Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Berkelit


__ADS_3

“Ni, padahal ‘kan bisa nanti saat saya kembali ke sana!” ucap Erli dengan kaki yang mengentak.


Karyawan wanita itu menelisik Erli dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.


“Ya, mana bisa Mbak?!” Ketus karyawan tersebut.


Erli merogoh sakunya seraya menoleh ke arah jalan.


“Tu ‘kan hilang.” Mendengus kesal sembari menatap tajam orang yang berdiri sejajar dengannya.


Gadis itu berjalan lesu menyusuri trotoar. Saat dia sampai di rumah, bergegas dia masuk ke dalam kamar dan beberapa saat kemudian Erli sudah keluar, kali ini gadis itu masuk ke kamar mandi.


“Semoga dugaanku salah. Ya Allah, hamba mohon terkaan hamba salah!” pinta Erli di sela kesibukannya membuka kemasan Ovutest Digital.


Erli duduk di atas kloset dengan hati yang harap-harap cemas, setelah dua menit berlalu dia memberanikan diri untuk melihat hasil tes tersebut. Perlahan gadis itu membuka matanya. Garis di alat tersebut masih terlihat samar, melihat hal itu Erli mengibaskan Ovutest Digital.


Matanya melotot melihat dua garis merah, “Tidak, tidak mungkin aku hamil. Ini pasti salah. Iya, ini salah!” sanggahnya dengan suara yang bergetar.


Seberapa banyak dia menyangkal, kenyataan tidak akan berubah. Malapetaka yang dia buat sendiri dan kini petaka tersebut telah mencapai puncak kehancuran yang dia tidak tahu.


“Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana dengan Bibi dan Paman, akankah mereka mengerti posisiku?” Erli meremas kemasan alat test pack dan segera dia keluar dari sana.


Saat Erli membuka pintu, kakak sepupunya sudah berdiri di sana dan hal itu membuat dia terkejut bukan main.


“Astagfirullah! Ngapain Aa di sini?” tanya Erli dengan mata yang menyipit.


“Mau main sepak bola,” imbuh Khafi kalem. “Aku kebelet, minggir!” Khafi mendorong Erli ke samping.


Saat pintu kamar mandi ia tutup, netranya meneliti benda yang baru saja dia injak.


“Apa ini?” tanyanya seraya membolak-balikkan benda yang berwarna putih.


Pria berumur dua puluh sembilan tahun itu masih sibuk memandangi tes pack digital tersebut. Karna penasarannya dia mencari tahu nama benda itu melalui ponsel pintarnya, penuh penghayatan dia membaca artikel yang menjelaskan alat tersebut.


Ketika dia mengetahui fungsi benda itu, bergegas Khafi keluar mencari adik sepupunya.


“Erli keluar! Erli ...,” teriak Khafi sembari menggedor pintu kamar adik sepupunya.


“Ada apa? Kenapa kamu teriak-teriak seperti itu?” Rasmi memukul punggung anaknya.


“Ke mana dia, Bu?” Jari pria itu mengarah ke kamar adiknya.


“Erli pergi ke kampus, katanya ada kelas hari ini. Ada apa, Nak? Wajahmu terlihat sangat khawatir!” ucap Rasmi dengan kening yang mengerut.


“Erli hamil Bu.”


Ucapan Khafi membuat ibunya sedikit marah.


“Jaga ucapanmu, Khafi!” bentak Rasmi.


“Ibu selalu membela gadis itu, coba lihat ini Bu!” Pria itu menyodorkan tes pack digital yang dia temukan saat buang air kecil tadi.


Sedikit tidak percaya, tapi bukti nyata telah Rasmi lihat dan itu cukup membuat Rasmi sakit hati. Pasalnya anak dari kakak iparnya itu selalu bijak dalam memutuskan sesuatu, tapi kali ini dia menjadi salah jalan.


\*\*\*


Di lorong kampus Erli terus bertanya dengan teman-temannya yang melintas. Gadis itu terus mencari Xavier, sampai saatnya dia teringat tempat tongkrongan Xavier.


Begitu dia masuk ke sebuah gudang dia memanggil sang kekasih.


“Kenapa?” sahut Xavier yang muncul dari belakang lemari.


“Aku mau berbicara empat mata. Kamu di sini dengan siapa?” tanya Erli kalem dan mata gadis itu melirik ke sana kemari.


“Aku bersama dia,” kata Xavier sembari menarik tangan seorang gadis.


Mata Erli terbelalak mendapati gadis itu sudah tidak berpakaian lengkap.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan dengannya? Apa kau tidak memikirkan perasaanku saat ini?” kata Erli dengan mata yang memerah.


