Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Pengakuan Xavier


__ADS_3

Erli menerima kotak berwarna cokelat keemasan dari Bima, kepalanya mendongak menatap wajah sang suami. Tatapannya seakan mengisyaratkan bahwa dia meminta izin untuk membuka kotak tersebut, tanpa berucap apa pun Rafan menganggukkan kepala.


Erli memangku kotak itu dan membuka pengait di samping kotak yang diberikan oleh Bima, saat kotak itu terbuka terpampang jelas foto Xavier yang merangkul Erli. Lagi-lagi Erli menatap suaminya dan menggenggam erat tangan besar Rafan, sentuhan tangan Erli memberi arti bahwa dia sudah tidak memiliki perasaan apa pun terhadap almarhum Xavier—mantan pacar sekaligus ayah kandung Alkhaiz.


Selain foto itu ada sebuah Flash drive dan juga jam tangan yang Erli belikan untuk Xavier dulu. Jam tangan yang hanya berharga 500 ribu itu, dibeli Erli sebagai hadiah ulang tahun Xavier saat menjalin kasih, acuh tak acuh Erli memperhatikan 3 benda yang membuatnya penasaran.


Walau hatinya ditikam rasa penasaran Erli seakan tidak memperdulikan 3 benda tersebut. Tanpa perintah apa pun Rafan beranjak mendekati meja kerjanya meraih laptop yang biasa dia gunakan untuk bekerja sehari-hari.


Flash drive yang diberikan Xavier hanya menyimpan satu file saja. Dengan keseriusan 3 orang itu duduk menatap layar laptop Rafan, sebuah video terputar terlihat Xavier tengah sibuk membenarkan kamera di depannya. Begitu dia selesai mengatur posisi kamera ayah kandung Alkhaiz tersebut duduk dan menampilkan senyuman iritnya yang dulu memikat hati Erli.


"Hai, Mai. Apa kabarmu? Aku yakin kau sangat terkejut dengan video ini." Xavier tersenyum dan merapikan kemeja yang dia kenakan.


Mai? Apa itu nama panggilan sayangnya kepada istriku? tanya Rafan dalam hati sambil menatap wajah Erli dari samping, terlihat wanitanya tengah serius memperhatikan almarhum mantan pacarnya itu.


Tatapan matanya sangat terfokus, apa dia masih menyimpan perasaan terhadap Xavier? Ketika Rafan disibukkan dengan lamunannya Erli menarik tangan suaminya dan dipeluk erat lengan besar Rafan.


"Kenapa bengong Mas?" tanya Erli tanpa memalingkan pandangannya.


"Fokus saja sama video itu! Siapa tahu ada hal penting yang dia sampaikan." Rafan mengelus kepala Erli dengan tangan kanannya.

__ADS_1


"Kamu cemburu, Mas?" Erli menatap dengan mata sayunya.


"No, why are you jealous of someone who's gone? There's no reason to justify jealousy.Tidak, mengapa cemburu pada seseorang yang sudah tiada? Tidak ada alasan untuk membenarkan kecemburuan." Rafan menyentuh pipi Erli—wanita yang paling dia sayang.


Di video itu Xavier mengenakan kemeja berwarna biru langit—warna favoritnya sejak kecil dan warna itu dia tularkan ke Erli. Istri Rafan memperhatikan tingkah aneh Xavier yang berulang kali merapikan rambutnya yang tampak tipis dan wajahnya terlihat pucat.


"Aku mohon maafkan aku Mai! Aku sudah merusak hidupmu dan mencampakkan kamu selagi mengandung darah dagingku. Jujur saat itu aku bahagia dan sangat terkejut juga, wanita yang aku cintai mengandung anakku." Senyuman merekah di bibir Xavier.


Erli bergerak gelisah mendengar pernyataan Xavier, dia tidak menyangka bahwa pria itu senang dengan kehamilannya dulu. Namun, pertanyaan lain muncul di kepalanya.


"Aku tahu kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku kasar dan meninggalkanmu saat sedang mengandung. Aku melakukannya sangat amat terpaksa Mai, aku tidak ingin kamu terluka ataupun celaka. Demi menghindari tindakan keji ibu tiriku, aku memilih meninggalkanmu. Merelakan kau menikah dengan bajingan itu," kata Xavier yang raut wajahnya berubah dan tatapan matanya juga semakin menajam kala menyinggung pernikahan Erli dengan Rafan.


"Brengsek, dia bilang apa barusan?" sungguh Rafan matanya melotot menatap wajah Xavier di laptopnya.


