
mending gue anterin aja tadi, gerutu Rafan dalam hati.
Di dalam kepanikannya, Rafan menelepon Erli. Nada sambungan telepon masih berbunyi dan beberapa detik kemudian sang istri mengangkat panggilan darinya.
"Waalaikumsalam," jawab Rafan.
"Tolong, bawakan kartu ATM-ku di laci meja kerja!" titah Rafan lirih.
"Maksud Mas ... anterin ke sekolah?" tanya Erli dari ujung telepon.
"Iya," sahutnya seraya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Sekarang Mas?"
"Mau kapan lagi?"
"Oke, aku berangkat sekarang. Assalamualaikum," pamit Erli diseberang telepon.
"Waalaikumsalam."
Pria yang memiliki potongan rambut bak oppa-oppa Korea tersebut berlari menuju gerbang sekolah. Saat sampai di sana, dia tidak menemukan Galang ataupun satpam; penjaga gerbang sekolah.
Sudah celingukan mencari keberadaan Galang—saudara tirinya itu tidak kunjung dia temukan, di sana Rafan hanya melihat sebuah mobil Xenia tipe terbaru terparkir tepat di depan pintu masuk halaman sekolah.
Dalam hatinya bertanya-tanya keberadaan sang kakak, tetapi pandangan Rafan tidak berpaling dari mobil yang dia dambakan sejak bulan lalu.
"Selalu membuat gue khawatir," gumamnya dengan wajah cemas, mata ekor Rafan menangkap sosok pria yang berjalan mendekatinya.
Saat pria itu semakin mendekat, Rafan berbalik badan dan menatap tajam Galang yang muncul dari balik pohon di pinggir pagar sekolah.
"Mana orang yang lo tabrak?" runtuk Rafan.
"Kagak ada," jawab Galang seraya mengelus kap depan mobil yang sejak tadi dipandangi oleh sang adik.
"Yang bener aja lo, Mas!" Mendengus kesal, "di mana anak yang lo tabrak?" tanya Rafan kembali.
"Ini hanya prank ...," ucap Galang penuh semangat.
"Kagak suka gue sama candaan lo, Mas. Kagak lucu, sumpah!" keluhnya bersungut-sungut.
"Gue juga kagak suka sama permainan ini," jelasnya dengan suara dalam.
Rafan menatap tajam Galang yang masih berdiri di samping mobil.
__ADS_1
"Terus?" Netra Rafan melebar.
"Santai bro! Gue ngelakuin ini demi hadiah ulang tahun lo," pungkas Galang sambil mengangkat kedua alisnya.
"Sudah jangan ngeles! Gara-gara lo, gue nyuruh Erli ke sini."
Galang meraih tangan adik laki-laki dan diberikannya kunci mobil yang ada di aku jaket.
"Apa ini?" Menatap Galang penasaran.
"Tusuk gigi!" katanya kesal, "sudah tahu itu kunci masih aja nanyak, apa lo kagak bisa lihat dengan jelas?" Galang sedikit agresi dengan ekspresi wajah datar Rafan.
"Gue juga tahu ini kunci. Yang gue maksud, untuk apa kunci ini?" Masih bersikukuh menanyakan hal yang sudah jelas maksudnya. Namun, Rafan sibuk mempertanyakan tujuan Galang.
Erli yang baru saja turun dari taksi online langsung menyambar ucapan Rafan, "Itu hadiah dari Mas Galang. Iya 'kan, Mas?" Memiringkan kepala demi melihat Galang.
"Hmm ...," gumam Galang bingung.
Erli buru-buru menganggukkan kepala beberapakali.
"Iya, itu hadiah dari gue. Lo suka kagak?" Galang menepuk lengan Rafan.
"Ini tu mahal, dari mana lo dapetin uang sebanyak itu?"
"Mas, enggak sopan nanyak kaya gitu!" tegur Erli dengan suara lembutnya.
"Maaf, tapi gue kagak suka hadiah semahal ini! Dan lagi ... gue udah punya mobil, walau butut," ujarnya sambil melempar kunci mobil.
"Fan! Keterlaluan banget lo sama gue," cibir Galang, "jauh-jauh gue datang, bukannya disambut baik malah lo hina kaya gini. Lo anggep apa gue dalam hidup lo?"
Hati Rafan bak tersayat sembilu mendengar ucapan kakaknya, selama ini belum pernah Galang mengeluhkan sikap adiknya. Dimata Rafan dan Rania, Galang adalah sosok kakak yang sempurna. Dia selalu mengajarkan banyak hal dan dia juga pengganti sosok sang ayah yang telah lama meninggal.
