
Handoko melirik toilet dan dia mendongakkan kepalanya ke atas. Setelah memastikan keadaan, Handoko tersenyum seraya berjalan santai mendekati Erli.
Adik kandung Zulaika tersebut berdiri di samping lemari es, "Apa kau masih marah denganku?" tanya Handoko sambil melirik lagi ke arah toilet.
"Untuk apa kau menanyakan hal itu? Tolong, berperilaku 'lah layaknya seorang paman! Agar aku bisa menghormatimu," jawab Erli ketus tanpa menatap wajah pria itu.
"Sikap cuekmu ini membuat jiwaku tidak tenang. Dan ... paras cantikmu menyita seluruh perhatianku," ungkap Handoko tanpa malu-malu.
Mendengar ucapan Handoko membuat pembuluh darah Erli seakan mendidih dan sorot matanya yang tajam mewakili perasaannya saat ini.
"Sebenarnya aku tahu rahasia kalian berdua," pungkasnya seraya melirik istri keponakannya dan ucapan Handoko memberi pertanyaan besar di hati Erli.
Pria paru baya tersebut tersenyum sambil menatap perut Erli berulang kali.
"Apa yang kau tahu?" ujar Erli dengan menyipitkan matanya.
"Semua yang kau simpan," ucap Handoko, "jika kau tidak ingin aku membongkar hal itu, sebaiknya kau menuruti keinginanku!" timpal Handoko lirih.
Erli tertawa kecil selepas mendengar penawaran yang dilontarkan oleh adik ibu mertuanya.
"Kau pikir, aku akan percaya dengan gertakanmu itu? Aku ini bukan anak kecil yang mudah ditipu," kata Erli setengah tersenyum.
Handoko mencondongkan tubuhnya dan berbisik, "Aku tidak main-main dengan ucapanku. Jadi, turuti saja kemauanku!" tandanya.
__ADS_1
"Cih, najis! Aku tidak akan merendahkan harga diriku," cemooh Erli sambil mengelus perut buncitnya.
Meski mendapat penolakan keras dari Erli, Handoko tidak menyerah dan pria paru baya tersebut akan melakukan segala hal demi mencapai keinginannya. Ketika Erli menuangkan susu yang dia panaskan, Handoko menyentuh pinggulnya yang dibalut daster batik berwarna cokelat keemasan.
Sontak Erli melempar souce pan panci yang dia pegang. Bergegas dia melayangkan pukulan telat di hidung Handoko—pukul tangan Erli mengakibatkan hidung pria mesum tersebut berdarah.
"Wanita kurang ajar! berani-beraninya kau memukulku, kau pikir kau siapa di rumah ini?" ucapnya pelan tapi tajam.
"Aku sudah memberi peringatan terhadapmu. Aku juga tidak lupa akan posisiku di rumah ini, lagi pula aku lebih berkuasa di rumah ini dari pada dirimu dan istri manjamu itu!" Pembuluh darah di leher Erli berdenyut keras.
Lagi-lagi Handoko menyentuh tubuh Erli dan kali ini pria mesum tersebut mendekap tubuh istri keponakannya.
"Sikapmu ini sungguh keterlaluan. Akan aku pastikan, kau akan membayar semua perilaku kurang ajarmu terhadapku!" ancam Erli dengan tubuh yang terus meronta.
"Lepaskan aku bangsat!" pekik Erli seraya menendang bagian sensitif Handoko.
Selepas tendangan maut Erli mendarat, Handoko melepas dekapan tangannya dan pria mesum tersebut merintih kesakitan.
"Dasar ******!" Mata Handoko melebar dan bibirnya mengerut.
Erli berdiri tegak dengan tangan yang terus memegangi perutnya yang besar.
"Selama ini aku memilih diam dan tidak menceritakan tentang aksi kurang ajarmu terhadapku. Tapi, setelah kejadian ini aku akan memberitahu Rafan tentangmu dan ... aku yakin dia akan mempercayai semua perkataanku," ancam Erli dengan sorot mata yang tajam.
__ADS_1
Handoko mengatupkan bibirnya sambil menahan rasa ngilu yang dia rasa, tangan kanan Handoko terangkat dan bersiap melayangkan tamparan.
"Apa yang hendak Om lakukan?" Pertanyaan Rania menghentikan pergerakan tangan Handoko yang kurang dari sejengkal saja menyentuh pipi Erli.
Handoko yang kaget segera menurunkan tangannya dan melihat sang keponakan.
"Itu kenapa hidup Om, berdarah?"
"Tadi ... Om menabrak pintu bufet," jawabnya cepat.
"Lalu, Om tadi mau ngapain?" tanya Rania dengan sorot mata yang sendu.
"T-tidak ada. Om t-tidak melakukan apa-apa," sahut Handoko gagap.
"Benarkah Mbak?" Rania melempar pertanyaan ke kakak iparnya.
Erli tersenyum masam mendengar pertanyaan adik iparnya.
"Kok enggak jawab pertanyaan Nia, Mbak?" Rania menatap Erli seraya menaikan alisnya.
"Kamu tanya saja dengannya!" perintah Erli dengan suara datar.
Anak gadis Zulaika kembali menatap Handoko, kali ini sorot mata Rania menajam.
__ADS_1