Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Manja


__ADS_3

Rafan dan Erli masih mematung menatap intens bola mata mereka masing-masing. Keheningan seketika musnah ketika Brian masuk ke restoran.


Sontak Rafan berdiri sampai dia menabrak meja yang ada di belakangnya, sedangkan Erli memejamkan mata dan melihat orang yang telah mengganggu mereka.


"Brian ...!" kata Erli dengan mata yang membulat.


"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Brian dengan wajah tidak bersalahnya.


Sudah tahu menganggu masih nanyak. Dasar pe'ak, lo! sahut Rafan dalam hati.


Erli menyuguhkan senyuman, "Tidak, hmm ... ada perlu apa kamu ke sini?" Erli berdiri menghampiri temannya kala kuliah dulu.


Brian menutup pintu restoran dan melangkah menghampiri Erli yang berdiri tidak jauh darinya.


"Mau menyelesaikan urusan yang sangat penting. Kebetulan nyonya besar sudah pulang terlebih dahulu, jadi aku akan menyelesaikan ini secepat mungkin" Brian mendudukkan dirinya di salah satu kursi dan mengeluarkan beberapa map yang berisikan berkas pengalihan aset kekayaan milik Xavier.


Melihat berkas itu Erli dan kembali menatap Brian yang saat ini telah duduk di hadapannya.


"Bisa kita mulai, Er?" tanya Brian dengan sorot mata yang tertuju pada Rafan—suami temannya itu.


Rafan menaikkan sebelah alisnya saat bola matanya menangkap maksud lain dari tatapan Brian.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tukas Rafan, nada suara pria ini sangat berat dan terkesan menakutkan bagi Erli.


"Bisakah kau tinggalkan kami sebentar!" Pertanyaan Brian seakan memberi perintah pada Rafan.


"Untuk apa aku pergi dari sini? Dia istriku! Aku berhak tahu hal apa yang akan kau bahas dengan wanita cantikku ini," tegas Rafan sambil memelototkan matanya.


Brian menari napas panjang seraya menutup kedua kelopak matanya.


"Ini sangat rahasia tidak ada yang boleh tahu soal ini selain Erli. Aku mohon menyingkir sebentar saja!" Brian memohon seraya menyatukan kedua telapak tangannya.


Pria itu mendengus kesal saat tamunya mengusir dirinya dari samping sang istri tercintanya. Erli melirik kedua tangan suaminya yang telah mengepal keras, rahang Rafan juga telah mengetat sampai urat pipinya terlihat mengeras.


Dengan suara yang lemah lembut Erli berbicara dengan Rafan, "Mas ... tolong tinggalkan kami sebentar saja! Nanti akan aku beritahu semua hal yang dibicarakan oleh Brian, tanpa terkecuali." Erli mengusap lembut unggung tangan Rafan dengan jempolnya.


Amarah Rafan yang tadi memuncak kini sedikit mereda dia juga berusaha menetralkan emosinya yang menggebu-gebu.

__ADS_1


Bajingan itu selalu mengganggu waktu ketenangan ku bersama Erli. Apa maunya dia? Sudah tiada pun dia tetap menyebalkan! Rafan beranjak dari sana sambil menggerutu tiada henti, ketika sampai di meja bartender dia menyelinap di balik meja besar itu dan mengintip Erli yang tengah serius membaca dokumen yang diberikan Brian.


"Bodoh, tempat ini terlalu jauh untuk mendengar obrolan mereka!" Rafan menggerutuki dirinya sendiri.


Erli yang mendengar ocehan suaminya langsung menolehkan kepala, tatapan Erli yang sendu berubah menajam. Dia mencoba mengintimidasi suami tampannya itu. Percobaan Erli berhasil, dengan berat hati Rafan berdiri masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Sial, usahaku sia-sia saja. Sebenarnya hal rahasia apa yang dia bicarakan dengan wanita pujaan hatiku itu, ini benar-benar membuatku gila!" Rafan menjambak rambutnya.


Kegusaran hatinya membuatnya berjalan mondar-mandir bak setrikaan yang merapikan kekusutan baju. Sesekali pria itu menghentakkan kakinya di lantai, gurat kekhawatiran semakin tampak nyata di wajah tampan itu.


