
Kesedihan Rafan berakhir begitu saja selepas mendengar nasihat Galang yang panjang lebar. Itu sebabnya dia mengendarai mobilnya lumayan ngebut untuk mencari keberadaan sang istri. Saat mobil itu melaju membelah jalanan ponsel Rafan berdering berulang kali.
“Hmm ....” Rafan menjawab panggilan telepon Galang dengan gumaman saja.
“Yakin lo, Mas? Awas aja kalau sampai keliru!” ancam Rafan tanpa memalingkan pandangannya dari jalanan.
“Iya.”
Tanpa basa basi lagi Rafan menutup panggilan telepon tersebut. Beberapa saat kemudian Rafan membelokkan mobilnya masuk ke gang kecil, rumah kecil yang memiliki genteng warna hijau tersebut terlihat tidak jauh lagi darinya.
Seulas senyuman merekah di bibir pointy natural, kerutan kecil di kedua sisi matanya tidak mengurangi ketampanan Rafan. Bahkan kerutan yang ditimbulkan dari senyuman menawan Rafa, menambah kemanisan di wajah pria berambut hitam tersebut.
Degupan di dalam dadanya membuatnya sangat gugup dan tiba-tiba dia menepikan mobilnya di sisi jalan.
“Assalamualaikum. Hai, apa kabar?” Rafan mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi.
“Apa-apaan? Memangnya mau ngajak dugem,” gerutu Rafan sambil merapikan rambutnya yang menjadi kesukaan Erli.
“Assalamualaikum.” Rafan membungkukkan badannya sedikit, “tolong, maafkan semua perbuatan ibu dan segala ucapannya yang telah menyinggung hatimu,” ucap Rafan sambil menyuguhkan senyuman tipis.
Pria itu mengangguk puas dengan latihannya. Mesin mobil pun kembali menyala, Rafan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan pria itu memarkirkan mobilnya tepat di depan kontrakan Erli—yang mana dulu dia ‘lah yang mencarikan rumah ini untuk ditinggali Erli sebelum menjadi istrinya.
Rafan mengetuk pintu rumah istrinya. Sekali, dua kali dan tiga kali; tidak ada jawaban. Pria itu berjalan ke samping rumah mengintip jendela kamar yang biasa Erli tempati.
Dari luar tidak ada pergerakan siapa pun dan kamar itu terlihat kosong, tapi barang-barang Erli masih tertata rapi. Rafan melirik rumah tetangganya yang juga terlihat sepi senyap.
“Ke mana mereka? Apa mungkin mereka pulang ke Bandung? Tapi, kenapa barang-barangnya tidak dibawa?" lirihnya dalam kebingungan.
Kaki panjangnya kembali berjalan dan ketika sampai di depan rumah, Rafan mendudukkan dirinya di kursi teras sesekali netranya melirik ke dalam rumah kecil tersebut.
Untuk menghilangkan rasa jenuhnya Rafan memainkan game yang biasa dia mainkan. Semula dia cukup terhibur dengan game itu, tapi lama-lama pria itu merasa bosan.
Matanya berkelana melihat sekeliling, berharap ada seseorang yang lewat yang bisa dia tanyai tentang keberadaan istri dan juga anaknya. Kepalanya tertunduk dan netra hanzel-nya menatap sebuah jam tangan yang melingkar di tangan kiri.
Jarum jam menunjukkan pukul 22.11 menit, rasa khawatir menyelimuti hati Rafan. Betapa gelisah-nya dia memikirkan istrinya yang entah berada di mana dia sekarang,
__ADS_1
Rafan berdiri dan membuka pintu mobil, ketika hendak masuk ke dalam mobil gendang telinganya mendengar suara tawa yang sangat familier. Dengan cepat pria itu menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.
Tanpa sadar dia berlari kecil dan menghamburkan pelukannya kepada sang istri yang tengah asyik bercanda dengan Khafi. Khafi yang jengah memalingkan pandangan dan meninggalkan mereka berdua, begitu pula dengan Rasmi dan Jafar.
Kedua orang tua sambung Erli tersebut memberi ruang untuk sepasang suami istri itu untuk mengobrol. Rafan melonggarkan pelukannya dan menatap lekat-lekat wajah Erli—wanita yang sangat dia rindukan.
Jemari besar Rafan mengelus rambut Erli yang tergerai, tatapan mata yang sayu menambah kepiluan di hati Erli.
“Kau tidak merindukanku? Kenapa tidak menerima telepon dariku? Begitu besarkah rasa benci mu kepadaku?” berondongnya sambil meletakkan tangan melingkupi kedua pundak Erli.
