Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Emosi Yang Memuncak


__ADS_3

Tiga wanita tersebut berteriak, sampai-sampai tetangga kompleks lainnya keluar setelah mendengar suara teriakan mereka yang melengking.


“Dasar bocah tengil! Kelakuanmu sungguh kurang ajar terhadap kami,” hardik wanita yang bernama Ayu.


“Apa, kurang ajar? Kalianlah yang kurang ajar!” bentak Rania sambil melangkah maju, “kalau berani, jangan menggosip! Langsung utarakan pada orang yang bersangkutan.” Gadis berusia dua puluh tahun tersebut menuding satu per satu tetangganya yang julid.


Merasa suasana semakin ricuh Erli menarik tangan Rania sambil menasihati adik iparnya.


“Sudah, jangan diladeni lagi!” bisik Erli seraya merangkul Rania.


“Enggak bisa, Mbak. Orang macam mereka ini harus diberi pelajaran!” ujar Rania yang masih emosi.


Sang kakak ipar hanya mengangguk membenarkan ucapannya, tetapi dia tidak setuju dengan tindakan yang diambil oleh adik iparnya tersebut.


“Setelah ini, akan kuberitahu semua anak remaja di kompleks ini. Agar tidak bergaul dengan keluarga Zulaika yang tidak memiliki sopan-santun, pekik Jumaiyah—salah seorang yang dituding Rania.


Amarah Rania yang tadi sedikit mereda, kini kembali memuncak tatkala Jumaiyah menghinanya.


“Hei ... Mak lampir! Berani-beraninya kau menyebut nama ibuku!” teriak Rania sambil melepas rangkulan Erli, “silakan saja kau hasut semua orang, aku tidak peduli sedikit pun. Tapi ingat satu hal! Aku akan merobek mulut busuk kalian bertiga, jika menyebut nama ibuku lagi!”


Jumaiyah, ayu dan Siti terdiam ketika melihat Rania mengancam mereka.


“Ayo, mbak! Kita tinggalkan tempat ini,” ajak Rania dengan suara datarnya.


Sedikit tidak percaya, tapi inilah yang terjadi. Sekian bulan dia hidup bersama dengan Rania, tetapi dia tidak pernah tahu amarah adik ipar perempuannya dan terlebih lagi, Rania selalu bersikap manis dan lemah lembut kala berdekatan dengan Erli.


“Tolong rahasiakan kejadian ini dari ibu, Mas Galang dan Mas Rafan. Maafkan Nia! Nia sudah membuat Mbak syok,” kata Rania lirih.


Gadis yang memiliki tanda lahir di sebelah telinganya itu tertunduk.


“Jangan merasa bersalah begitu. Mbak paham kok perasaanmu saat ini dan Mbak juga tidak menyalahkan tindakanmu,” kata Erli seraya menggenggam kedua jemari Rania.


“Lain kali, lebih dikontrol emosinya. Jangan gampang terbawa suasana, beruntung lawanmu tidak bertindak kasar. Bayangkan jika itu Boris,” imbuh Erli sambil menyelipkan rambut Rania.


Boris adalah wanita pegulat yang sering berseteru dengan para tetangga sekitaran kompleks perumahan Pelita Nusa.


“Ya, Nia serang balik 'lah!” sahutnya cepat tidak mau kalah.


Erli memiringkan kepalanya, “Oh ... kamu mau jadi pegulat?”


“Nia tidak suka menghina keluarga, kalau mereka marah atau tidak suka sama Nia. Sebaiknya marah dan hina saja Nia, jangan bawa-bawa ibu atau yang lainnya.” Gadis itu berbicara sambil meraih majalah yang ada di meja.

__ADS_1


“Terserah kamu! Yang penting Mbak sudah mengingatkan,” kata Erli seraya mengedikkan bahunya.


“Mbak mau ke mana?” pekik Rania kala melihat kakak iparnya pergi.


“Sarapan, perut dan dedek bayi sudah protes.”


“Astagfirullah ... maaf-in Nia ya, Mbak! Gara-gara Nia, Mbak jadi terlambat sarapannya,” tuturnya lembut.


“Nia, tolong ambilkan ponsel Mbak di samping televisi!” pinta Erli yang saat ini telah menuangkan nasi dan berbagai lauk.


Segera Rania berjalan menghampiri Erli yang tengah menyantap makanannya. Tanpa sengaja gadis itu melihat wallpaper ponsel Erli.


“Tampannya ...,” ujar Rania dengan mata yang berbinar-binar.


Erli berbalik badan menatap adik iparnya, “Siapa yang tampan?” tanya Erli dengan mulut yang dipenuhi makanan.


“ini,” katanya sambil menunjukkan ponsel Erli, “Nia baru tahu kalau Mbak juga suka sama K-Pop,” pungkas Rania sambil menyodorkan ponsel Erli.


“Sejak kapan Mbak suka K-Pop? Nia sangat suka sama grup idol ini, suara dan visual mereka sangat balanced.” Gadis itu bergerak lincah kala menjelaskan idol yang dia suka.