"Apa yang harus aku lakukan?" pekiknya pelan seraya menjambak kasar rambut hitamnya.


"Tidak perlu melakukan apa-apa, Mas!" sahut Erli dari ambang pintu.


Sontak Rafan berbalik mantap istrinya, "Kamu kok ada di sini? Apa diskusi kalian selesai?" cecar Rafan sembari mengintip keberadaan Brian dari balik tirai.


"Dia sudah pergi." Erli memeluk suaminya dengan sangat erat.


Terdengar jelas isak tangis wanita berusia 26 tahun tersebut.


"Hei, kenapa menangis?" Rafan melonggarkan pelukan Erli dan dia menundukkan kepalanya demi melihat wajah ayu sang istri.


Rafan menghela napas berat dan menempelkan kepala Erli di dada bidangnya. Tangan besar nan kekar itu mengelus lembut rambut panjang Erli yang terurai.


"Apa yang membuatmu bersedih?" tanya Rafan lembut, "bukankah aku ada di sini, menemanimu!" Rafan mengecup mesra ujung kepala sang istri.


Tergagap-gagap Erli berucap, "A-aku mencintaimu, Mas."


Deg ....


Jantung Rafan terpacu cepat kala mendengar pernyataan cinta dari Erli—wanita yang telah dia cintai selama 6 bulan lalu.


"Apa?" tanyanya memastikan.


"Coba ulangi ucapanmu barusan!" pinta Rafan ragu.


Tangisan Erli semakin pecah dan tanga kanannya memukul pelan dada bidang milik suaminya itu.

__ADS_1


"Aku yakin, tadi k-kamu dengar aku b-bilang apa Mas." Lagi-lagi Erli tergagap-gagap saat berbicara.


"A-aku ...."


Rafan menyambar ucapan Erli dengan tegas dan tandas.


"Aku juga mencintaimu, bukan! Aku sangat mencintaimu, Erli."


Rafan menakupkan kedua tangannya di sebagian wajah Erli yang imut, hadiah kecil berupa kecupan mesra dia berikan untuk istri tercinta.


Suasana hening karena keduanya tidak berbicara lagi, mereka hanya saling bertatapan tanpa bosan. Kedipan mata mereka pun bisa dihitung, entah karena takjub atau bagaimana yang jelas putaran dunia seakan berhentilah dan hanya ada mereka di sini.


Deringan telepon kantor membuyarkan khayalan mereka berdua, Erli bergerak gelisah sedangkan Rafan mengulum bibirnya dan dengan segera dia mengangkat telepon tersebut.


"Hmm, ya ada apa?" Rafan melirik sebentar Erli yang masih salah tingkah.


"Ya, benar. Sebaiknya kalian cepat kembali dan bereskan restoran dan masak beberapa menu andalan kita lalu kirim ke panti asuhan dan juga rumah jompo." Rafan menutup panggilan teleponnya.


"Sebaiknya kita cepat-cepat pulang. Kasihan Al ditinggal terus," katanya sambil menarik tangan Erli.


Senyuman merekah dari bibir mereka berdua, saat masuk ke dalam mobil diam-diam Erli mencium pipi Rafan.


Tentu saja Rafan cengengesan mendapat ciuman lembut Erli, tanpa malu dia kembali meminta istrinya melakukan hal itu lagi.


"Lagi!" pintanya manja.


Erli mengerutkan keningnya saat mendengar suaminya berkata manja layaknya anak kecil.


"Aku enggak suka sama cara bicaramu itu!" tunjuk Erli dengan bibir tertarik kebawah.


"Mau lagi," kata Rafan mengulangi permintaannya.


Erli memutar bola matanya dengan malas.


"Kalau saja kau orang lain, pasti sudah aku ...." Erli menggantung ucapannya seraya mencium kasar pipi Rafan.


"Sudah!" imbuh Erli memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Memang kamu mau apa kalau aku orang lain?" tanya Rafan dengan sorot mata yang mengintimidasi.


__ADS_2