
Sewaktu Rafan berada di parkiran, Galang memanggilnya dari kejauhan. Segera Rafan memalingkan pandangannya ke sumber suara.
"Lo mau ke mana?" tanya Galang.
"Mau ke rumah Aldy."
"Ngapain lo ke sana?" Lagi-lagi Galang melontarkan pertanyaan.
"Menghajarnya!" seru Rafan dengan rahang yang mengetat.
Kening Galang mengerut mendengar ucapan saudaranya.
"Lo masih menyimpan dendam sama Aldy? Sudahlah Fan, lupain masa lalu kalian!" kata Galang menasihati sang adik.
"Gue mau nanyak keberadaan istri gue," ucap Rafan yang kini mengendarai mobilnya keluar dari kawasan rumah sakit.
Galang semakin tidak mengerti dengan maksud ucapan Rafan.
"Emangnya Aldy yang bawa Erli kabur?" Galang bertanya ambil memasang seat belt.
"Mungkin," sahut Rafan.
Galang menghela napas, "Astaga, kalau belum ada bukti jangan ambil tindakan. Selidiki dulu, kalau benar dia baru kita hajar!"
"Tapi, gue yakin kalau dia pelakunya. Rania bilang kalau mobil Aldy seliweran terus di depan rumah selama beberapa hari belakang ini," jelas Rafan kalem.
Galang melihat kedua tangan adiknya mengepal.
"Lo jangan membuat kesalahan yang akan mengakibatkan masalah besar."
Rafan melirik sekilas Galang lalu, dia kembali fokus mengendarai mobilnya.
Sekian menit berlalu, kini mereka sampai di desa Tegal Mutu—tempat Aldy tinggal. Kedua pria tersebut turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah Aldi.
"Assalamualaikum," ucap Rafan dan Galang bersamaan.
Dari dalam sana, seorang wanita paru baya menjawab salam mereka dan bergegas dia membukakan pintu. Saat melihat ke datangan Rafan dan Galang, ibu Aldy terkejut dan wajah sumringahnya lenyap begitu saja.
"A-ada apa kalian ke sini?" tanya wanita itu tanpa bergeser sedikitpun dari ambang pintu.
"Kedatangan kami ke sini untuk menemui Aldy, Tan!" ujar Rafan tanpa basa-basi lagi.
"Anak saya sakit dan sekarang dia sedang dirawat di rumah sakit Pelita Bunda," kata wanita itu.
Galang dan Rafan melempar tatapan, tentu saja dua pria bertubuh kekar tersebut terkejut. Pasalnya Rania melihat mobil Aldy selalu mondar-mandir di depan rumah mereka.
"Kalau boleh saya tahu, kecelakaan apa yang menimpa Aldy?" buru-buru Galang bertanya.
__ADS_1
Ibu Aldy terdiam dan air matanya berlinang begitu saja. Wanita paruh baya tersebut menceritakan peristiwa yang terjadi pada anak tersayangnya, selepas mendengarkan perihal Aldy. Rafan dan Galang berpamitan.
"Ada yang aneh dari semua kejadian ini," ujar Galang seraya menelepon Rania.
"Lo bener Mas."
Setelah sekian kali Galang menelepon akhirnya gadis itu menerima panggilan telepon kakaknya.
"Ada apa, Mas?" ketus Rania di ujung telepon.
"Astagfirullah, ucapkan salam dulu!" sungut Galang sambil melirik Rafan.
"Ehm, Assalamualaikum Mas Galang jelek yang sok ganteng ... puas!" desis Rania di sebrang sana.
"Ha-ha-ha, udah dicek belum si kuyuk?" tanya Galang disela tawanya.
Galang mendengarkan ocehan adiknya dengan seksama, begitu mengerti Galang mengakhiri sambungan teleponnya dengan Rania.
Rafan mengangkat kedua alisnya, seakan memberi pertanyaan.
"Dia benar-benar koma. Dan itu artinya bukan Aldy yang membawa Erli pergi," kata Galang dengan anggukan kecil.
...***...
Sekilas Erli melirik pria tua itu. Lalu, balik melihat dua orang yang mengenakan baju tenaga kesehatan.
"Anakku tidak tahu-menahu tentang ini," ucapnya sambil berjalan mendekati jendela.
Itu artinya ... dia ayah Xavier, batin Erli disela keterkejutannya.
Seper-detik kemudian dia melontarkan pertanyaan.
"Kalau memang benar dia tidak mengetahui persoalan ini, lantas apa tujuan Anda membawaku ke tempat ini?"
"Aku mau kau menikah dengan Xavier, putraku. Tinggalkan pria miskin yang telah menikahi mu!" Ucapan Safwan membuat Erli geram, tapi dia menahan amarahnya demi mengetahui tujuan Xavier dan Safwan yang sebenarnya.
"Kenapa sekarang?" Sontak Safwan menolehkan kepalanya.
"Apa kau setuju dengan rencanaku?" Safwan bertanya dengan mata yang menyipit.
"Tentu saja tidak," jawab Erli dengan senyuman sinis.
"Kenapa tidak waktu itu? Waktu di mana aku benar-benar membutuhkan tanggung jawab Xavier, sebagai seorang ayah! Sudah hampir setahun kalian mencampakkan gadis miskin ini." Erli memberanikan diri untuk menatap wajah Safwan yang tidak berekspresi.
