
Empat jam sebelum kedatangan Xavier kediaman Zulakia, dia meminta bodyguard ayahnya. Ya, bodyguard yang membantu Xavier adalah Bima.
“Lo ikut gue!” tunjuk Xavier dengan telunjuknya.
Bima yang terkesiap menatap semua rekan kerjanya yang tengah brifing saat ini.
“Ngapain lo bengong? Cepat ikuti tuan muda!” kata Rojak sembari mendorong tubuh Bima.
Pria itu menghela napas dan merapikan jas yang dia kenakan. Perlahan, tapi pasti Bima mengikuti langkah kaki Xavier yang masuk ke ruang kerjanya.
Pria itu berdiri tegap di hadapan Xavier yang kini duduk menatapnya.
“Berapa hari dia berada di sini?” tanya Xavier sambil menarik sebuah buku yang terletak di atas meja.
Bima yang tidak mengerti akan arah pembicaraan Xavier hanya diam dengan mata yang melirik ke kanan dan ke kiri.
“Lo bodoh atau gimana, huh!” bentak Xavier dan melempar buku yang dia pegang ke arah Bima berdiri.
Refleks Bima cukup baik, buku tebal itu dia tangkap dengan tangan satu.
“Saya benar-benar tidak mengerti Tuan,” jawabnya dengan kepala yang tertunduk.
“Erli. Berapa hari dia di sini?” Xavier berdiri menatap suasana malam dari jendela.
“Dua hari Tuan.”
“Apa tujuan daddy menculik Erli? Dan lo ... kenapa tidak memberitahu gue? Sebenarnya lo bekerja untuk siapa?” berondong Xavier tanpa memalingkan pandangannya.
Bima mengulum bibirnya sendiri dan dia tidak dapat berkata-kata.
“Brengsek, jawab pertanyaan gue!”
“Tuan memaksa Erli.” Menggeleng kepalanya, “Maksud saya, Nona Erli. Untuk mengakhiri pernikahannya dengan Rafan,” jelas Bima.
Xavier berbalik badan menatap bodyguard-nya.
“Dari mana lo tahu nama suami Erli?” Mengernyitkan keningnya kala melontarkan pertanyaan.
“Kebetulan saja saya mengenal pria itu, Tuan.”
Anak tunggal Safwan itu menarik sudut bibirnya dan tampak di wajah seulas senyuman licik.
“Lo pikir gue bodoh,” kata Xavier menuangkan red wine.
Bima yang merasa terancam mendongakkan kepalanya menatap wajah anak bosnya tersebut. Ragu dan khawatir menyelimuti hatinya, tapi dia memutuskan berkata jujur tanpa ada satu hal yang dia tutupi.
Xavier duduk di kursi kerjanya menyimak semua cerita Bima sambil menikmati red wine yang ada di tangan. Setelah Bima berhenti bercerita, Xavier melempar gelas yang dia genggam sejak tadi. Tentu saja gelas kaca itu berhambur pecah di atas lantai.
__ADS_1
“Kenapa si tua itu ikut campur dalam hidup gue!” Menggebrak meja.
“Lo ikut gue ke rumah Erli!” Xavier keluar dan membanting pintu.
Seketika Bima meraih ponselnya di saku celana dan segera dia menghubungi Rafan untuk mengabari hal ini.
\*\*\*
Ketika kepergian Xavier, Erli memutuskan duduk menikmati angin malam di teras samping. Semula dia ditemani oleh Jafar, setelah duduk dan mengobrol beberapa menit pria tua itu meninggalkan keponakannya sendirian di teras.
“Kamu jangan banyak melamun! Perhatikan kesehatan demi cucu paman,” kata Jafar menasihati Erli yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri.
“Iya, Paman. Habis ini Erli masuk ke dalam,” balas Erli dengan anggukan kecil.
Di sudut ruang tamu, rupanya Handoko telah memperhatikan keadaan. Dia hanya menunggu waktu yang cepat untuk mendekati mantu keponakannya tersebut.
Adik Zulaika itu menunjukkan smirik-nya dan menenggak minuman bersoda yang baru saja dia ambil dai lemari es.
Melihat Jafar meninggalkan Erli bergegas Handoko bergerak dan keluar menemui Erli yang masih duduk termenung menatap langit malam. Entah terlalu fokus atau apa, Erli tidak menyadari kehadiran pria yang sangat dia benci.
“Hai sayangku,” sapa Handoko seraya mengelus rambut Erli.
Terkesiap Erli mendapat sentuhan tangan Handoko. Wajah wanita itu menegang dan rahangnya mengetat, amarah yang baru saja mereda kini kembali membara membakar hatinya.
