
Sebenarnya apa yang dia cari? Apa kotak perhiasan yang aku temukan tadi? Ih, so swet banget kamu, Mas. Erli senyum simpul saat rancangan acara yang terbayang di kepalanya.
Wanita hamil itu berpura-pura tidak mengetahui benda yang suaminya cari, bahkan dia memasang wajah gembira saat menunjukkan pulpen yang ada di saku suaminya.
“Udah deh, Mas jangan bercanda muluk!” ucapnya sembari menarik seat belt.
“Astagfirullah, aku lupa Sayang. Maafin aku, ya ....” Rafan menyentuh tangan kanan Erli dan dielus punggung tangan istrinya.
Beberapa kali Rafan melirik jam tangannya dan dia terlihat sangat gelisah, Erli sangat tidak nyaman melihat tingkah suaminya yang acuh tak acuh dengan kehadirannya saat ini.
“Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Mas?” tanya Erli lirih.
“Sebenarnya aku ada meeting hari ini bersama Marlita dan papanya,” jawab Rafan kalem seraya meletakkan ponsel.
“Berhenti Mas! Aku turun di sini saja. Kamu boleh pergi ke restoran, tidak perlu mengantarku pulang!” kata Erli penuh percaya diri.
Rafan menatap sekilas wajah istrinya, sedikit tidak percaya dengan ucapan sang istri dan dia juga khawatir jika harus meninggalkannya di jalan seperti ini.
“Mas antar pulang dulu aja, telat dikit ‘kan tidak masalah. Insya Allah Om Benny pasti dapat memaklumi,” ujar Rafan dengan santainya.
“Enggak apa-apa, Mas. Aku akan baik-baik saja kok, kamu temui saja papa beruang hutan itu!” Erli terus memaksa suaminya untuk menuruti keinginannya.
Merasa di desak terus-menerus, Rafan pun mengikuti permintaan istrinya. Dengan sangat berat hati Rafan memberhentikan laju mobilnya di pemberhentian bus.
Pria bertubuh kekar itu turun dan mengitari mobilnya demi membukakan pintu untuk sang istri. Melihat mobil suaminya sedikit menjauh, Erli memberhentikan taksi yang melintas dan mengikuti arah mobil Rafan.
“Pak, tolong jangan sampai kehilangan jejak mobil yang berwarna silver itu, ya!” perintah Erli lembut.
Sopir taksi pun mengangguk dan menjawab singkat, “Baik Non!”
Bibir tipis itu tidak berhenti tersenyum dikala dia menerka-nerka fenomenal yang akan dia alami.
__ADS_1
Kejutan apa yang akan kau siapkan Mas? Aku enggak sabar mau lihat kesibukanmu nanti.
Netranya tidak pernah berpaling sedikit pun dari mobil yang dikendarai sang suami, sampai mobil itu berbelok masuk ke kawasan restoran yang di kelola sendiri oleh Rafan.
“Eh, beneran ke restoran. Aku pikir kamu mau menyiapkan kejutanku dulu,” kata Erli kecewa saat melihat Rafan masuk ke dalam sana.
Dua puluh menit berlalu terlihat Rafan keluar dengan baju yang berbeda. Dalam hati, Erli bertanya-tanya. Sejak kapan suaminya menyiapkan baju ganti di restoran, yang dia tahu selama ini suaminya akan berganti pakaian sesudah mengajar.
Kening Erli mengernyit, rasa curiga muncul begitu saja di pikirannya. Namun, dia mencoba berpikir positif akan tindakan Rafan yang berganti baju dua kali.
Saat mobil Rafan melesat cepat di jalan, buru-buru Erli meminta sopir taksi mengikuti kembali gerak mobil yang di kendarai oleh sang suami. Lagi-lagi kecurigaan itu muncul dan Erli merasa dicurangi oleh Rafan, tetapi wanita berbadan dua tersebut mengingat kebaikan dan pengorbanan suaminya selama ini.
Tidak mungkinkan dia berbuat curang saat ini? Walaupun dia curang aku mau apa? Toh pernikahan kami adalah sebuah perjanjian hitam di atas putih. Bagaimana aku bisa menjamin dia setia? gerutu Erli.
Walau dia berkat demikian, tetapi hatinya tidak rela jika sang suami memiliki kekasih di luar sana. Kepalanya terus memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Awalnya Erli tidak peduli dengan aktivitas Rafan dan bisa di bilang Erli hanya berpura-pura peduli dengan hal yang berhubungan langsung dengan sang suami. Namun, sebulan belakangan ini dia bersikap lebih baik dan tidak mau kehilangan Rafan.