Rafan berjalan dengan kepala yang tertunduk menghampiri Galang, "Maafin gue, Mas! Gue sudah buat hati lo sakit." Memeluk Galang dengan erat.
"Jauh-jauh! Kalau Diandra dan Vania lihat, dikiranya gue ...." Ucapan Galang terhenti sejenak, "ih serem!" Pria itu merkidik ngeri membayangkan sesuatu hal aneh yang bersarang di otaknya.
"apaan sih lo, Mas? Gue juga masih normal kali," runtuk Rafan sambil mengibas-ngibaskan seragam kerja yang dia kenakan sejak pagi.
Erli tertawa melihat sikap random Galang; pria berkulit putih tersebut selalu bisa mencairkan suasana canggung dan dia juga kagum dengan cara Galang menyatukan kedua adiknya. Orang luar melihat Galang dengan sikap urakan dan tidak memiliki sopan-santun.
Namun, tanpa orang lain sadari Galang adalah sosok pria dewasa yang bertanggung jawab atas keluarganya. Dia juga suka bercanda dan selalu menghindari ketegangan.
"Mas ... aku pamit, ya. Di rumah ada om dan tante, enggak enak ditinggal lama-lama." Erli meraih tangan Rafan dan istrinya tersebut mencium punggung beserta telapak tangannya.
__ADS_1
"Iya." Ucapan yang didengar daun telinga Erli.
Suaminya itu tidak menatap wajahnya sejak dia datang. Merasa ada yang janggal, membuatnya kembali menatap sang suami.
"Aku pulang, loh!" katanya memperjelas apa yang hendak dia lakukan.
Rafan masih tidak menatap wajah Erli bahkan dia hanya menjawab sesingkat mungkin.
"Silakan!"
Ada apa dengannya? Kenapa begitu cuek denganku? Apa aku melakukan kesalahan? Hati Erli terus berkata-kata. Suaminya itu bersikap aneh sama persis dengan Zulaika pagi ini, apa yang terjadi? Erli tidak mengerti yang jelas, dua orang yang selalu mendukungnya kini telah berbeda.
Namun, Erli mencoba berpikir positif. Walau hatinya melawan apa yang dia tekankan dalam pikirannya saat ini dan ketika dia hendak membuka pintu mobil, Rafan memanggilnya.
"Tunggu Erli!" Seketika dia tersenyum seraya berbalik menatap suaminya.
"Ada apa, Mas?" tanya Erli antusias.
"ATM-ku mana?" Mengulurkan tangan meminta beda yang mirip seperti E-KTP.
"Hah!" Mata Erli melebar selepas Rafan berbicara.
"ATM!" Rafan menekan suaranya.
Erli tersenyum kecut mengetahui suaminya cuma menanyakan kartu ATM-nya saja. Kecewa? itu pasti. Namun, Erli tidak mau ketidak sukaannya sampai kentara oleh Rafan ataupun Galang. Erli masuk ke dalam mobil taksi dengan raut wajah yang kusut dan dia tidak terlihat sehat.
"Nona baik-baik saja 'kan?" Pertanyaan itu membuat rangkaian pemikiran ruwet Erli lenyap begitu saja.
"Saya baik-buruk, Pak." Erli menjawab dengan cepat.
"Tetapi, wajah Nona mengatakan hal yg berbeda," sambung sopir taksi tersebut.
"Iya, aku memang tidak baik-baik saja," ungkapnya lirih.
Ucapan lirih Erli didengar sopir taksi walau tidak begitu jelas dan untuk kesekian kalinya sopir tersebut menanyakan hal yang sama.
"Kondisi Nona baik-baik saja?"
"Bapak tolong fokus mengendarai mobilnya! Saya ingin selamat sampai Rumah," pungkas Erli.
"Baik Non, tolong maafkan saya!" Wanita hamil itu hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Sopir taksi saja bisa merasakan bahwa aku dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Ya Allah ... ada apa sebenarnya ini? Tadi pagi ibu yang sewot denganku, kini Mas Rafan yang bersikap acuh tak acuh. Apa mungkin mereka mulai membenciku? gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Pernikahan kami memang akan segera berakhir. Namun, kenapa hati ini terasa sakit bagai tersayat ribuan silet, ketika dia tidak memperdulikan aku? Apa mungkin aku telah jatuh cinta? Erli tidak kunjung selesai bergumam sampai-sampai dia tidak sadar bahwa taksi yang dia tumpangi telah memasuki kawasan kompleks perumahannya.