
šKemesraan yang Tertunda š
Setahun setah kepulangan Erli di rumah mertuanya, Rafan meminta izin kepada Zulaika untuk mengizinkannya untuk pindah ke apartemen yang telah dia beli beberapa bulan yang lalu.
Beruntung, Zulaika dapat memahami maksud dari keinginan Rafan. Sehingga dia tidak keberatan atas permintaan sang anak dan menantunya.
Di sewaktu-waktu Rafan merencanakan dinner romantis untuk merayakan anniversary pernikahannya yang pertama. Walau Rafan dikenal sebagai pria pendiam dan jarang bergaul, dia tetap pria yang ingin memanjakan istrinya. Zulaika juga ikut serta dalam rencana Rafan malam ini, itu sebabnya Zulaika mengajak Erli pergi ke mall agar Rafan bisa mempersiapkan segala sesuatunya bersama Rania dan juga Galangāmanusia kocak yang tidak tahu malu.
"Assalamualaikum!" teriak Rania di depan pintu.
"Ke mana mas-mu itu?" tanya Galang dengan mata yang melirik ke arah lain.
Rania mengintip karena penasaran, hal apa yang menyita perhatian kakaknya yang playboy cap jambu monyet tersebut.
"Astagfirullah ...." Jelaga hitam itu membulat saat melihat wanita berpakaian seksi tengah melenggang menyusuri lorong apartemen.
Bagaimana gadis itu tidak shock dengan pemandangan yang saat ini dia lihat. Sebagian buah dada yang menyembul keluar membuatnya geleng-geleng dan belahan baju wanita itu sangat panjang bahkan hampir memperlihatkan bagian sensitif si wanita yang mengenakan dress maroon.
"Nia laporin ke ibu," ancam Rania seraya mengeluarkan ponselnya dari tas.
"Not this time, OK? tidak kali ini, ya!" pinta Galang dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
"Ck, Mas pikir Rania akan setuju?" kata Rania kalem dan sedetik kemudian dia kembali angkat bicara, "Don't hope, Mr. Galang! Jangan berharap, Tuan Galang!"
"Damn it," gumamnya lirih.
Namun, gumamnya dapat didengar jelas oleh Raniaāgadis yang berambut hitam kecoklatan.
"Ya Allah ... jangan biarkan manusia ini semakin rusak!" ucap Rania dengan lantang, bahkan setiap kata dia tekan.
"Ini lagi, ke mana orangnya? Sudah hampir 20 menit berdiri di sini," keluh Rania di sela omelannya.
Galang melirik malas sang adik yang mirip sekali dengan Zulaikaāibu mereka bertiga.
"Mulutmu baik-baik saja, bukan?" celetuk Galang yang sengaja memalingkan wajahnya.
"Apa maksud, Mas?" Melirik tajam pada sang kakak.
"Enggak bermaksud apa!" sahutnya yang masih menatap arah lain.
Tanpa bersuara lagi, Rania langsung mengulurkan tangan kanannya. Lantas mencubit kecil perut Galang, sontak pria matang tersebut melepas barang bawaannya yang dia pegang sejak tadi.
"Nia ... sakit!" tutur Galang yang meringis.
"Biar. Mas Galang makin lama makin ngeselin!" jerit Rania yang sudah mewek menahan air matanya yang hendak jatuh.
"Udah dong lepasin," tutur Galang memohon.
Bersamaan dengan melepas cubitannya tangis Rania pecah, begitulah gadis itu. Sangat mudah membuat gadis manja itu menangis atau emosi, kendati demikian Rania masih khawatir dengan keadaan kakaknya. Dengan cepat dia menarik kemeja yang dikenakan Galang, lalu dia lihat bekas cubitannya yang telah membiru.
"Maafin Nia, Mas ...," ucapnya terisak.
Galang memeluk sang adik sembari mengelus kepalanya.
"Kamu itu gadis kecil, mas. Enggak mungkin mas marah karena hal kecil seperti ini," ujar Galang sembari mengecup ujung kepala adiknya.
"Seharusnya mas yang minta maaf. Sudah bikin kamu menangis," pungkasnya seraya merogoh kantong celana mengeluarkan access card unit apartemen milik Rafan.
Segera Rania menatap penuh heran wajah kakaknya yang dia juluki playboy cap jambu monyet.
"Jadi ...." Ucapan Rania terhenti seketika.
__ADS_1
Dia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan random Galang yang menguras kesabaran.
"He-he-he, mas lupa kalau Rafan memberikan access card." Dengan wajah tidak bersalahnya dia masuk membawa perlengkapan untuk kejutan malam ini.
Merasa tenaganya telah terkuras, Rania hanya bisa menghela napas panjang nan beratnya. Gadis itu berulang kali mengatur ritme pernapasan agar lebih rileks.
