Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Pertemuan Mereka


__ADS_3

Rafan masih berdiri menatap ke luar jendela sambil membayangkan wajah ayu sang istri. Tiba-tiba Rafan mengingat ucapan Erli yang saat itu masih menjadi tunangannya.


"Kenapa gue baru mengingatnya, semoga saja Grenya masih memiliki tokonya," katanya lirih seraya meraih ponselnya di saku celana.


Pria berkumis tipis tersebut mulai menggeser kontak yang ada di ponselnya, mencari nama Grenya—temannya kala magang dulu.


Siang, apa betul ini Kak Grenya? pesan singkat Rafan.


Sekian menit Rafan menunggu balasan pesannya, tapi temannya itu masih belum melihat pesannya.


"Apa gue salah nomer telepon?" gumam Rafan lirih sambil menyanggah dagunya dengan tangan kiri.


Ponselnya berdering, saat dia melihat layar tertera nama Grenya membalas pesan yang dia kirim.


^^^Iya, Fan ... ada apa? jawab Grenya.^^^


Gue pikir, lo lupa sama gue. Lo masih punya stand toko bunga?


^^^Masih, memang kenapa? Lo mau beli bunga?^^^


Iya, lo tahu kagak sama bunga yang melambangkan perasaan kita terhadap orang?


...Lo ya, kalau berbicara kaya anak TK aja. Bilang aja kalau lo mau kasih bunga buat pacar lo! sergah Grenya gregetan....


Kalau udah tahu, ngapain nanyak lagi? Kira-kira bunga apa yang cocok? Rafan merapikan dasi yang dia kenakan.


...Ada banyak, lo mau bunga kek mana Fan? Mawar, Tulif atau Anyelir....


Yang cocok buat cewek yang pemberani, cantik, baik hati dan .... Rafan menggantung ucapannya dalam pesan tersebut membuat Grenya bingung plus penasaran.

__ADS_1


...Dasar pe'ak! dan apa we?...


Lupain! Menurut lo sebagai cewek, bunga apa yang melambangkan cinta sejati dan tulus?


...Sebel gue sama lo, Fan! Udah deh lo pilih ndiri aja bunga yang lo suka! walau hanya tulisan singkat, Rafan dapat mengetahui bahwa temannya itu sedang emosi....


Gue 'kan kagak tahu jenis bunga, bulder .... sungut Rafan.


^^^Astaga, nanti gue kasih foto bunga yang cocok. Tugas lo hanya memilih buketnya!^^^


Oke, thanks Gre.


...Jangan panggil gue bulder! Gue udah kagak sebesar dulu!...


Nama itu cocok untuk lo, Gre.


Selang beberapa menit ponsel Rafan kembali berdering, dengan jempolnya dia membuka pola password di benda pipih yang berwarna hitam terlihat notifikasi pesan dari Grenya—teman yang dia tanyai soal buket bunga.


"Sepertinya ini cocok buatnya." Mengangguk sambil tersenyum tipis melihat foto buket yang menjadi pilihannya.


Masih sibuk menggeser naik turun layar untuk memilih buket bunga, Rafan dikejutkan oleh seorang karyawan yang mengetuk pintu dan masuk memberitahukan tentang seorang tamu yang ingin menemui Rafan. Segera dia meletakan ponselnya dan keluar dari ruang kerja menuju ke


Rafan menatap pria itu penuh penasaran, dengan cukup tenang dia bertanya maksud dan tujuan pria tersebut. Belum sempat Rafan bertanya pria yang duduk dihadapannya tersebut memulai percakapan terlebih dahulu.


"To the poin aja. Kedatangan gue ke sini untuk mengambil hak gue yang telah lama lo rebut!" kata Xavier lirih seraya memotong steak yang dia pesan.


Sontak Rafan terkejut mendengar ucapan Xavier, kening Rafan mengerut dan sorot matanya sedikit menajam.


"Hak apa?" sahut Rafan cepat.

__ADS_1


Xavier mengeluarkan sebungkus rokok serta pematiknya, sedikit buru-buru dia menyelipkan rokok tersebut lalu menyalakannya.


"Apa lo kagak mengenali gue?" kata Xavier sambil mengisap rokok, "gue yang seharusnya memiliki dia bukan lo. Dan lebih berhak gue terhadap lo, orang yang biasa-biasa saja," cibirnya dengan nada rendah.


Hak? Hak apa yang dia maksud? tanya Rafan dalam hatinya.


"Bisakah Anda menjelaskan lebih spesifik lagi!" pinta Rafan dengan nada tegas.


Netra dua pria itu saling bertemu dan sorot mata Rafan tidak setajam pria yang seumuran dengan Erli—istrinya yang sangat dia puja.


"Gue, ayah dari anak yang dikandung istri lo!" tandasnya tanpa ragu-ragu.


Jadi, brengsek ini Xavier! Manusia yang tidak punya hati nurani. Kenapa gue bisa melupakan wajah manusia kurang ajar ini? Batin Rafan.


"Hak yang mana yang lo bicarakan?" Kali ini Rafan berbicara non formal setelah mengetahui identitas pria yang sejak tadi duduk bersamanya.


"Lo bukan orang bodoh. Lo sudah tahu tujuan pembicaraan gue," tuturnya lebih kalem, "gue mau lo ceraikan Erli dan biarkan dia hidup bersama gue, orang yang dulu dia cintai." Xavier mematikan rokoknya tepat di atas daging yang tadi dia makan.


Rafan sekilas melihat tangan Xavier yang masih menekan Putung rokoknya, dia sangat paham betul dengan ancaman yang Xavier buat secara tidak langsung.


Suami sah Erli tersenyum miring meremehkan Xavier yang datang setelah pernikahan mereka terjadi dan bayi yang Erli kandung akan lahir dua bulan lagi.


"Lo tidak bisa merebut istri gue. Jika lo mau coba saja! Gue yakin—" Rafan menggantungkan ucapannya sambil beranjak pergi dari private room.


"Manusia rendahan!" pekik Xavier sambil berdiri menatap punggung Rafan.


"Gue bukan tipe cowok yang mencampakkan orang yang memberikan warna dalam hidup gue," sindir Rafan dengan lirikan mata yang tajam.


"Bajingan!" Xavier melempar pisau steak ke arah Rafan.

__ADS_1


__ADS_2