"Sekalinya bertemu ... kalian berdua memaksaku menceraikan seorang suami yang sempurna seperti Rafan," tuturnya sambil berkacak pinggang.
Erli melihat jelas bahwa Safwan sangat marah, tapi ayah Xavier tersebut menahan emosinya. Untuk apa? Erli juga tidak tahu pasti, yang jelas dia dapat merasakan ada suatu rahasia yang mendesak mereka memintanya untuk berpisah dengan Rafan. Pria yang mengorbankan diri untuk menjaga nama baik keluarga Erli.
__ADS_1
"Sesempurna apa suamimu itu?" Melirik dengan tajam, "Tidakkah kau bahagia melihat anakmu bisa hidup bersama dengan ayah kandungnya?" tutur Safwan dengan rahang yang mengatup.
Erli tersenyum sinis mendengar ucapan Safwan, "Bahagia ... ayah kandung? Hmm, anak Anda itu tidak pantas dipanggil ayah!" Erli mendudukkan dirinya di pinggir ranjang.
"Putra bajingan Anda itu, tidak pantas disebut ayah! Dan lelaki yang saat ini menjadi suamiku itu sangat sempurna, lebih baik dari anakmu yang pecundang itu!" cemooh Erli tanpa takut.
"Jaga ucapanmu!" bentak Safwan, emosi pria tua itu sudah tidak dapat ditahan lagi.
"Orang yang ada di hadapanmu ini ... bukanlah orang sembarangan." Perawat wanita itu mencela ucapan Erli.
"Ha-ha-ha ... walaupun tidak kau jelaskan, aku sudah tahu pasti siapa pria ini." Menelisik Safwan dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kau benar-benar tidak memiliki attitude!" pekik perawat pribadi Safwan dan akibat dari suaran menggelegar perawat tersebut membuat baby E terbangun dari tidurnya yang lelap.
Bergegas Erli menghampiri anak semata wayangnya dan tangan kanan Erli mengelus tubuh baby E.
"Cup ... cup ... cup ... anak Bunda," kata Erli menenangkan malaikat kecil yang baru berusia 3 hari.
"Apa ucapku salah mengenai anak Tuan? Tapi ... di mana letak kesalahanku? Coba katakan kesalahanku, Tuan!" pinta Erli dengan satu alis yang terangkat.
"Aah ... aku tahu! kesalahanku itu mengenal anak Tuan yang brengsek itu!" Netranya melotot menatap wajah Safwan yang terus menegang tatkala mendengar anaknya dihina habis-habisan oleh wanita yang dicintai anaknya.
"Apa yang membuatmu membenci anakku? Dia sudah berubah dan berusaha ingin menjalin hubungan denganmu lagi." Perkataan Safwan ini kembali dicela oleh Erli yang sudah terbakar api emosi.
"Sampai kapanpun aku tidak akan mau menerima manusia brengsek seperti anak Anda!" tandasnya bersungut-sungut, "satu hal lagi, anakku ini tidak ada hubungannya dengan kalian semua. Aku sudah memutus hubungan apapun dengan Xavier, setelah dia mengingkari janjinya kepadaku."
Erli menarik tangannya keluar dari inkubator, lalu menatap lagi wajah Safwan yang sedikit tenang, tapi rahang pria tua itu masih mengetat.
"Sebaiknya Anda tidak perlu membuang-buang tenaga Anda untuk hal yang seperti ini. Lebih baik Anda carikan dia istri yang sempurna, dari segi penampilan dan harta yang dia miliki. Jangan mengharapkan ku, si manusia miskin!" sungut Erli dengan nada suara yang lebih ditekan.
Safwan tidak lagi bisa berkata-kata, dia merasa kala berdebat dengan Erli dan lagi pula pria tua itu tidak begitu suka berbicara. Jatuh terbalik dengan anak semata wayangnya itu, Xavier lebih suka berinteraksi dengan teman-temannya dan juga orang yang baru dia kenal.
Saat melangkah mendekati pintu Safwan berbalik menatap Erli dengan sorot mata sendunya yang membuat Erli sedikit merasa bersalah. Namun, dia tidak ingin merasakan hinaan lagi dari keluarga Xavier.
"Jika saja anakku tidak mengalami hal ini, mungkin saja dia ...." Safwan menggantung ucapannya yang membuat Erli penasaran, tapi dia tidak begitu ambil pusing dengan kata-kata yang keluar dari mulut ayah Xavier.
***
Detik berganti menit dan menit berganti jam. Hari-hari terlah berlalu begitu saja, tidak terasa Erli sudah dua hari berada di sana. Hati dan pikirannya tidak pernah tenang, dia selalu memikirkan keadaan Rafan dan keluarganya yang lain.
Pasti mereka sangat mencemaskan kita. Bunda akan berusaha membawamu keluar dari sini, Nak. Batin Erli yang kini tengah menyusui anaknya.
"Erli ...." Suara yang sangat familier di telinganya.
Suara ini ... tidak mungkin itu dia! tampiknya dalam hati.
"Liana!" Suara itu semkin terdengar jelas di gendang telinga Erli.
__ADS_1
Matanya nyalang mencari sosok yang telah memanggilnya.
"Siapa ...?" tanya Erli sambil berdiri mencari di setiap sudut kamarnya.