidup bahagia"
***
Keesokan harinya. Seperti pesan yang Nao kirim semalam, kini dirinya sudah menunggu Adel di pelataran rumahnya. Mereka kembali berangkat bersama lagi.
Adel keluar dari rumahnya begitu selesai bersiap. Ia mendapati Nao yang bersandar pada body mobil saat menunggunya. Pria itu tersenyum begitu melihat Adel.
Adel berjalan mendekati Nao "Pagi" sapanya.
Nao justru langsung memeluk Adel "Pagi juga sayang"
Dalam pelukan itu Adel begitu tersipu malu. Ternyata kejujurannya membuahkan hasil yang baik, pikirnya.
__ADS_1
Nao melepas pelukannya. Ia tatap wajah cantik Adel "Ayo berangkat" hanya anggukan kepala dan senyuman manis yang Adel berikan sebagai jawaban.
Keduanya sama-sama memasuki mobil, memakai seatbelt, kemudian mobil Nao lajukan menuju sekolah.
Dalam perjalanan, tangan Nao tak hanya memegang setir. Kali ini ia genggam juga tangan Adel. Tanpa meminta izin, Adel sudah pasti biarkan saja Nao melakukan itu.
Perasaan Adel sudah campur aduk, ia senang sekaligus jantungnya sudah pasti berdebar.
Sampai di sekolah. Malvin mendapati Nao keluar dari mobil bersama Adel saat mereka sama-sama berada di parkiran. Ia berjalan mendekati mereka berdua.
"Morning Del, Nao" sapa Malvin. Adel hanya melambaikan tangannya seraya tersenyum tipis saat membalas sapaan dari Malvin. Sementara Nao hanya mengangkat dagunya sekilas.
Tiba-tiba saja Malvin mendekati Nao. Ia kemudian berbisik "Lo sama Adel? Terus rencana lo gimana?"
Nao tak segera menjawab. Ia menyuruh Adel untuk ke kelas lebih dulu karena ia harus bicara dengan Malvin.
"Del, kamu ke kelas duluan ya, Malvin mau ngomongin basket" beri alasan palsu Nao untuk Adel.
Adel menganggukkan kepalanya dan meninggalkan mereka berdua.
Seperginya Adel ke kelas, kini Nao dan Malvin bebas untuk membicarakan suatu rencana yang berhubungan dengan Adel.
"Jadi, gimana ceritanya?" tanya Malvin.
"Gue kemarin ada family dinner sama Adel. Jujur gue nggak tahu kalau ada dinner sama Adel. Gue sudah berusaha buat cuekin dia tapi nggak bisa Malvin, karena semalam, dia cantik banget"
"Gue sudah susah payah buat nahan diri biar nggak nyapa dia atau muji dia, tapi dia nyamperin gue duluan dan minta bicara empat mata" jelas Nao.
"Terus?" Malvin melipat kedua tangannya.
Nao berdecih "Nggak sepenuhnya rencana ini gagal karena gue belum jelasin apa-apa ke dia"
"Oke. Yang lain juga sudah jalanin rencana lo" Malvin kemudian berjalan hendak menuju kelas.
__ADS_1
Nao mengikuti Malvin "Thanks. Lo tenang saja dia nggak sadar sama rencana ini dan masih ada rencana B"
***
Jam istirahat tiba. Kali ini Adel kembali bergabung dengan Dita dan Andi membuat kedua orang itu bingung karena tidak tahu kebenaran bahwa Adel dan Nao sudah baikan.
Dita mengkerutkan keningnya saat mendapati Adel mengekori dirinya dan Andi saat Nao sudah berada di depan kelas.
Andi dan Dita refleks berkomunikasi dengan tatapan mereka. Mereka sama-sama heran dan bingung.
Sampainya di depan kelas, Adel langsung menggandeng lengan Nao. Membuat yang lain semakin bingung kecuali Malvin.
Saat hendak berjalan, Andi menghentika yang lainnya. Ia biarkan Nao dan Adel berjalan lebih dulu.
"Wait, ini Nao sama Adel sudah baikan? Terus rencana dia sendiri gimana?" tanya Andi.
Kevin menggaruk samping kepalanya "Iya tuh mereka sudah baikan terus ini gimana?"
Malvin menghela nafas "Jalanin rencana B, itu sih kata Nao. Gue sudah pergokin mereka tadi pagi"
Dita mengkerutkan keningnya "Rencana B? Rencana yang gimana? Perasaan rencananya cuma itu saja deh"
Kevin menoleh menatap Dita seraya menganggukkan kepalanya "Sama, gue juga nggak tahu rencana B tuh gimana"
Andi berdecak "Yaudah ikutin Nao saja" ia kemudian berjalan guna menyusul Nao dan Adel.
"Malvin, rencana apaan?" tanya Kevin pada Malvin.
Malvin hanya mengangkat bahunya sekilas "Entah. Seperti kata Andi, ikutin Nao"
Malvin berlalu mengejar Andi. Diikuti Dita yang meninggalkan Kevin sendirian saat tengah kebingungan.
***
__ADS_1