Pemuda itu tersenyum sinis dan dia memalingkan pandangan ke arah gadis yang saat ini dalam pelukannya.


“Sudah jangan basa-basi, cepat katakan apa mau mu dan hal penting apa yang membuatmu repot-repot mencari ku!” Mengembuskan napas berat.


“Usir dulu dia!” Jari Erli mengacung ke arah gadis yang duduk di pangkuan Xavier.


Xavier mengangguk memberi isyarat, setelah gadis itu menghilang dari hadapan mereka, Erli mulai berbicara dengan nada yang lembut.


“Kenapa kau melakukan ini padaku? Bukankah waktu itu kamu berjanji akan selalu mencintaiku,” pungkas Erli terkekeh.


“Sudah jangan bertele-tele, cepat katakan apa yang membuatmu kemari?!” perintah Xavier dengan nada yang ketus.


Erli memegang perutnya dan dia mulai berkata, “Aku ... Aku hamil.”


“Lalu?” tanya Xavier datar.


“Apa maksudmu? Dia anakmu Vier!” Erli mendekat dan menyentuh tangan Xavier.


“Apa kau yakin? Aku hanya meniduri dirimu beberapa kali saja.” Xavier memunggungi Erli.


Tamparan keras mendarat begitu saja di pipi pemuda itu.


“Jaga sikapmu! Belum ada wanita yang pernah memukulku seperti ini. Aku tidak menginginkan anak dari wanita murahan seperti mu,” cemooh Xavier dengan nada yang ketus.


Erli mengembuskan napas dengan kasar, lalu dia mencoba menetralisir gemuruh dalam dadanya dengan menarik napas kembali secara pelan-pelan.


“Kau harus bertanggung jawab. Nikahi aku!” pinta Erli.


Xavier tertawa terbahak-bahak mendengar tuntutan Erli.


“Apa, tanggung jawab? Menika? Aku tidak ingin menikahi mu. Sudah jangan keras kepala, gugurkan kandunganmu itu dan berhenti mencari ku lagi! Aku tidak tertarik hidup bersama dengan gadis miskin sepertimu,” hardik Xavier dan pemuda itu melempar sebuah kartu ATM di hadapan Erli.


Selepas bicara, Xavier bangkit. Pemuda itu mengambil jaket dan mengenakannya.


Xavier menghempaskan tangan Erli, “Bagiku cinta itu hanya permainan, Erli. Karna aku tidak pernah mencintai siapa pun!”


Erli berlari dan menggapai baju Xavier.


“Cintaku bukan sandiwara Xavier. Tolong jangan berbuat kejam seperti ini!” Gadis itu jatuh terduduk karna dorongan dari Xavier.


Pemuda itu sama sekali tidak menghiraukan kekasihnya yang menangis terisak, bahkan dia berlalu pergi meninggalkan gadis yang kini mengandung anaknya.


Selepas kepergian Xavier, Erli masih terpaku. Tidak percaya bila dia tega mengatakan kata-kata begitu menyakitkan padanya. Saat sedang asyik dengan pemikirannya, tiba-tiba ponsel Erli berdering. Tertulis nama Khafi di layar benda pintar tersebut.


Halo Aa, ada apa? tanya Erli kalem.


Kamu di mana? Aa jemput sekarang! suara Khafi dari seberang telepon.


Di kampus Aa, sahut Erli pelan.


Tunggu Aa di samping warung Marly! titah Khafi.


Akhirnya sore itu Khafi menjemput Erli menggunakan motor butut miliknya. Begitu sampai di rumah suasa tenang dan tidak ada percakapan di antara Jafar dan Rasmi, dua orang paru baya itu hanya terdiam seribu bahasa. Namun, tatapan tajam kedua orang tua Khafi membuat Erli ketakutan.


“Kenapa Paman dan Bibi diam saja?” Erli menatap kedua orang itu secara bergantian.


Merasa ada yang aneh, gadis itu melihat sang kakak sepupu. Dia mengedikan kepala, mencoba mencari jawaban dari diamnya orang yang selama ini merawatnya.


“Sejak kapan kamu hamil?”


Bak tersambar petir, dia mendengar pertanyaan itu terlontar dari sang paman.


“Kenapa diam? Jawab pertanyaan Paman, Erli!” bentak Jafar dengan mata yang membulat.


Tidak ada jawaban dari Erli. Gadis itu hanya terisak dan bibirnya kaku tak bisa bergerak, suaranya hilang begitu saja. Melihat ponakannya hanya menangis Jafar berdiri menarik kasar Erli dan di bawanya gadis itu ke kamarnya.

