Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Tertipu


__ADS_3

Di ujung telepon Bima masih menyerukan nama Erli berulang kali.


"Halo, Erli ... Er, lo masih di sana bukan?"


Erli yang tersentak dari lamunannya berjongkok dan meraih ponsel yang tadi dia jatuhkan.


"Iya Bim," jawabnya terisak.


"Sekarang kamu ada di mana?" tanya Erli menahan tangis.


"Gue masih di rumah sakit. Saran gue, lo jangan ke sini!" kata Bima mencegah niat Erli.


"T-tapi aku mau lihat dia terakhir kalinya Bim," ucap Erli terkekeh, "aku merasa bersalah padanya." Tangis Erli pecah begitu saja dan hal tersebut mengundang penasaran Rafan yang melewati kamar Erli.


Rafan masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu kamar istrinya, perlahan Rafan melingkarkan tangannya di pinggang Erli.


"Kamu kenapa?" bisik Rafan di telinga Erli.


Wanitanya masih terisak sambil menatap wajahnya, Rafan yang merasa aneh langsung merebut ponsel Erli.


"Apa yang lo bicarakan sama istri gue sampai dia menangis?" tanya Rafan geram.


"Serius lo, Bim? Kemarin gue masih ketemu sama Xavier, dia dalam keadaan baik-baik saja." Rafan menatap Erli penasaran.


"Oke, besok lo temui gue sama Erli di restoran tempat gue kerja!" tutur Rafan kalem menatap Erli dengan sorot mata sayunya.


Kenapa dia menangis seperti ini? Apa mungkin dia menyesal tidak menerima tawaran ayah Xavier? Apa dia masih menyimpan perasaan terhadap Xavier? Astagfirullah ... kenapa aku berprasangka buruk dengannya? hati dan pikiran Rafan terus menerka-nerka alasan Erli menangis.


"Mas, kamu jangan salah paham! Aku menangis, bukan karena menyesal kehilangan dia. Waktu itu aku belum sempat meminta maaf padanya, aku terus menyudutkan dia atas apa yang telah terjadi pada hidupku." Erli memeluk Rafan dan membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Kalau saja aku tahu dia akan pergi secepat ini aku akan lebih awal meminta maaf dan aku juga akan mengucapkan terima kasih padanya," ucap Erli yang masih membenamkan wajahnya di dada Rafan.


Kalimat Erli membuat Rafan mengernyitkan keningnya lalu dia melontarkan pertanyaan.


Rafan membungkukkan tubuhnya demi menatap wajah sang istri.


"Terima kasih buat apa? Dan kata maaf untuk apa juga? Apa kamu menyesal menikah denganku?" berondongnya tanpa berpikir lagi.

__ADS_1


"T-tidak Mas! Tidak seperti itu," sahut Erli cepat.


Kening Rafan mengerut, "Lalu ...."


"Di dalam sini, tidak ada kata menyesal." Erli melepas pelukannya dan menyentuh dadanya sendiri.


"Karena kebodohannya mempertemukan kita Mas. Sejak hari pernikahan kita, aku jatuh cinta denganmu Mas. Aku tidak rela jika ada wanita lain mendekatimu, walau hanya sebatas bertanya tentang alamat atau yang lainnya," beber Erli tanpa malu-malu, wanita yang berusia 26 tahun itu telah berani mengutarakan isi hatinya yang selama ini dia pendam.


"Kamu sadar dengan ucapanmu?" Menatap penuh keseriusan.


Erli yang tersinggung menepis kedua tangan Rafan yang menakup sebagian wajahnya.


"Emang wajahku terlihat mengigau? Aku serius dengan semua yang aku ucapkan Mas!" kata Erli penuh penekanan.


"Alhamdulillah." Rafan mengusap wajahnya dengan kedua tangan seakan selesai berdoa.


Tiba-tiba Erli melayangkan pukulan di dada bidang Rafan dan dia juga melayangkan bogeman ke perut sixpack milik Rafan. Suami sahnya itu menarik sudut bibirnya dan terbersit ide nakal dipikirannya.


"Aduh!" keluhnya sambil memegang perut kotak-kotaknya.


"Apa pukulanku terlalu keras, Mas?" tanya Erli bingung.


"Maaf Mas." Erli membungkuk menatap dan mengelus perut sang suami.