"Ayo, masuk!" Galang melambaikan tangan serta meletakan barang-barang di atas meja.
Meski amarahnya telah kembali tersulut, Rania mencoba lebih tenang dan memulai mendekor ruang tengah agar terlihat estetik. Galang yang tidak begitu memahami tugasnya hanya bisa memandangi Rania sambil menikmati secangkir latte yang dia buat sendiri.
Sekian menit dan sekian jam berlalu, akhirnya urusan tata menata tempat makan dan juga kamar sudah selesai dan tidak lupa Rania memberi sentuhan akhirāmenabur bunga di bathtub yang berisikan air.
"Oke, selesai." Menepuk-nepuk kedua telapak tangannya lalu dia melirik Galang yang masih kebingungan meletakkan lilin aromaterapi.
Dengan mulut yang berdecih Rania merebut lilin tersebut lalu meletakkannya di atas nakas dekat ranjang dan tidak lupa dia nyalakan.
"Mbok ya sing kreatif. Meletakkan lilin aja bingung bagaimana kelak saat sudah punya anak dan istri, mau nyalain lampu nanyak ibu gitu!" cibirnya kesal dengan perilaku Galang.
"Aku tidak akan menikah sampai kamu dapat suami yang bisa memperlakukanmu dengan baik," ujar Galang yang melangkah mundur meninggalkan Rania.
Tentu saja hati Rania terenyuh mendengar ucapan sang kakak, dia pikir hanya Rafan yang memiliki kekhawatiran berlebih terhadapnya. Nyatanya kakak yang dia anggap konyol dan urakan menyimpan perhatian besar terhadapnya.
Gadis itu menatap pintu cukup lama, lalu keluar menghampiri Galang yang sibuk membereskan sisa bunga dan juga kertas. Dengan sangat emosional Rania memeluk tubuh Galang.
"Thank you very much brother. I am very lucky to have brothers like you two, Terima kasih banyak Mas. Aku sangat beruntung memiliki kakak seperti kalian berdua," tutur Rania dengan mata yang sudah mengembun.
"Lepas! Aku tidak sebaik yang kau pikir, aku akan membuat hidupmu sengsara ketika aku memiliki anak. Aku akan meminta ibu menyuruhmu menjadi baby sitter anakku," tukas Galang mengalihkan pembicaraan.
Rania melotot sambil berkacak pinggang, "Aku tarik lagi ucapanku tadi."
Galang balas tatapan menantang itu dengan ekspresi yang dibuat setenang mungkin. Saat Galang hendak mengelus rambut Rania, tiba-tiba saja bel apartemen Rafan berbunyi.
"Ini aku."
"Lah, kenapa enggak masuk aja?" tanya Rania kebingungan ketika melihat Rafan.
"Access card-ku sama dia," tunjuk Rafan dengan sikunya, karena pria itu membawa beberapa paper bag dan juga buket bunga.
"Oallah iya." Rania menepuk jidatnya karena baru menyadari hal itu.
Rafan melirik jam tangan yang dia kenakan. Sedetik kemudian pria itu mendorong Galang dan menarik Rania yang masih terbaring di atas sofa.
"Cepat pulang! D-da puluh menit lagi dia akan sampai," jelasnya gugup.
Kakak beradik tersebut bergegas mengenakan jaket lalu keluar, ketika Galang menjulurkan kepalanya dia melihat Erli telah pulang dengan pakaian rapi.
"Gawat, dia sudah datang," kata Galang yang celingukan melihat ke dalam dan keluar memastikan keberadaan istri adiknya.
Dengan berat hati, Rafan mendorong adik dan juga kakaknya keluar dari rumahnya. Erli yang mendengar benda jatuh langsung menolehkan kepalanya, tapi di ujung lorong dia tidak menemukan apapun.
"Aneh," gumam Erli dengan kepala yang miring.
Erli menekan bel, lalu pintu pun terbuka. Dia sangat terkejut melihat suaminya mengenakan jas, malam ini Rafan lebih tampan dan sangat Rafi. Mulut Erli menganga dan matanya terbelalak mendapati rung apartemennya sudah disulap sedemikian rupa.
"Kamu yang lakukan ini Mas?" tanya Erli sembari memutar kepalanya demi melihat wajah sang suami.
Rafan menggeleng lalu menjawab, bahwa ini semua dilakukan oleh Rania yang dibantu sama Galang.
Erli mengulas senyuman hangat dan kedipan matan sayu-nya membuat Rafan salah tingkah.
Baru kali ini aku melihatnya salah tingkah, batin Erli yang sudah menyambut uluran tangan Rafan.
__ADS_1
Sepasang sejoli itu pun berdansa mengikuti alunan musik klasik. Langkah kaki mereka bergerak berirama dan pelukan mesra Rafan menghanyutkan.
"Kamu suka ini?" bisiknya lembut di daun telinga.
