Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Tindakan Sang Mantan


__ADS_3

Erli yang masih menggendong anaknya bangkit dari tempat duduk dan berjalan kesisi kamar, dia mencoba mencari keberadaan orang yang telah memanggil namanya.


“Siapa? Jangan membuatku takut!” kata Erli seraya membuka korden kamar.


“Ini gue.”


“Gue siapa? Jangan main-main!” ucapnya geram.


“Setelah gue muncul, lo harus bersikap tenang tanpa membuat ekspresi terkejut sedikitpun!” pinta orang itu yang masih berjongkok di samping lemari mencari sesuatu.


"Hmm, aku janji!” Erli mengangguk kecil menyetujui permintaan orang tersebut.


Muncullah seorang pria yang menggunakan seragam keamanan rumah Safwan.


Mata Erli melebar saat menangkap sosok pria yang dulu menjadi kekasihnya waktu SMA.


“Lo apa kabar, Er?” tanya pria itu lirih.


“A-aku ... baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Apa kau suda menikah?” Pertanyaan yang membuat Bima canggung.


“Hmm,” gumamnya sambil tersenyum tipis.


“Gue enggak nyangka bisa lihat lo di sini.” Menelisik Erli dengan penuh tanda tanya.


“Beruntungnya orang yang menjadi istrimu,” ucap Erli tanpa sadar.


Perkataan Erli membuat Bima terkejut bukan main, manta pertama bagi Bima dan sebaliknya bagi Erli. Mereka dulu sepasang kekasih yang sangat bahagia, tapi kebahagiaan itu hilang karena Bima harus pindah sekolah mengikuti ayahnya yang dipindahkan tugas di luar kota.


Ayah Bima; seorang perwira TNI di negeri ini, prestasi yang dicapai ayahnya tidak diturunkan kepada anak lelakinya—Bima Adiprama, orang yang sangat dicintai oleh Erli masa sekolah SMA dulu.


“Ok selesai," ucap Bima yang menangkap dua hamster peliharaan Safwan.

__ADS_1


"Maaf membuat lo kecewa di masa lalu. Jujur saat itu gue marah pada mama dan juga papa gue,” tutur Bima sambil mengambilkan dot yang terjatuh dari tangan Erli.


“Yes oke,” kata Erli seraya tersenyum tipis.


“Bagaimana bisa kamu bekerja di tempat ini?” Erli menundukkan kepalanya menatap sepasang kaki Bima yang mengenakan sepatu boots.


Pria itu melangkah mundur beberapa langkah, "Sorry bukan bermaksud apa-apa," ucap Bima sambil menunjuk kamera pengawas di pojok kamar dan beberapa titik.


Erli mengikuti arah yang ditunjukan oleh Bima, seakan tidak terkejut pasalnya dia sudah meneliti tepat ini saat dia siuman pasca pingsan dibawa ke tempat ini.


“Lo jangan khawatir! Nanti tepatnya tengah malam, gue akan bawa lo keluar dari sini." Bima berbalik memunggungi Erli yang masih menimang bayinya.


“Seriusan?” ujar Erli penuh semangat.


“Pelan 'kan suara lo! Tunggu aba-aba dari gue, ingat tengah malam nanti jangan tertidur.” Bima mengingatkan mantan kekasihnya.


Sontak Erli mengangguk kegirangan mendengar hal itu, selama beberapa hari di sini membuatnya suntuk, stres dan sedikit tertekan. Setiap Safwan masuk ke kamar itu, dia selalu menanyakan keputusan yang Erli ambil. Erli ya Erli, wanita itu tetap pada pendiriannya, menolak semua penawaran dan mempertahankan rumah tangganya yang tidak tahu bagaimana ke depannya.


Jam terus berputar tanpa henti kini jarum jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Hati Erli gelisah bukan main, saat dia masih terjaga terdengar suara derap langkah kaki berhenti di depan pintu kamarnya.


"Permisi!" Suara dibalik pintu membuyarkan lamunan Erli.


"Iya, silakan masuk Sus!" sahut Erli dari dalam kamar.


aku pikir itu Bima. Di mana kamu, Bim? gumam Erli dalam hati.


"Saya periksa dulu ya, Nyonya." Dokter pribadi Safwan membuka perban yang membalut jahitan Caesar Erli.


"Lumayan cepat kering jahitannya. Di jaga pola makannya dan jangan lupa minum obat secara teratur," ucap dokter pribadi Safwan penuh basa-basi.


Erli lelah mendengar formalitas dokter pribadi Safwan, dia sangat tahu bahwa dokter ini tidak sepenuhnya baik terhadap dirinya, pernah dia mendengar gumaman dokter itu yang merendahkannya.

__ADS_1


"Tuan muda kecil juga sangat sehat, besok pagi sudah bisa melepas ventilator dan juga infusnya."


ini orang tidak ada kerjaan apa, ya? ini kan hampir tengah malam, gerutu Erli sambil melirik dokter tersebut.


"Apa yang Anda lihat, Nyonya?" tanya dokter tersebut.


"Kamu siapa?" Sorot mata Erli menajam.


Dokter itupun memalingkan wajahnya dan hak itu menambah kecurigaan di hati Erli.


"Jika kamu tidak mengaku aku akan berteriak memanggil penjaga di rumah ini!" ancam Erli dengan mata yang melotot.


Tiba-tiba dokter itu menggerakkan tangannya pelan dan itu diperhatikan oleh Erli, lantas dia menatap wajah pria yang berdiri tidak jauh dari ranjangnya.


"Bima!" kata Erli dengan mata yang melebar.


Segera Bima menyimpan jati telunjuknya di bibir. Gerakan yang dilakukan Bima adalah sebuah kode rahasia yang pernah mereka lakukan saat masih berpacaran dulu, gerakan tangan yang memberi informasi diri.


"Astagfirullah, kamu masih ingat dengan kode rahasia kita." Erli mengikat rambutnya yang berantakan.


"Cepat kenakan baju dan jaketku itu," tunjuk Bima dengan jarinya.


perlahan Erli turun dari ranjang tempat tidurnya menuju ke depan pintu kamar, sedangkan Bima membantu baby E mengenakan baju beserta jaket kecil. Selepas semua perlengkapan mereka siap, Bima membawa mereka keluar dari kamar itu tanpa sepengetahuan Safwan dan staf keamanan lainnya.


Ketika mereka sampai di pintu utama tanpa sengaja Erli menyenggol vas bunga yang terletak di bufet kaca, reflek Bima menjatuhkan diri untuk menangkap vas bunga itu. Beruntung benda itu bisa diraih Bima sehingga mereka bisa keluar dengan aman.


"Lo tunggu gue di sini, jangan kemana-mana!" titah Bima sebelum meninggalkan Erli di samping pilar.


Erli melihat punggung pria itu yang semkin menjauh darinya.


Beruntung aku ketemu kamu, Bim. Terima kasih sudah mau bantu aku keluar dari neraka ini, ucap Erli dalam hatinya.

__ADS_1


Erli masih terbengong di tempatnya, tanpa dia sadar ada seorang pengawal Safwan yang melihat bayangannya. Pelan tapi pasti pria itu berjalan mengendap-endap mendekati Erli yang masih berdiri di samping pilar depan rumah megah Safwan.


__ADS_2