"Sungguh sakit melihat kau bersanding dengan bajingan itu, tapi ... inilah jalan terbaik untuk kau dan anak kita. Setelah kepergian mu dari hidupku, duniaku runtuh ketenangan hidupku hanyut bersamaan dengan kenangan manis kita. Asal kau tahu Mai, setiap hari dan setiap saat ku pantau perkembangan hidupmu bersama bajingan itu." Jati telunjuk Xavier mengacung ke depan meski saat itu Rafan tidak berada di hadapannya.


Rahang Rafan mengetat dan urat pipinya menegang, bisa dipastikan kalau saat ini dia sangat emosi.


"Aku yakin saat ini suami bajingan mu itu sedang marah dan mengepalkan tangannya. Aku akui bahwa dia sangat gentleman bisa menerima dan mengakui anak kita sebagai anaknya, aku sangat bahagia melihat hidupmu dikelilingi orang-orang baik. Namun, rasa iriku menimbulkan emosi yang sangat tinggi. Apa lagi mendengar kau honeymoon ke Bali, aku memilih tidak membuntuti kalian karena aku tidak ingin melihat kemesraan yang akan membuatku melakukan hal-hal yang tidak pantas."

__ADS_1


"Baguslah kau paham, aku juga tidak menyukai sikapmu yang memata-matai kehidupanku!" bentak Rafan dengan suara yang menggelegar.


"Astaga Rafan, lo sudah kagak waras?" cetus Bima yang sudah tidak tahan melihat reaksi Rafan yang berlebihan.


Rafan menolehkan kepalanya dan tatapan matanya yang menajam bak mata elang yang menukik mengawasi mangsanya. Bukan Bima jika terintimidasi dengan tatapan Rafan, mereka saling menyerang dengan sorot mata yang sangat tajam.


Di tegah peperangan mereka, Erli makin terfokus dengan pesan Xavier yang di mana dia memberitahukan segala tindakannya yang mengawasi Erli dari pernikahan sampai dia melahirkan Alkhaiz di dunia ini.


"Aku sangat murka dengan ibuku yang memecat sopir pribadiku, dengan alasan beliau sering menjemput dan mengantarkan kau menemuiku. Dan beruntungnya aku bisa bertemu beliau lagi, dia memberitahuku kalau kau sedang pergi dengan baju yang basah. itu sebabnya aku pergi ke rumah petakmu itu dan niatku membawamu ke rumah sakit malah membuatmu emosi dan meneriaki sebagai pria mesum," ungkap Xavier sambil tertawa jengah.


Tatapan Rafan balik menatap sang istri yang masih menatap layar laptop dengan tenang.


Jadi waktu itu dia bertemu dengan Xavier, aku pikir dia benar-benar bertemu dengan pria mesum saat itu. Batin Rafan dengan hati yang bahagia Rafan memeluk dan mencium kepala Erli.


"Jagalah Maira dengan baik, Fan. Gue percaya kalau lo bisa menyayangi anak gue dengan sepenuh hati, gue juga bangga dengan sikap tegas lo memperingati ulat bulu itu. Sebagai penghargaan, restoran yang lo kelola itu gue hadiahkan untuk lo dan kamu, Mai. Seluruh aset kekayaanku sudah aku alihkan menjadi milikmu sebentar lagi Brian datang memberikan semua berkas kuasa dari aset yang aku miliki. Aku juga minta maaf atas tindakan my Daddy yang sudah menculikmu, dia melakukan itu karena penyakit sialan ini!" bebernya panjang lebar dan video itu terhenti begitu saja.


Wajah Erli tanpa datar, tapi hati Erli terenyuh dengan kata-kata Xavier yang yang sangat mengesankan baginya. Disaat Xavier mengakui bahwasanya dia senang dengan kehamilannya. Namun, takdir memisahkan mereka dan memang mereka tidak berjodoh selepas dari ibu tiri Xavier yang tidak menyukai Erli menjadi pendamping Xavier.


Tanpa di sadari rasa over protektif ibu tirinya menyiksa dan menganiaya batin Xavier. Masih merenungi pengakuan diujung usia Xavier, terdengar suara ketukan dan Jingga yang berbicara di balik pintu.

__ADS_1


"Pak di luar ada orang yang mencari Bapak dan Ibu. Pelanggan kita juga diusir secara paksa," tutur Jingga panik.


Rafan, Erli dan Bima saling menatap satu sama lain, gurat kekhawatiran tampak jelas di wajah Erli.


__ADS_2