
Pertemuan kedua mereka memberi kesan yang baik di hati mereka masing-masing dan sejak saat itu Erli dan Rafan sering bertemu. Ketika Rafan hendak berpamitan kepada Erli, saat dia melihat Xavier menemui Erli langkahnya terhenti dan mendengar percakapan mereka.
Rafan tidak bermaksud menguping pembicaraan mereka, hanya saja dia tidak mau pemuda itu berbuat kasar pada perempuan yang dia sukai.
“Cukup! Aku tidak mau mendengar ucapanmu lagi. Jangan kau repot-repot mengurus hidupku dan anakku, segera pergi dari hadapanku!” lanjut Erli dengan nada suara yang meninggi.
“Oh, ya. Tidak perlu kau menemui ku lagi! Aku akan mengurus hidupku tanpa merepotkan pria pecundang sepertimu,” hardik gadis itu sembari pergi meninggalkan Xavier.
“Baiklah, jika itu mau mu. Ingat baik-baik! Sampai kapanpun aku tidak akan mengakui anak itu sebagai anakku, camkan itu!” kata Xavier pelan tapi tajam.
Rafan yang berdiri tidak jauh dari mereka terpaku ketika mendengar pembicaraan Erli dan Xavier.
Jadi ... Dia hamil? Dan pemuda itu, ayah dari anak yang dia kandung? Batin Rafan.
Pria yang berusia tiga puluh dua tahun tersebut termangu menatap Erli yang terus berjalan tanpa menghiraukan ucapan Xavier. Tanpa sepengetahuan Erli, Rafan mengikuti gerak langkahnya sampai dia berhenti di sudut taman yang sepi dari pengunjung, Rafan merogoh saku celananya meraih ponsel dan menelepon Erli.
Assalamualaikum, salam Rafan lembut.
*Waalaikumsalam, Anda sudah sampai di taman*? Tanya Erli pelan sembari mengatur suaranya yang terisak.
Hmm, kamu di mana? Rafan kembali melontarkan pertanyaan.
*Saya ... saya masih di jalan. Tunggu sebentar! Taksi yang saya tumpangi bannya bocor*, kata Erli gugup.
Tanpa basa-basi Rafan menutup sambungan teleponnya, Erli menatap berulang kali layar ponselnya dan gadis itu membenamkan wajahnya di antara kedua tangan yang terlipat di atas kakinya yang tertekuk.
“Maafkan saya!” ucap Erli pelan, lagi-lagi gadis itu menangis merenungi nasibnya yang telah hancur.
“Kenapa kamu bohong?” Pertanyaan Rafan membuat Erli terkejut dan seketika gadis itu menatap Rafan yang telah berdiri di sampingnya.
“Anda?”
“Maafkan aku! Bukan maksudku menguping pembicaraan kalian.” Rafan menyodorkan sapu tangannya.
Ragu-ragu Erli mengambil sapu tangan Rafan yang berwarna coklat.
“Tidak apa-apa. Lagi pula Anda telah mengetahui sepenggal kisah saya sepuluh hari yang lalu,” tutur Erli kalem.
Tangan pria itu hendak menyentuh kepala Erli, tapi terhenti begitu saja karna dia merasa tindakan itu tidak pantas dia lakukan.
__ADS_1
“Menikahlah denganku! Insya Allah aku akan menjaga kamu dan dia,” kata Rafan seraya menatap intens gadis yang duduk di sebelahnya.
Erli melirik tajam Rafan dan alis gadis itu hampir menyatu selepas dia mengernyitkan keningnya.
“Jangan main-main!” cetus Erli terkekeh.
“Aku serius dengan ucapan ku. Selama ini aku tidak pernah berkata bohong,” pungkas Rafan.
“Sudah, aah. Ayo, kita makan siang di restoran yang mahal. Saya yang traktir,” ajak Erli seraya menyuguhkan senyuman termanisnya.
Rafan menarik lengan baju Erli dan tatapan sayu Rafan mampu membuat Erli membeku.
“Di mana rumah orang tuamu, saat ini juga aku akan melamar dirimu.” Tatapan Rafan terfokus ke kedua bola mata Erli.
Erli yang terduduk membeku tiba-tiba melayangkan tamparan keras ke pipi Rafan.
“Jangan kau pikir aku ini perempuan murahan seperti perempuan di luar sana. Memang saat ini aku hamil di luar nikah, tapi ... aku tidak mau menerima belas kasihan orang lain cuma karna hal ini!” tukas Erli penuh amarah.
