
Erli membaringkan tubuhnya di ranjang empuk, pikiran wanita itu melayang memikirkan masa depannya bersama Rafan—pria baik yang mengambil tanggung jawab menikahinya kala hamil di luar nikah.
Tentu saja dia malu bukan main tatkala mengingat kata-kata pedas dari sang mertua. Di mana dia tengah di rayu oleh paman Rafan sendiri, benar pria itu Handoko—pria bertubuh besar yang miliki perut sedikit buncit.
Tidak dapat dipungkiri bahwa Handoko memiliki wajah yang tidak kalah tampannya dari sang keponakan, tapi sayang adik Zulaika tersebut memiliki otak yang sangat mesum. Ketika Erli memejamkan matanya, gendang telinganya mendengar suara ketukan pintu.
Tok ... Tok ....
Pikiran Erli yang merambang seketika buyar dan kedua kelopak matanya terbuka lebar, Erli menatap pintu itu menggunakan ekor matanya.
Mengganggu saja! kesal Erli dalam hati.
Perlahan dia turun dari ranjang dan berjalan malas menuju pintu. Pintu pun dia buka, terlihat istri Jafar berdiri dengan raut wajah yang ditekuk.
"Aya naon Bik? Ada apa Bik?" tanya Erli dengan kepala yang celingukan.
Alih-alih menjawab Rasmi malah memerintah keponakannya, "Cepat keluar, temui ibu mertuamu!"
Sontak jelaga hitam itu membulat tatkala mendengar perintah bibinya.
"Apa Bik?"
"Ada ibunya Rafan di ruang tamu," sahutnya lirih sembari melirik ke ruang tamu yang terhalang tembok pembatas ruang tamu dengan dapur.
Kamar Erli memang berada di tengah persisi di sebelah dapur.
Ya Allah apa ini takdirku? Sesungguhnya aku tidak rela berpisah dengan suamiku ya Allah, tapi apa mau dikata jika ini kehendak Engkau. Batin Erli.
"Neng!" panggil Rasmi seraya mengguncang tubuh keponakannya.
"Hem, apa Bik?" Keningnya mengernyit merespon tindakan bibinya.
"Cepat keluar!" Kepalanya menoleh menatap wajah besannya.
"Bibi duluan! Erli mau merapikan rambut dulu," ujar Erli seraya menutup pintu.
Rasmi menghela napas panjang dan melangkahkan kakinya ke ruang tamu, di mana ada Zulaika yang menanti Erli.
Sedangkan Erli tengah berdiri cemas di balik pintu, dia benar-benar tidak tahu harus bertindak bagaimana jika mertuanya menghendaki perpisahannya dengan Rafan. Sebelumnya dia memang tidak memiliki perasaan apa pun dan dia mengiyakan ajakan Rafan untuk menikah karena pria itu memaksa, tapi detik ini dia sangat keberatan bahkan tidak rela jika harus menceraikan suaminya tersebut.
"Ya Allah apa yang harus yamba-Mu lakukan? Hamba benar-benar tidak ingin bercerai dengannya ya Allah," katanya berkeluh kesah.
Tubuh Erli merosot ke bawah sampai dia terduduk di lantai, kakinya yang tertekuk dia gunakan untuk menyembunyikan wajahnya yang imut.
__ADS_1
Sekian menit dia merenung dan pada akhirnya Erli berdiri dan memantapkan hatinya untuk menerima segala takdir yang akan dia terima.
"Nak, doakan bunda agar kuat menerima keputusan Mbah putrimu!" tutur Erli kalem dan jemari lentiknya mengelus mesra pipi sang anak.
Baby Al yang tertidur lelap tersenyum seakan merespon ucapan sang ibu, setelah tersenyum bayi mungil tersebut menggerakkan kepalanya walau gerakan itu tidak begitu signifikan.
"Ya Allah nak!" ujar Erli sambil mencubit kecil pipi anaknya yang gimbul.
"Bunda keluar dulu ya, Sayang!" pamitnya dengan berat hati.
Sebelum keluar kamar Erli mengangguk dan tangannya mengepal. Setibanya dia di ruang tamu kepalanya tertunduk malu karena dia tahu betul mertuanya itu menyimpan kekecewaan yang sangat amat besar padanya.
"Apa kabar menantu ibu?"
Pertanyaan yang dilontarkan Zulaika membuat Erli terperanjat. Kepalanya yang semula tertunduk kini mendongak menatap intens wajah sang mertua.
