Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Penghinaan


__ADS_3

Erli kembali bersimpuh di kaki Zulaika, dia memohon agar tidak diusir dari rumah.


“Erli mohon, biarkan malam ini Erli tidur di sini! Kasihani bayi Erli, tubuhnya masih lemah akan udara malam hari.” Wanita itu menakupkan kedua tangannya di hadapan Zulaika.


Alih-alih mengizinkan, Zulaika malah menghina Erli dengan suara yang meninggi hingga menggema di seluruh ruangan.


“Pergi ...!” teriak Zulaika, “aku haramkan kau menginjak rumahku wanita hina!”


Zulaika meninggalkan ruang tamu setelah berteriak histeris.


“Erli pamit, Bu. Erli minta dengan tulus, halalkan semua makanan yang Erli makan di rumah ini!” pekik Erli dari kejauhan.


Khafi yang meradang langsung merangkul adiknya dan Rasmi menuju kamar Khaiz membawa bayi itu keluar dari kediaman Zulaika.


Kepergian mereka tanpa sepengetahuan Rafan yang tengah sibuk dengan restoran yang mengalami kebakaran.


“Di mana letak k-kesalahanku, Bik” tanya Erli terisak.


“Sudah Neng, jangan menangis lagi! Kita pulang ke Bandung, Neng tong ceurik deui! Urang balik deui ka Bandung,” kata Rasmi menenangkan Erli—sang keponakan.


Rahang Khafi mengetat dan tangan pria itu mengepal keras, dia sangat marah dengan perilaku Zulaika yang telah menghina adiknya. Namun, Khafi tidak dapat melakukan apa pun saat itu karena dia tahu sekali bahwa adiknya telah membohongi ibu dari suaminya.


Itu sebabnya Khafi memilih diam tidak beraksi, dia memilih menahan amarah yang telah berkobar membakar hatinya.


“Pak, entong Rafan ngajemput Erli. Khafi teu daék jeung tulus ningali Erli diperlakukeun kitu deui! Pak, jangan biarkan Rafan menjemput Erli. Khafi tidak rela dan tidak ikhlas melihat Erli diperlakukan seperti itu lagi!” ucap Khafi penuh penekan.


Jafar diam, dia tidak menjawab ataupun berkata sepatah kata. Pria tua itu seakan memikirkan hal lain selain peristiwa yang dia dan keluarganya alami saat ini, peristiwa ini bukan kali pertama dia dihina. Ini sudah yang ke 3 kalinya selama Erli masuk ke dalam hidupnya.


Bagai kaset rusak, memori Jafar memutar ulang kisah hidupnya dulu sekali. Saat Erli lulus SMA di mana dia dicibir tidak akan bisa masuk perguruan tinggi karena miskin, tapi nyatanya dia masuk ke universitas ternama di kota Bandung. Kalian sudah bisa menembak ‘kan penghinaan kedua yang mereka alami, yang kedua hinaan itu dilakukan oleh Xavier dan juga kedu orang tuanya.


Di mana ibu Xavier melempar beberapa gebok uang untuk menggugurkan kandungan Erli, sungguh malang nasib Erli dan juga keluarganya. Hinaan demi hinaan diterima oleh ibu muda itu.

__ADS_1


Apa yang membuatmu terus mengalami ini neng? Dan kesalahan apa yang diperbuat ayah ibumu sewaktu hidup? Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di kepala pria tua tersebut.


Setelah menunggu selama 15 menit taksi online yang mereka pesan telah tiba. Perlahan Erli masuk mobil dengan pandangan yang terus tertuju pada rumah bertingkat 3 yang sudah dia anggap sebagai rumahnya sendiri selama beberapa bulan belakangan ini.


“Bik ... s-suami Erli pasti akan mencari keberadaan Erli dan Khaiz setelah dia kembali ke rumah,” cicit Erli sesenggukan.


Rasmi yang duduk di sebelah Erli langsung merangkul dan mengelus kepala keponakannya.


“Yang sabar Neng! Insya Allah ada jalan untuk kita, kamu jangan terlalu stres dengan peristiwa ini. Kasihani anakmu!” tunjuk Rasmi dengan dagunya.