Kali ini Rafan memberhentikan mobilnya di depan toko bunga, hal itu membuat pertanyaan baru muncul di kepala Erli. Selama tiga bulan menjadi istri Rafan, belum pernah dia membelikan buket bunga untuk Erli bahkan membuat kejutan pun belum pernah dia lakukan.
Dia telepon siapa? Baru kali ini aku lihat dia senyum-senyum saat mengangkat telepon. Apa mungkin itu ibu? Batin Erli.
Ketika Erli masih berpikir, sopir taksi mengejutkannya dan membuyarkan konsentrasinya dalam menerka seorang yang menelepon sang suami.
“Bagaimana Pak?” Erli menepuk bahu sopir taksi tersebut seraya bertanya.
“Apa kita ikuti lagi, mobil itu?” ucap sopir taksi “sebenarnya dia siapa, Non? Maaf saya lancang, saya perhatikan Nona sangat emosional saat menatap pria yang mengendarai mobil tersebut,” ungkap pria tua itu panjang lebar.
Erli mengerjapkan matanya berulang kali dan berusaha mengeluarkan suaranya yang tercekat.
“I-itu suami saya, ada apa Pak kok menanyakan hal ini?” ujar Erli tergagap.
Sopir taksi itu menggaruk-garuk tengkuknya meski tidak gatal.
__ADS_1
“Saya ... Hanya penasaran saja. Sejak di halte bus tadi, wajah Nona berubah-ubah. Sebentar senang dan sebentar lagi murung,” tandas sopir taksi di tengah kesibukannya saat mengendarai mobil yang melaju sedang.
Erli tertegun sejenak mendengar perkataan pria tua itu. Dia sendiri pun tidak tahu, siapa dia sebenarnya di hati Rafan dan apa dia benar-benar menjadi istri Rafan. Selama dia mengenal Rafan, tidak ada hal yang tampak buruk semua baik walau dia hadir dengan bayi dalam kandungannya.
Sudah ke tiga kalinya Rafan memberhentikan mobilnya, tapi kali ini pria itu berhenti di depan gedung sekolah dan berbincang dengan satpam yang menjaga pintu gerbang.
Tidak lama sesaat satpam itu masuk dia kembali mendapat panggilan telepon, senyuman itu kembali terpancar di wajah Rafan. Senyuman yang jarang Erli lihat dan itu sangat langkah, tapi ini sudah ke empat kalinya dia melihat Rafan tersenyum bahagia tanpa ada tekanan hari ini.
Erli mencondongkan badannya ke depan untuk melihat lebih jelas barang yang di sodorkan oleh Pak Dadang.
“Bapak lihat tidak, barang yang diberikan oleh satpam itu?” Erli menatap sekilas sopir taksi yang mengantarnya sejak tadi.
Baru saja mau menjawab Erli sudah berbicara lagi, “Cepat Pak! Jangan sampai kita kehilangan dia. Saya mau lihat rencana apa yang akan dia buat untuk saya,” kata Erli terkekeh.
“Iya Non.”
Bukannya ini cafe yang aku ceritakan dua hari lalu? Kenapa saat ini dia malah kesini? Waktu itu menolak untuk datang ke sini,” gerutu Erli.
Bergegas Erli keluar dan menyodorkan beberapa lembar uang, “Terima kasih Pak!”
Dari kejauhan Erli memerhatikan gerak langkah suaminya, sampai pria idamannya itu berhenti di meja paling ujung dekat dengan jendela yang mengarah ke taman kota.
Erli terperanjat melihat seorang wanita sexy menghampiri suaminya, dua insan tersebut saling melempar senyuman dan berpelukan seraya melakukan cipika-cipiki.
Petir serasa menyambar dan matahari seakan menghilang dari muka bumi, gelap. dunia serasa gelap semua menghilang, hatinya tergores luka yang tidak berdarah itu memberi rasa sakit nan perih membuat buliran bening terus mendesak ingin keluar. Namun, Erli menahan sekuat tenaga dia tidak ingin terlihat lemah.
Ketika dia beranjak dari tempat duduknya, tanpa sengaja seorang pelayan restoran menabraknya sehingga tas jinjingnya terjatuh. Suara gelas yang pecah membuat Rafan dan wanita itu melihat ke arah sumber suara, Rafan sempat menelisik penuh penasaran.
“Kenapa Fan?” tanya wanita yang duduk di hadapannya.
“Tidak apa-apa.” Rafan tersenyum.
__ADS_1
wanita itu mirip Erli. Jika benar itu Erli, kenapa dia tidak menghampiriku? Rafan kembali menatap ke arah tangga menuju ke lantai satu.