"Kenapa ekspresimu kaget begitu?" Zulaika kembali melontarkan pertanyaan.
Erli menggeleng dan menyuguhkan senyuman kecut.
"M-maaf Bu!" Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut thin lips itu.
"Kenapa? Kenapa kamu minta maaf? Jangan minta maaf, Sayang!" cetusnya seraya beranjak dari tempat duduknya menghampiri Erli yang duduk di kursi sebrang.
Erli membalas tatapan teduh Zulaika dan berujar.
"Erli minta maaf karena selama Erli jadi menantu Ibu. Erli sudah menipu Ibu dan seluruh anggota keluarga yang lain," beber Erli menjelaskan dengan tegas.
Zulaika meraih tangan kiri Erli dan mengelusnya lembut.
"Nak, ibu juga minta maaf sudah mengusir kamu malam itu!" Zulaika menyatukan kedua telapak tangannya sontak perbuatannya itu membuat Erli semkin tidak enak hati.
"Bu, jangan seperti ini!" cegah Erli seraya menurunkan tangan mertuanya.
"Seharusnya kamu marahi ibu dan ... jika perlu maki ibu sepuas hatimu!" seru Zulaika tegas.
Erli menggelengkan kepala dan memeluk sang mertua.
"Erli tidak memiliki hak untuk melakukan hal itu, Bu ...," kata-kata Erli terhenti kala matanya menangkap sosok pria yang sangat dia benci berdiri tepat di depan pintu.
"Assalamualaikum." Mengangguk setelah mengucapkan salam.
Rasmi menatap tajam pria itu, sorot matanya mengisyaratkan kehadiran Handoko tidak diterima di rumah kecil milik Erli. Namun, pria itu berusaha bersikap sopan.
__ADS_1
"Boleh saya masuk?" tanya Handoko dangan senyum menghiasi bibirnya.
Buru-buru Erli menjawab, "Silakan!"
Istri Rafan itu menatap tajam pria yang berstatuskan adik kadung ibu mertuanya.
Tegas dan lugas Erli mempertanyakan maksud dan tujuan Handoko ke saja.
"Kedatangan saya kemari untuk meminta maaf atas segala perbuatan buruk saya," tuturnya lebih kalem dari yang sebelum-sebelumnya.
Erli melirik Rasmi yang duduk di kursi pojok, istri Jafar tersebut mengangkat kedua alisnya. Sedangkan Erli menganggukkan kepala ke atas seakan meminta pendapat dari sang bibi—orang yang selama ini berjasa dalam hidupnya.
Alih-alih memberi pendapat Rasmi malah meninggalkan Erli masuk ke dalam, perasaan istri Rafan semakin gusar dan bimbang akan masalah ini.
Apa yang harus aku lakukan? tanyanya dalam hati.
Sekian detik terdiam Erli berdeham menetralkan emosinya dan dua mulai membuka suara.
"Erli akan memaafkan Om Han, tapi Erli minta jaga jarak dengan Erli atau pun anak Erli," pinta Erli dengan suara yang sangat tegas.
"Aku akan berusaha melakukan permintaanmu, terima kasih Erli sudah mau memaafkan kelakuanku yang tercela!" ucap Handoko dengan tangan yang mengatup.
Netra pria itu melirik ke arah kakaknya yang masih duduk berdampingan dengan Erli—menantu pertamanya.
"Pulanglah!" Zulaika mengusir Handoko yang berdiri tepat di ambang pintu keluar.
"Tapi Mbak!" katanya membantah.
"Sudah pulang saja! Aku yakin Erli mau pulang bersamaku," tuturnya seraya menatap sendu mata Erli.
pandangan mereka pun Sling bertemu sejenak Erli merasa canggung melihat sorot mata ibu mertuanya yang sangat dalam.
"Boleh Erli bertanya?" Memiringkan kepalanya saat bertanya.
Zulaika mengangguk dan menggenggam erat jemari Erli.
"Apa maksud ucapan Ibu tadi?"
Zulaika terdiam, tapi senyum di bibirnya tidak pernah surut.
"Ibu meminta dengan segala kerendahan hatimu." Zulaika mengembuskan napas beratnya, "pulanglah bersama ibu. Ibu mohon padamu, Er!" imbuhnya dengan raut wajah yang bersedih.
Gembira? Tentu saja, siapa yang tidak suka mendapatkan perlakuan baik dari sang mertua.
__ADS_1
"Bagaimana, kamu mau?" tanya Zulaika memastikan.