"Ayo, lebih tabah menjalani semua cobaan! Bibi yakin kamu bisa melewati masa-masa sulit ini, ada dan tanpa ada kehadiran Rafan."


"Benar kata ibu, jangan mengkhawatirkan Al. Aku siap menjadi sosok ayah buatnya, kamu fokus saja merawat anakmu!" kata Khafi menasihatinya adik perempuan nya.


Tangisan Erli semakin pecah kala menatap wajah bayinya yang tidak bersalah, sejak dia berada dalam rahim Erli—dia selalu mengalami penolakan. Entah itu dari ayah kandungnya, masyarakat dan juga keluarga tirinya saat ini.


Erli mengelus dan menciumi pipi anaknya yang masih tertidur lelap dipangkuan Rasmi.


Maafkan ibu, Nak! Ibu bukan ibu yang baik untukmu, ibu sudah gagal menjadi sosok ibu yang sempurna.


\*\*\*


“Assalamualaikum,” salam Rafan seraya melepas sepatunya.


Rumah terasa lengang walau seluruh anggota keluarga Zulaika berkumpul di ruang tamu. Netra Rafan mengedar mencari keberadaan Erli dan juga anggota keluarganya yang baru tiba beberapa jam yang lalu.


“Apa mereka sudah istirahat, Bu?” tanya Rafan sambil meletakkan koper di sebelah bufet kayu.


Alih-alih menjawab Zulaika malah memalingkan pandangannya dan kerabat yang lain hanya dia mematung menatap Rafan datar. Sorot mata mereka menimbulkan beberapa pertanyaan.


“Apa kalian lagi memainkan sebuah permainan?” Rafan kembali melontarkan pertanyaan kepada Rania—adik perempuan satu-satunya.

__ADS_1


Bungkam, lagi-lagi semua orang bungkam tidak menjawab sedikit pun pertanyaannya.


“Kalian kenapa? Apa aku berbuat kesalahan?” Anak kedua mendiang Suprianto berdiri menatap satu per satu wajah kerabatnya.


“Nia, kamu enggak mau jawab pertanyaanku?” Rafan mengguncang lengan adik perempuannya.


Namun, gadis itu masih diam membisu seribu bahasa. Merasa ada yang aneh, Rafan masuk ke dalam kamar berharap sang istri bisa menjawab pertanyaan yang dia miliki.


“Erli ... kamu ada di mana?” Rafan masuk ke ruang ganti dan dia memeriksa kamar mandi.


Istri dan anaknya tidak ada dalam kamar, Rafan yang masih bingung memeriksa kamar tamu dan di dalam sana tidak ada siapa-siapa. Barang yang dibawa paman dan juga bibi Erli juga bersih tidak tersisa sama sekali, dalam kepanikan Rafan berlari keluar menuju ruang tamu yang dipenuhi oleh keluarganya.


“Bu, mereka ke mana?” Rafan mengacungkan telunjuknya ke kamar.


“Sebegitu berharganya wanita rendahan itu di hidupmu!” protes Zulaika memelototi anak laki-lakinya.


Kening Rafan mengerut mendengar pernyataan yang keluar dari mulut sang ibu.


“Apa maksud, Ibu? Siapa yang Ibu sebut wanita rendahan?” ujar Rafan sambil meneliti wajah semua orang.


“Wanita yang kau bawa pulang dan yang kau bilang gadis terhormat dari keluarga baik-baik. Yang nyatanya melahirkan anak haram itu di rumah ini!” geram Zulaika.


“Istigfar Bu! Apa ibu sadar dengan ucapan Ibu?” kata Rafan membujuk ibunya.


“Rafan ... Erli sudah membohongimu,” sahut Dewi yang duduk di pojokkan.


Rafan memalingkan pandangannya menatap sang tante.


“Dia tidak membohongiku, Tan.”


Zulaika semakin murka melihat anaknya membela wanita yang dia benci.

__ADS_1


“Cukup Rafan! Ibu tidak ingin mendengar namanya di rumah ini. Haram bagimu mengucapkan namanya dan juga anak haram itu!” berang Zulaika dengan tangan yang menggebrak meja.


“Anak haram?” Rafan menatap ibunya, “lalu, bagaimana dengn Rafan, Bu?” Rafan menunjukkan wajah datar yang menyimpan misteri.


__ADS_2