Erli yang tidak bisa berkata-kata hanya mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. Lalu, kepalanya mendongak menatap intens wajah sang suami yang telah bersiap mengecup lembut bibir ranum Erli.
Dansa romantis mereka akhiri dengan silaturahmi bibir yang cukup lama. Saat ini Rafan menuntun Erli menuju meja makan yang dipenuhi berbagai hidangan dan nampak jelas kue tart mungil menjadi makanan penutup di acara Candle light dinner.
"Dari pagi sampai detik ini aku sangat bahagia. Sungguh rencana Allah itu sangat indah," kata Erli seraya menyekat air matanya.
Rafan melepas sendok yang dia pegang lalu menggenggam dan mengelus lembut punggung tangan Erli dengan jempolnya.
"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Mungkin jika aku tidak bertemu denganmu ... aku akanā" Ucapan Erli terhenti tatkala Rafan menempelkan telunjuknya di bibir thin lips Erli.
"Jangan bahas apa pun! Kita nikmati malam ini dan anggap malam ini sebagai malam pertama kita," ucapnya lirih seraya menenggak air putih hingga tandas.
Apa dia mau menuntut malam pertamanya malam ini? Walau kami telah menikah cukup lama, tapi kegugupan ini tidak dapat aku kuasi. Ya Allah, ini kali pertama dia akan menjamah-ku dengan leluasa.
Wanita itu sangat gugup hingga dia menjatuhkan garpu dan terlihat tangannya gemetar. Berulang kali dia menggigit bibir, sungguh lucu sikap Erli. Sudah setahun lebih dia menjadi istri Rafan, tapi kecanggungan-nya dalam hal ini sangat kentara.
"Aku kenyang."
Penuturan Rafan membuat Erli tersentak, kelopak matanya berkedip sangat cepat. Dia benar-benar gugup akan melakukan kewajibannya malam ini, sungguh kebodohan yang sangat luar biasa.
Dia kan istri sah kenapa harus malu atau gugup, ya š¤ udah tinggal lakuin selesai kelar dah urusannya š¤£š¤£ aduhai ngomong opo aku.
Rafan mengelap sudut bibirnya menggunakan tisu lalu berdiri dengan gelisah. Namun, kegelisahan itu dia tutupi dengan ekspresi setenang mungkin.
"Kamu masih mau makan?" tanya Rafan sembari mendorong kursinya ke dalam.
Dengan ragu Erli menggeleng, lalu dia mengangguk seakan ingin meneruskan melahap makanannya. Rafan tertawa kecil melihat ekspresi wajah istrinya yang terlihat lucu nan menggemaskan.
Rafan membungkuk agar sejajar dengan telinga Erli, lantas pria itu berbisik lembut.
"Kamu gugup?"
"T-tidak! Kenapa aku harus gugup?" sahutnya jemawa.
Sifat sombong itu selalu Erli tampilkan agar tampak keren. Rafan menyeringai dan menatap dengan binar gairah yang ditutupi, tapi dia berusaha mengendalikan suasana.
Erli menunduk sejenak lalu memalingkan wajahnya.
"Apa ini hal terakhir yang kita lakukan?" Mengangkat sebelah alisnya.
Seringai bagai singa yang mendekati mangsa saat mendengar kalimat syarat yang mengandung makna itu tidak lantas membuatnya mudah tertarik.
"Memang kamu mau ada hal lain yang kita lakukan?" Rafan balik bertanya.
Hal ini membuat Erli kembali canggung, sontak dia berdiri hendak meninggalkan Rafan, dengan gerakan cepat suaminya itu menarik tangan Erli hingga tubuh molek Erli menabrak tubuh sang suami.
"Jangan pergi! Aku tidak akan melepaskan mu sampai pagi," tuturnya kalem ketika membopong Erli menuju singgah sana mereka malam ini.
Ya, benar. Kamar yang dihiasi ribuan kelopak bunga mawar berbagai macam warna dan aroma lilin yang lembut menyambut indra penciuman mereka. Tanpa menunggu lama sepasang suami istri tersebut bersenggama dan bercanda kecil di atas ranjang pemersatuan cinta mereka.
Tawa kecil serta suara kemesraan memenuhi ruangan yang cukup luas tersebut.
...ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦...
Aku bikin part ini sambil senyum-senyum sendiri we š¤ thank you buat kalian semua yang sudah inbox aku yang meminta untuk meminta last chapter romantis untuk Rafan dan Erli. Awalnya aku ragu bikin karena aku tidak begitu bisa bikin part romantis ala-ala begini, tapi ya aku nekat buat.
Semoga bisa menghilangkan dahaga kalian my Readers š„°šš ngomong-ngomong ini bab mencapai 1900 loh. Asli kgak yangka aku, 1900 itu tidak termasuk ulasanku ini loh ya.
__ADS_1