Rafan menahan tawa melihat istrinya tertipu dan ketika Erli masih mengelus perut sixpack itu, Rafan menakupkan kedua tangannya di sebagian wajah Erli. Ditatap lekat-lekat bola mata indah itu jarak wajah mereka kini sangat dekat bahkan Ujung hidung mereka menempel.


Tatapan itu semakin dalam menghanyutkan mereka dalam keheningan. Dikala Erli memejamkan matanya Rafan tersenyum manis melihat istri cantiknya telah bersiap menunggu pergerakan yang akan dia lakukan.


Dalam pikiran Erli, Rafan akan mengecup bibir thin lips miliknya, tapi kenyataannya Rafan hanya mengecup ujung kepalanya saja dan itu membuat Erli kecewa. Raut wajah yang ceria berubah seketika, bibir yang manyun alis yang menaut menandakan dia tidak puas akan tindakan Rafan.


Rafan semakin gemas dengan tingkah Erli, dia sangat tahu apa yang ada dalam pikiran istrinya oleh sebab itu dia hanya memberikan kecupan tipis di ujung kepala.


"Kau tidak puas?" Pertanyaan bodoh yang Rafan lontarkan.


Dia itu pe'ak tahu apa? Sudah tahu ekspresiku manyun, masih tanya lagi! gerutu Erli dalam hati.


"Are you okay, Honey? Kamu baik-baik saja, Sayang?" Rafan kembali bertanya.

__ADS_1


"Ya, I'm so fine! ya, aku sangat baik-baik saja!" kata Erli pelan, tapi tajam.


Tiba-tiba Rafan tertawa melihat ekspresi wajah Erli saat mengungkapkan perasaannya, tawa bahagia Rafan menimbulkan kebingungan di hati sang istri. Sampai-sampai dia menyentuh kening Rafan dan menatap penuh keseriusan.


"Kamu kenapa lagi?" Menatap dari ujung kepala sampai ujung kaki, "sudah puas kamu mengerjai aku, Mas? Sana pergi ke wanitamu!" usir Erli dengan tangan yang menyilang di dada.


Reflek Rafan memiringkan kepalanya mengintip wajah sang istri.


"Wanita, siapa yang kamu maksud?"


"Lupakan, aku asal bicara!" ujar Erli sambil mengibaskan tangan kirinya.


Rafan mengangkat kedua alisnya dan mengangguk-angguk mendekati ranjang tempat tidur Erli yang di mana ada Alkhaiz—anak mereka yang sangat menggemaskan.


"Assalamualaikum anak ayah. Apa kabar, Nak?" Rafan mencium pipi bayi mungil itu.


Sebelum meneruskan kata-katanya Rafan menatap Erli yang masih berdiri dekat lemari plastik.


"Kalau besar nanti ... jangan seperti bundamu, ya!" bisik Rafan lembut.


"Apa? Coba ulang kalimat itu!" perintah Erli seraya mendekatkan diri.


Rafan menatap Erli dan berkata, "Kamu nanyak? Kamu bertanya-tanya?"


Erli melebatkan matanya saat mendengar kalimat aneh tersebut.


"Sejak kapan kamu demam Cemrek, Mas?" Mengerjakan mata berulang kali.


Bukannya menjawab Rafan malah mengedikkan kedua bahunya, seketika Erli menepuk jidatnya sendiri dan memejamkan kelopak matanya. Tanpa aba-aba Rafan mengecup bibir Erli berulang kali.


Deg ....


Erli berhenti bergerak, perlahan kelop matanya terbuka menatap wajah sang suami yang telah dekat dengannya. Kening mereka saling menempel dan lagi-lagi Rafan melayangkan kecupan mesra itu lagi yang membuat istrinya melambung tinggi ke atas langit, masih syok dengan perilaku Rafan—dia kembali membuat Erli mati kutu ditarik tubuh Erli sampai dia terduduk di pangkuannya.


Blush ....


Wajah wanita itu memerah, jantungnya bergemuruh dan darah di tubuhnya seakan mendidih dibuatnya. Embusan napas Rafan menabrak kulit leher jenjang Erli, harum napas Rafan bisa di hirup bebas olehnya.

__ADS_1


Apa yang akan dia lakukan? Tolong jangan membuatku meremang seperti ini Rafan! A-aku belum s-siap! gumam Erli dalam hatinya.


Suaminya itu mendekatkan diri sampai bibir pointy natural itu menempel di telinganya, perlahan Erli terpejam dan mendengar kata-kata yang membuyarkan pikiran Erli.


__ADS_2