Erli hanya tertawa kecil melihat tingkah konyol adiknya, begitu cepat emosinya berubah. Beberapa menit yang lalu dia mengamuk dan memaki orang, tapi kali ini dia sudah menjadi Rania yang Erli kenal tujuh bulan yang lalu.


“Mbak lihat Nia!” pungkasnya seraya bersiap menyanyi dan menari mengikuti idol K-Pop yang dia sukai sejak SMP.


A chimi wado sara jiji mara jwo oh


Kumul kunun go rum gude mane arum daun nabi oh


Sepenggal lirik lagu kesukaan saya sendiri 😂🤭


Walau tidak begitu fasih menyanyikan lagu K-Pop, tetapi penampilan Rania cukup menghibur Erli dan kakak iparnya menikmati sarapan sambil menonton Rania yang sibuk menari.


Gerak tubuh Rania seakan memiliki magnet yang menarik Erli. Kondisinya yang saat ini tengah hamil besar tidak menghalanginya untuk ikut menari dan menyanyikan lagu Exo. Sangat kebetulan sekali, hobi dan selera musik mereka berdua sama, hanya saja selama ini mereka tidak pernah mengetahui hal tersebut.


Erli dan Rania tidak menyadari kedatangan Dewi dan Handoko, sepasang suami istri tersebut tengah menikmati konser tunggal yang diselenggarakan oleh matu keponakan dan keponakan kandung mereka.


Selepas Erli dan Rania selesai menyanyi, Dewi dan suaminya bertepuk tangan sambil bersorak.


“Kalian berdua sangat berbakat menyanyikan lagu Chinese,” puji suami Dewi seraya mendekat di tengah-tengah Erli dan Rania.


“Iya, tante baru tahu loh. Kalau kalian ini memiliki bakat yang luar biasa,” lanjut Dewi tersenyum.

__ADS_1


Rania tersenyum simpul seraya menadahkan tangannya.


“Kamu ya ...,” ujar Dewi dengan jari telunjuk yang bergerak naik turun.


Tanpa basa-basi suami dewi mengeluarkan beberapa lembar uang dan diberikannya kepada Rania—keponakan perempuannya.


“Terima kasih, Om.” Rania berjalan mundur sambil memamerkan uang yang dia dapatkan dari handoko.


“Oh ya Om, lagu yang Nia dan Mbak Erli nyanyikan tadi, bukan lagu Chinese melainkan lagu Korea Selatan. Om Handoko yang ganteng,” sanjung Rania sambil menaiki anak tangga.


“Sikapnya tidak berubah,” keluh Handoko seraya mengambil anggur di lemari es.


“Mbak ke mana, Er?” tanya Dewi dengan mata mengembara di setiap sudut rumah.


“Ibu pergi sejak tadi, Tan.” Erli mengangkat piring yang dia gunakan untuk makan tadi.


“Tante dan Om, mau minum apa?” sambungnya.


“Kamu mau apa, Sayang?” tanya Dewi mesra.


“Aku mau susu Erli,” ucap Handoko santai.


Mendengar ucapan Handoko, Erli terkejut bukan main. Netra Erli melotot dan tangannya mengepal, bagaimana dia tidak emosi? Suami kebanggaan Dewi tersebut pernah melecehkannya ketika dia pulang dari bulan madu dulu.


"Ha-ha-ha ...." Suara tawa Dewi membuat Erli memalingkan pandangannya.


"Kamu jangan salah paham! Yang dia maksud itu susu UHT,” pungkas Dewi sambil mengecup pipi suaminya.


“Dia memang suka bercanda. Itu susu UHT-nya kamu panasin saja," perintah Dewi.


Erli mengangguk sambil tersenyum tipis, dalam batinnya, Erli menggerutu memaki pria yang dibangga-banggakan Dewi. Seringkali dia mendengar tante suaminya itu, menyanjung profesi Handoko yang saat ini menjabat sebagai wakil direktur di salah satu perusahaan ternama yang ada di Kuala lumpur.


Siapa sih yang tidak bangga melihat pencapaian suaminya? Namun, pencapaian Handoko digunakan jembatan mendekati para wanita muda dan pria itu selalu mencuri-curi panda dengan siapapun.


Bahkan saat ini. Ketika dia dalam dekapan Dewi, tatapan matanya selalu terfokus ke arah Erli. Setelah pertemuannya dengan Erli, adik laki-laki Zulaika tersebut memiliki hasrat terpendam terhadap Erli dan dia juga sering mengganggu istri keponakannya itu.


“Sayang, aku ke toilet dulu ya. Kebelet,” kata Dewi sambil memegangi perutnya.


Handoko mengerutkan hidungn seraya mengibaskan tangan kanannya. Dewi yang malu langsung berlari ke arah kamar mandi yang terletak di pojok kiri.


Ini kesempatan yang baik untuk menyentuhnya, batin Handoko.

__ADS_1


Tampak senyuman jahat di bibir Handoko. Pria paru baya tersebut beranjak dari sofa dan berjalan mengendap-endap mendekati Erli yang tengah sibuk memanaskan susu serta membuat jus untuk Dewi.


__ADS_2