Cerita Di Balik Tirai

Cerita Di Balik Tirai
Sisi Lain Penguasa


__ADS_3

Tiga hari sebelum pertemuan Bima dan Erli, Semua pengawal Safwan diperintahkan untuk mengetatkan penjagaan rumah. Kebetulan Rojak dan Bima pada sore itu mendapat tugas malam.


“Apa Tuan memiliki tamu WNA, lagi?” tanya Bima sambil mengisap rokok.


“Sepertinya,” jawab Rojak tanpa memalingkan pandangannya.


“Bakalan kagak tidur lagi ini kita,” kata Bima sambil menginjak putung rokok.


“Lo ya, ngeluh muluk kerjaannya. Syukuri dan nikmati semua yang ada dalam hidup lo!” ujar Rojak menasihati.


“Udah setiap hari gue bersyukur,” sahut Bima malas.


“Mereka udah datang, Bang!” tunjuk Bima dengan dagunya.


Seluruh anggota keamanan berdiri tegap menyambut mobil yang masuk ke dalam halaman rumah Safwan.


“Nah loh, kenapa mobil ambulans? Nyonya sakit lagi, Bang?” bisik Bima lirih.


“Diem!” bentak Rojak lirih.


Seketika Bima membungkam mulutnya dan memfokuskan pandangan menatap 3 mobil yang baru saja datang. Netra pria itu melotot saat melihat sosok Erli yang digendong keluar dari ambulans dan yang paling mengejutkan lagi, dia mendengar ucapan dokter pribadi Safwan yang menyinggung status baby E.


Jadi, dia sudah memiliki anak? Pikirnya.


“Bim, panggil anak baru itu kemari!” Rojak mengulang ucapannya dua kali.


Namun, perkataannya tidak didengar oleh Bima, bahkan temannya itu masih terbengong dengan menggigit kuku jari kanannya.


“Bima cepat!” pekik Rojak di samping telinga.


Refleks Bima berlari, ketika dia sadar; langkah kakinya terhenti dan kepalanya menoleh ke belakang.


“Aah sial!” maki Bima untuk dirinya sendiri.


“Pe’ak, gue nyuruh Lo panggil Yunho kemari.” Rojak mengerutkan kening.


Ini kesempatan untuk gue, menyelidiki wanita itu. Dia benar Erli yang gue kenal bukan, batin Bima yang masih berjalan menyusuri taman belakang.


Usaha Bima mengambil jalan memutar menuju ruang keamanan tidak sia-sia. Sekilas dia mendengar obrolan kaki tangan Safwan yang menyebut nama Erli dan harus dijaga ketat.

__ADS_1


Itu artinya dia memang Erli yang aku kenal 9 tahun yang lalu. Astaga Erli, kita dipertemukan dalam situasi yang sulit ini. Bima kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang staf keamanan.


***


Benar saja, orang yang berjalan mendekati mereka itu Safwan—orang yang miliki kendali besar di hidup mereka.


“Kalian ikut denganku!” ucap Safwan dengan suara beratnya.


Dengan berat hati Bima dan Rojak mengikuti bosnya yang masuk ke ruang perpustakaan. Ketika memasuki ruangan tersebut aura yang mencekam seakan memberi suasana ketegangan, ditambah lagi sorot mata Safwan yang tajam seakan mengirim ratusan pisau yang menikah dari segala arah.


“Kenapa kalian tidak duduk?” Mengeluarkan cerutu dan pematiknya.


Sontak Bima dan Rojak melempar pandangan, tidak mendapat respons dari bodyguard-nya Safwan melempar pematik cerutunya. Suara benda yang jatuh membuat dua orang itu terkejut, tapi wajah mereka tetap tenang walau dalam kekhawatiran.


“Kalian pikir bisa mengelabuhiku dengan mengalihkan kamera pengawas di rumah ini,” kata Safwan datar.


“Ini salah saya, Tuan. Pak Rojak tidak terlibat dalam hal ini,” sahut Bima sambil berlutut di depan meja kerja Safwan.


Safwan menarik sudut bibirnya dan terlihat smrik di wajah pria yang berusia 63 tahun tersebut.