Rafan berharap mendapat jawaban dari segala pertanyaan, alih-alih menjawab istrinya itu malah menangis dalam diam. Buliran air matanya sebagai jawaban dari segala pertanyaan yang dilontarkan Rafan.
Rafan mendekap tubuh mungil istrinya dan diletakkan kepala Erli di depan dadanya. Seruan detak jantung Rafan membuat Erli menangis menjadi-jadi.
“Hei, kenapa kau membuang air matamu yang berharga?” Menundukkan kepala demi melihat wajah sang istri.
“Sudah jangan menangis lagi!” sambungnya sambil mengecup ujung kepala Erli.
“D-dari mana ... Mas t-tahu bahwa aku berada di sini?” tanya Erli tergagap-gagap.
“Bukannya menjawab pertanyaanku, ini kamu malah sibuk menodongku dengan pertanyaan lain!” protes Rafan dengan tangan yang mencubit hidung sang istri.
“Aku takut ....” Menatap wajah Rafan sekilas dan kembali menundukkan kepalanya.
“Takut?” Mengintip wajah Erli yang tertekuk.
Perlahan Erli mengangguk mengiyakan perkataan Rafan.
“Apa yang membuatmu takut?” Menuntun Erli duduk di dalam mobil.
“Aku takut ... takut mendengar keputusan Mas tentang hubungan kita ini,” ungkap Erli dengan segala kesibukannya.
“Erli ... jodoh terakhir Rafan." Kedua tangan Rafan menakup sebagian wajah Erli, "jangan memikirkan hal negatif! Aku masih suamimu,” cetus Rafan seraya menepuk pelan kepala istrinya.
***
__ADS_1
Di tempat berbeda dan di ruangan berbeda juga. Terlihat Xavier yang menyibukkan dirinya di ruang GYM pribadinya. Dari lari di treadmill sampai angkat besi dan kegiatan olahraga lainnya.
Mata Xavier melirik ke sumber suara. Derap langkah kaki yang baru memasuki ruang GYM yang mana, dia claim sebagai ruangan pribadinya setelah kamar dan kantor.
“Stop!” cegah Xavier seraya memberhentikan kakinya aktivitasnya.
Bak alat elektronik yang memiliki remot kontrol, Sobin berhenti dan mematungkan dirinya di ambang pintu. Xavier beranjak dan menarik handuk kecil di tasnya.
Dengan lembut Xavier menyekat keringat yang membanjiri seluruh tubuh dan wajahnya.
“Apa yang ingin kau laporkan?” Menenggak orange jus.
Sobin membungkuk dan berbisik di telinga Xavier. Anak orang terkaya ke 4 di Ibu Kota tersebut mendengarkan dengan saksama semua laporan dari kaki tangannya.
Sobin kembali berdiri tegap menatap tuan mudanya yang masih duduk mematung.
Xavier mendongak menatap Sobin dan berkata, “Buat pertemuanku dengannya bagai pertemuan tidak terduga. Dan ingat! jangan sampai dia curiga kalau ini adalah rencanaku.”
Xavier mengibaskan sebelah tangannya, ketika dia bangkit dari duduknya. Kepala Xavier terasa pusing dan pandangan matanya memudar, berulang kali dia mengusap matanya masih belum kembali normal.
Tiba-tiba Xavier terjatuh dan hidungnya mengeluarkan darah, semua bodyguard yang menjaganya berlari menghampirinya.
“Anda harus ke rumah sakit, Tuan Muda!” saran Brian kaki tangan sekaligus sahabatnya sejak kuliah dulu.
Alih-alih menerima saran temannya, Xavier malah membentak Brian.
“Tidak! Bawa saja aku pulang!” Tubuh Xavier semakin melemas dan napasnya tercekat.
Semua bodyguard-nya panik melihat anak bosnya tidak sadarkan diri. Brian yang memiliki hubungan yang paling dekat langsung mengambil tindakkan membawa sahabatnya menuju rumah sakit terdekat dari gedung pusat kebugaran tersebut.
“Bertahanlah Vier! Gue yakin lo bisa melewati ini lagi," kata Brian sambil memegang erat tangan temannya.
Tampak gurat kekhawatiran di wajah pria itu dan mulutnya tidak berhenti merapalkan doa untuk teman sekaligus bosnya.
“Tidak bisakah kau menambah laju mobil ini, huh!” bentak Brian dengan mata yang melotot.
__ADS_1
Happy Readers bestie online-ku.
Terima kasih telah mendukung Ria sampai saat ini. Tanpa kalian mungkin Ria tidak memiliki semangat menulis lagi.