“Apa tujuanmu ke sini?” tanya Erli dengan mata yang melotot.
“Apa kau lupa dengan janjimu tadi siang?” Handoko menyibak rambutnya.
“Bagaimana, kau sudah ingat sekarang?” Menaikkan sebelah alisnya.
“Lebih baik enyah dari hadapanku!” usir Erli lirih.
“Tidak semuda itu gadis kecilku,” kata Handoko menyeringai.
“Aku bilang pergi tinggalkan aku!” ucap Erli penuh penekanan.
Handoko bergerak mendekati Erli yang berdiri di samping tiang.
“Jangan bilang kau menghindariku karena kehadiran mantan pacarmu itu.”
Mata Erli melotot selepas Handoko berkata ‘mantan’. Bagaimana tidak? Di rumah ini yang mengetahui Xavier mantannya hanya Rafan dan juga Galang, pasalnya Rafan menceritakan hal ini dengan Galang.
“Dari mana kau tahu bahwa dia mantanku?” tanya Erli dengan wajah yang datar.
Handoko tersenyum lebar, “Tidak ada rahasia di antara aku dan mereka.”
“Jadi ....” Ucapan Erli menggantung membuat Handoko bersemangat.
__ADS_1
“Ayo, kita lakukan hal yang menyenangkan.”
“Jangan bermimpi! Sampai mati pun aku tidak akan menjatuhkan harga diriku,” seru Erli.
“Hrga diri? Ha-ha-ha ....” Handoko menertawakan Erli—mantu keponakannya.
“Lihat anakmu itu! Dia anak haram. Hasil perzinahan yang kau lakukan dengan pria yang bernama Xavier itu,” cibir Handoko, rahang pria mesum itu terliat mengetat.
Sontak Erli menatap Handoko dengan sorot mata yang menajam.
“Apa aku salah? Tentu saja tidak, itulah kenyataan yang kau sembunyikan selama ini. Bodohnya Rafan mau menerima wanita hina sepertimu,” cemooh Handoko mencoba memeluk Erli.
“Lepaskan aku brengsek!”
“Jangan sok jual mahal! Layani aku malam ini, Walau kau tidak bisa dipakai, setidaknya ada hal lain yang bisa kumainkan.”
Handoko mengeratkan pelukan tangannya dan memaksakan diri untuk menciumi Erli.
“Bajingan! Lepaskan aku!” Tanpa sadar Erli berteriak sampai di mana Zulaika mendobrak pintu dan mendapati Erli dalam pelukan Handoko.
“Sungguh kurang ajar kalian berdua.” Netra wanita paru baya tersebut melotot menatap Erli dan Handoko.
“Kamu ... sungguh tega kamu melakukan hal ini! Di mana urat malumu, huh?” sergah Zulaika sambil menuding wajah mereka berdua.
Erli mendorong tubuh Handoko sekuat tenaga sampai pria itu melepas eretan tangannya dari tubuh Erli.
“Ini tidak seperti yang Ibu bayangkan,” ucap Erli membela diri.
“Lalu, bagaimana kenyataannya?” Mantap tajam Erli.
“Pria ini—" perkataan Erli terhenti karena Zulaika membentaknya.
“Stop! Tidak perlu kau membela diri. Keluar dari rumah ini dan bawa anakmu itu!” teriak Zulaika seraya memalingkan pandangannya.
Seakan tidak Sudi lagi dia menatap wajah Erli. Suara bentakan Zulaika mengundang seluruh keluarga datang ke teras samping.
Jafar, Rasmi dan Khafi menatap penuh penasaran semua orang yang tengah menatap Erli yang tengah menangis memohon di hadapan Zulaika.
“Aya naon? Ada apa?” Rasmi menarik Erli yang bersimpuh di kaki mertuanya.
“Eneng aya naon? Naha anjeun cicingeun? Eneng, ada apa? Kenapa diam saja?” tanya Rasmi penasaran.
Erli tidak bisa berkata-kata, keponakan Jafar hanya menangis sesenggukan entah apa yang membuatnya menangis seperti itu.
Belum sempat Jafar melontarkan pertanyaan, Zulaika sudah mengusir Erli kembali dengan kata-kata yang sangat jahat.
“Bawa keponakanmu ini beserta anak haramnya! Dan jangan pernah kembali lagi ke sini,” decitnya dengan tangan yang mengarah ke pintu utama.
__ADS_1
“Mari kita bicarakan hal ini dengan kepala dingin, Teh!” tutur Rasmi lembut.
“Aku sudah tidak menginginkan wanita rendahan seperti dia di rumahku!” bentak Zulaika sampai Rasmi membulatkan matanya karena kaget.