
Rafan menatap Istrinya dan juga Melly secara bergantian. Malu? tentu saja Rafan malu, dia ditampar di depan khalayak.
"Kamu kenapa?" tanya Rafan lembut.
"Bullshit perilaku baikmu ini, Mas." Menepis tangan Rafan dengan kasar, "kalian lanjutkan saja perbincangan mesra kalian! Aku tidak peduli!" kata 'tidak peduli' itu lebih ditekan oleh Erli.
Wanita itu berjalan menjauh dari Rafan.
"Erli tunggu sebentar!" pekik Rafan mengikuti gerak langkah kaki Erli, begitu pula dengan Melly.
Perempuan itu juga ikut mengejar istri temannya sampai mereka benar-benar keluar dari mall. Di pinggir jalan raya Erli mencoba menghentikan mobil taksi yang lewat, tapi sayang semua taksi yang dia lambai tidak berhenti.
"Kenapa ini terjadi padaku?" ucapnya dengan air mata yang terus lolos dari pelupuk matanya.
"Kita bicara dulu di sana yuk, Sayang!" ajak Rafan dengan lembut.
Alih-alih menjawab Erli malah melotot menatap rafan, buliran bening itu tiada henti membasahi pipinya suaranya yang terisak menambah kepiluan hati Rafan. Benar-benar situasi yang sangat sulit di mana posisi Rafan serba salah, Erli yang menutup telinga tidak mau mendengar penjelasan Rafan dan di sisi lain ada Melly yang menatap mereka tengah berseteru.
Wanita yang dicemburui Erli menarik Rafan sampai genggaman tangannya terlepas, sontak Erli melirik suaminya yang diseret menjauh dari dirinya.
Tega kamu Mas, bisa-bisanya kamu memperlakukanku seperti ini. Batinnya berdecih.
"Dia benar-benar cinta mati sama lo, Fan. Bagaiman kita bikin drama agar dia semkin emosi," bisik Melly.
"Sudah kagak waras lo! Tega lo lihat gue jadi duda?" decit Rafan dengan mata yang melebar.
"Sudah lo diam aja! Biar gue yang beraksi," usul Melly seraya melangkah mendekati Erli.
Langkah kaki meli mantap menghampiri istri sahabatnya, sesekali dia menolehkan kepalanya ke arah Rafan. Jantung Rafan berdegup kencang, dia benar-benar khawatir jika di tinggalkan oleh Erli—wanita yang selama ini memikat hatinya.
"Anda benar-benar istri Rafan?" pancing Melly, wanita itu menarik sudut bibirnya yang membentuk senyum miring.
"Wanita tidak tahu malu! Berani-beraninya kamu menanyakan hal ini," bentak Erli seraya menuding wajah Melly.
"Kenapa menatapku seperti itu, Kak! Apa Kakak sadar kalau aku ini lebih cantik dan lebih bohai," Mengelus tubuh rampingnya dengan wajah yang mengejek.
Tangan Erli mengepal keras, emosi yang sedari tadi dia tahan kini telah mencapai puncak.
"Jika Kakak tidak mampu memuaskan Rafan, biar saya saja yang menggantikan kewajiban Kakak!" bisik Melly dengan tangan yang mengelus lengan Erli.
__ADS_1
"Minggir!" pekik Erli sembari mendorong Meli ke samping.
Beruntung sahabat Rafan dapat menyeimbangkan kedua kakinya sehingga dia bisa berdiri dengan tegap. Rafan menatap dua wanita itu harapan-harapan cemas kembali bernapas lega setelah melihat temannya baik-baik saja.
"Kau dan aku jauh berbeda. Aku dinikahi di hadapan seluruh keluarganya dan kau ... kau menjalin hubungan dengannya di ruangan yang gelap tanpa sepengetahuan orang. Apa itu yang kau banggakan? Cih, najis mughallazah!" hinanya dengan meludah ke samping.
Mata Erli melotot tatkala mendengar suara tawa Melly, berulang kali dia menatap suaminya dan Melly secara bergantian. Benar-benar tidak dapat dipercaya wanita yang mengaku teman dekat Rafan, bukan saja mengaku terang-terangan dia memeluk dan cipika-cipiki di depan umum.
"Kenapa kamu kaget Er?" tanya Melly sembari mengusap air matanya.
"Mas!" panggil Erli bingung.