Rafan terdiam mendengar ucapan Erli, pria berusia tiga puluh dua tahun tersebut berdiri dan menarik Erli, semua pengunjung yang melihat kejadian itu terus menatap mereka dengan tatapan penuh penasaran.
“Lepas, jangan membuat hal-hal yang aneh!” keluh Erli sembari memukul lengan Rafan.
“Dengarkan ucapan ku ini!” imbuh Rafan, “aku Rafan Winasis berjanji. Akan menikahi gadis yang berdiri di hadapanku ini,” pekik Rafan tanpa malu-malu.
Semua pengunjung bersorak dan terdengar teriakan serta tepuk tangan yang bergemuruh.
“Terima, Terima!”
“Ayo, cepat terima!” seru beberapa pengunjung dengan suara yang menggelegar.
Erli menatap semua orang yang melingkar di sekitarnya.
“Anda memang kurang ajar!” bisik Erli.
“Aku serius. Tidak ada niatan di hatiku untuk menghina dirimu,” pungkas Rafan pelan.
“Ayo, terima! Kami menunggu ...,” teriak pengunjung, tidak banyak dari mereka mengabadikan momen ini dengan ponsel android.
Tidak mungkin aku mempermalukannya di depan umum, dan lagi ... mereka semua merekam hal ini. Apa jadinya jika aku tolak lamaran yang mendadak ini, gumam Erli dalam hatinya.
__ADS_1
Sedikit ragu-ragu Erli menjawab lamaran Rafan.
“Iya, aku terima lamaran Anda.” Erli melihat sekeliling dan menyunggingkan senyuman.
“Alhamdulillah, selamat Kang!” pekik salah satu pengunjung.
“Selamat untuk kalian berdua,” sahut pengunjung lainnya.
Selepas menjawab lamaran Rafan, Erli mengajak pria itu pergi dari pusat taman. Merasa sudah jauh dari lautan manusia Erli memberondong Rafan dengan banyak pertanyaan.
“Apa maksud Anda melakukan hal itu? Anda sadar dengan perbuatan Anda?” tambah Erli, “jawab pertanyaan saya! Jangan diam kaya patung yang tidak bernyawa,” bentaknya dengan mata yang melotot.
“Aku melakukan ini karna kata hatiku. Kamu tidak perlu semarah ini, pikirkan kehormatan mu dan masa depan janin yang ada di dalam rahimmu itu!” Telunjuk Rafan mengarah ke perut Erli yang masih datar.
Erli sejenak terpaku mendengar ucapan Rafan dan seper detik kemudian gadis itu kembali berbicara.
“Ini bukan urusan Anda. Dan ... aku tidak mau di kasihani!” ucap Erli penuh penekanan.
“Mungkin saat ini sampai delapan bulan ke depan, kamu bisa setangguh ini. Tetapi ... saat dia lahir dan besar nanti, akankah dirimu bisa menjawab pertanyaannya, tentang keberadaan ayahnya?” timpal Rafan, “bisakah kamu menahan rasa kecewanya, saat dia mengetahui bahwa dia terlahir atas kebodohan ibunya yang termakan rayuan lelaki hidung belang.”
Langit seakan runtuh dan petir seakan menyambar ketika mendengar ucapan Rafan, pukulan itu tepat di hati Erli, tanpa sadar buliran itu menetes dan dengan cepat Erli menyekat air matanya.
“Bisa kamu hidup dalam keterpurukan seperti ini?” tanya Rafan pelan.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” Erli menatap wajah Rafan.
“Menikahlah denganku! Kita buat perjanjian agar kamu bisa hidup nyaman tanpa ada ketakutan di kemudian hari saat hidup bersama denganku,” usul Rafan sembari menunjukkan KTP-nya kepada Erli.
“Untuk apa ini?”
“Biar kamu yakin kalau aku ini bukan penipu.” Lagi-lagi Rafan menatap Erli dengan teliti.
\*\*\*
“Kalau di pikir-pikir lagi. Suamiku itu gila pada waktu itu,” kata Erli lirih.
“Apa maksud ucapanmu?”
Erli menatap sosok pria yang selama ini dia kagumi.
__ADS_1
“K-kenapa Anda b-berada di sini?” Netra Erli melebar dengan suara tergagap dia bertanya.