“Aku tidak suka penjilat.” Melihat Bima sebentar lalu mematikan cerutu yang sejak tadi dia isap.


“Beri Bima kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, Tuan.” Rojak memohon dengan wajah sayu.


Bima dan Rojak terperanjat melihat bosnya memberi uang begitu banyak.


“Untuk apa ini, Tuan?” tanya Rojak dengan kepala yang mendongak sedikit.


“Bunuh dia sekarang!” titah Safwan.


Pria tua itu beranjak dari tempat duduknya dan bergerak mendekati dua bodyguard andalnya.


“Kau tidak mampu melaksanakan perintahku?” tanya Safwan dengan tangan kiri di pinggang.


Mendengar perintah Safwan, Bima melirik Rojak dan mengangguk kecil, anggukan Bima memberi isyarat bahwa dia setuju akan ucapan bosnya. Dia sanat mengerti akan prinsip Safwan, selama 4 tahun dia mengabdikan diri itu sebabnya dia mengerti akan watak Safwan yang tidak suka dibantah.


“Cepat lakukan, Bang!” kata Bima lirih.


“Tidak aku tidak setuju dengan perintahnya kali ini!” tegas Rojak dengan kepala mendongak menatap wajah bosnya.

__ADS_1


“Bodoh! Kalau kau tidak melukannya, lo juga akan tewas. Bagaimana dengan Kak Fatma?” decit Bima dengan mata yang melotot.


Rojak merangkak dan mengiba memohon keringanan untuk Bima—orang yang selama ini dia anggap adik sendiri.


“Kalau begitu, kau saja yang aku bunuh sebagai gantinya!” Tersenyum dengan bibir rapat.


“Iya, bunuhlah aku!” usul Rojak tanpa penyesalan.


“Ha-ha-ha ....” Safwan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah keda bodyguard-nya.


Tentu saja dua pria itu terkejut, pasalnya Safwan tertawa lepas tanpa beban. Selama ini bosnya itu selalu bersikap tegang dan disiplin, terlebih lagi Safwan tidak pernah tertawa seperti itu walau ada suatu hal yang sangat lucu.


“Astaga, baru kali ini aku melihat wajah bodoh kalian. Sudah berapa kalian bekerja denganku?” tunjuk Safwan dengan wajah semringah.


“Empat tahun Tuan,” jawab Bima selepas bosnya melontarkan pertanyaan.


“Kalau kau?”


“Sembilan tahun,” sahut Rojak kalem.


Safwan menepuk bahu Rojak dan Bima secara bersamaan.


“Aku tidak menyangka kau akan mengkhianatiku. Kau bebaskan tawananku dan bersikap tenang saja di hadapanku, kau memiliki nyawa lebih dari satu, huh?” Safwan memotong ujung cerutunya dan segera mengarahkan pematiknya di ujung cerutu.


***


Rafan membaringkan tubuhnya di atas kap depan mobilnya. Wajahnya menghadap langit hitam yang luas dihiasi bintang-bintang yang bercahaya cantik.


“Pantas saja kau suka melakukan ini,” tutur Rafan pelan sambil menyimpan kedua tangannya di bawah kepalanya.


Masih berkutat dengan pikirannya, tiba-tiba ponsel Rafan berdering. Segera dia merogoh saku jaket dalamnya dan pria berambut berantakan itu mengusap kasar wajahnya kala melihat nomor telepon yang tidak dikenal meneleponnya.


“Halo ...,” sapa Rafan ramah.


“Bisa saya berbicara dengan pemilik ponsel ini?” ucap sopir taksi di seberang telepon.


“Iya saya sendiri, ada yang bisa saya bantu?” tanya Rafan terkekeh.


“Apa? Di mana posisi Anda saat ini?” Beberapa detik lalu Rafan mematung akibat pernyataan dari seseorang.

__ADS_1


“Baik, tunggu saya di sana. Ingat jangan ke mana-mana!” pesan Rafan.


Bergegas Rafan turun dan mengendarai moilnya membela jalan raya yang dipadati kendaraan.


__ADS_2