"Kamu cemburu denganku?" Pertanyaan Melly terdengar mengejek.
Ibu Alkhaiz tersebut mendekati suaminya yang berdiri di belakang Melly.
"Dia ...." Ucapan Erli terhenti karena dia tidak enak untuk melanjutkan pertanyaannya.
Rafan mengangguk seakan tahu arah pertanyaan Erli yang menggantung.
"Umm, tidak sia-sia aku merogoh kocek lebih," ucap Melly tersenyum-senyum.
Erli semakin bingung dengan ucapan ambigu Melly, bola matanya bergulir menatap sang suami yang merangkulnya.
"Serius? Jangan-jangan kalian sekongkol untuk membodohi aku," ujar Erli tanpa ragu-ragu.
"Astagfirullah Erli," tukas Rafan memotong ucapan Erli.
"Mardian, tunjukin E-KTP lo!" titah Rafan pada teman akrabnya.
Mardian adalah nama asli Melly, tidak perlu dijabarkan secara detail ya, aku yakin kalian paham betul.
Melly mengeluarkan tanda pengenalnya dan disodorkan kepada Erli, dengan teliti Erli membaca nama dan juga gender wanita yang berada di hadapannya saat ini.
"Ini serius, Mas?" Menatap Melly dari ujung kaki samai ujung kepala.
Suaminya hanya mengangguk dengan ekspresi wajah yang tenang. Erli yang malu dan merasa bersalah menjumpai Melly.
"No problem dear. This is a sign that you really love Rafan, tidak masalah sayang. ini tandanya kamu sangat mencintai Rafan," celetuk Melly mengomentari sikap Erli.
__ADS_1
Wanita beranak satu tersebut menyuguhkan senyum kecutnya, ini kali kedua dia melakukan hal di luar batas. Seumur hidupnya Erli selalu berusaha sabar dalam menyikapi keadaan, tapi kali ini di depan umum dia marah memaki dan menghina orang itu sebabnya dia malu di depan Melly atau Mardian.
Perbincangan di pinggir jalan membuat 3 orang itu larut dalam suasana nyaman yang tercipta akibat ke kecemburuan Erli dan dengan ragu-ragu Erli berucap.
"Tolong, maafkan saya! Sungguh saya tidak tahu kalau kamu itu ...."
"Cowok!" sambar Melly.
Erli mengangguk membenarkan ucapan teman dekat suaminya.
"Aku juga minta maaf, Mas. Dulu ... aku berprasangka buruk terhadapmu," tuturnya kalem dan netranya menatap sayu wajah sang suami.
Rafan tersenyum dan menepuk lembut punggung tangan Erli.
"Memangnya kmu berprasangka apa terhadapku?" tanya Rafan penasaran.
"Janji tidak marah!" Erli mengacungkan jari kelingkingnya, segera Rafan menautkan kelingking mereka.
"Maaf banget ya, Mas!" Menakupkan kedua telapak tangannya.
"Iya, sudah aku maafin. Sekarang cerita dulu," desak Rafan pelan.
"Janji tidak marah ya!" Kalimat yang sama yang keluar dari mulut thin lips-nya.
"Mas ingat waktu aku berkunjung ke sekolah, sewaktu Al masih dalam perutku?" Menatap nanar wajah Rafan.
"Iya, kenapa?" Menggenggam jemari Tangan Erli.
"Aku ngikutin, Mas. Dari meeting sama ayahnya Marlita dan bertemu ... dia!" tunjuk Erli ragu-ragu.
"Astagfirullah, itu sebabnya kamu pulang ke rumah petak kita?" Mengangkat dagu Erli.
"I-iya, Mas!" Kepalanya tertunduk malu.
Tanpa berucap apapun Rafan memeluk istrinya dan dikecup ujung kepala Erli.
"Tidak mungkin aku mengkhianati kamu. Cinta ini sudah terpatri dan tidak mungkin pudar ataupun menghilang," bebernya dengan kepala terangkat.
Awalnya Melly tenang dan tidak risih karena dia berpikir, pasutri ini butuh ruang untuk berbicara. Namun, suasana hatinya berubah tatkala dia melihat sahabatnya main mesra-mesraan. Melly mengembuskan napas dengan sangat kasal.
__ADS_1
"Bisa kagak dihentikan bentar saja!" pinta Melly kalem.
Rafan mengangkat sebelah alisnya dan tampak senyuman miring di wajah pria itu.