__ADS_1


“Kemasi barang-barang mu, jika tidak mau menjawab pertanyaan Paman!” kata Jafar bersungut-sungut.


“I-ini perbuatan Xavier, Paman. Tadi Erli sudah memintanya untuk bertanggung jawab, tapi ....” Suara Erli tercekat dan gadis itu mengusap air matanya.


“Tapi apa?” bentak Jafar, “Jawab Erli! Jangan diam saja.” Suara pria paru baya itu menggema di ruangan.


“D-dia tidak mau menerima anak ini Paman,” jawab Erli tergagap.


Khafi mendengar penjelasan Erli langsung meraih kunci mobil milik ayahnya.


“Kamu mau ke mana?” pekik Rasmi ke pada anak lelakinya.


“Memberi pelajaran berandal itu. Khafi tidak terima dia menyakiti adik Khafi,” katanya pelan tapi tajam.


“Jangan bertindak sembrono. Tunggu ayah selesai menanyai Erli dulu!” cegah Rasmi.


Pemuda itu terdiam dan kembali duduk dengan kecemasan yang melanda hatinya. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Jafar dan Erli keluar.


“Ayo, kita ke rumah Xavier!” ajak Jafar.


“Ibu ikut, ya?” Rasmi menatap sang suami.


“Kamu diam saja di rumah bersama Erli! Ayah sama Khafi saja,” pungkas Jafar pelan.


Begitu sampai di gerbang rumah Xavier, mereka diberhentikan oleh satpam penjaga rumah terbesar di kompleks elite tersebut.


“Mau bertemu siapa?” tanya sopir itu kalem.


“Bertemu Xavier, anak pemilik rumah ini.” Jafar mematikan mesin mobilnya.


“Tuan muda belum kembali,” kata satpam tersebut.


Jafar melirik anak laki-lakinya yang masih duduk di dalam mobil. Ketika Jafar masih berbincang, tiba-tiba sebuah mobil Rolls-Royce Phantom menglakson mereka dari kejauhan.


“Tolong pinggirkan mobilnya Tuan! Itu Nyonya mau masuk,” ujar satpam bertubuh tinggi besar.


Selepas memundurkan mobilnya Jafar buru-buru mengejar orang tua Xavier.


“Tunggu Nyonya!” Jafar berlari menghampiri wanita berpakaian glamor.


“Ada apa?” Terlihat kejudesan wanita itu.


“Ada suatu hal pribadi yang harus kita bicarakan,” kata Jafar kalem, pria paru baya itu menyuguhkan senyuman.


“Banyak yang datang seperti kalian ini, bahkan mereka berlutut memohon kepadaku. Jika kalian ada urusan dengan Xavier silakan berbicara di luar rumah ini!" tandas wanita berambut hitam kecoklatan.


"Sepertinya Nyonya mengetahui maksud kedatangan kami ini,” ucap Jafar.


Ibu Xavier tersenyum sinis mendengar ucapan Jafar. “Mau aku tahu atau tidak, itu tidak penting. Yang jelas aku tidak peduli dengan mainan anakku!”


“Apa maksud Nyonya? Kami ke sini meminta pertanggung jawaban Xavier yang telah menghamili anak kami.”


“Seret mereka keluar dan jangan biarkan mereka menginjak rumahku lagi!” katanya penuh amarah.


“Aku akan menuntut anakmu! Aku pastikan putramu membayar semua perbuatannya,” pekik Jafar yang kini di halangi oleh kedua satpam.


Di sepanjang perjalanan Jafar terus mengomel tiada henti dan pria paru baya tersebut terus-terusan menyebut nama kakaknya yang telah tiada. Sesaat Khafi membelokkan mobilnya masuk ke dalam halaman rumah, Jafar bergegas masuk.


“Keluar kamu dari rumahku! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi,” usir Jafar.


Netra Erli berkaca-kaca sedangkan Rasmi dan Khafi tidak menyangka akan keputusan pria yang selama ini selalu bijak.


“Ayah sadar dengan ucapan Ayah? Jangan ambil keputusan saat emosi!” tutur Rasmi dengan kedua tangannya menggenggam jemari suaminya.


“Jangan membela gadis bodoh ini!” bentak Jafar, “Gadis yang bijak seperti dia terbodohi akan lelaki hidung belang seperti Xavier.


Jafar melotot menatap keponakannya, “Cepat pergi dari sini!”

__ADS_1


__ADS_2